Inibaru.id - Dalam kebudayaan Jawa, tuk atau mata air adalah bagian penting dalam kehidupan. Nggak terkecuali bagi warga Pakintelan, Kecamatan Gunungpati, Kota Semarang, Jawa Tengah. Ia adalah warisan yang menopang hidup sekaligus pengingat agar manusia nggak lupa batas dalam memanfaatkan alam.
Kesadaran itu dirayakan masyarakat setempat, salah satunya melaui tradisi Merti Sendang Curug Sari yang tahun ini digelar pada akhir pekan lalu, Minggu (11/1/26). Sejak pukul 08.00 WIB, sekitar 600 warga Pakintelan telah berkumpul di Taman Toga Sironjang untuk mengawali kirab budaya tahunan tersebut.
Sebagian besar peserta kirab berasal dari RW 1, tepatnya dari RT 1 hingga 4. Mereka adalah para pengguna tujuh tuk yang tersebar di Pakintelan, yang sehari-hari memanfaatkan sumber air tersebut untuk menopang kebutuhan rumah tangga, pertanian, hingga ternak.
Berbalut busana adat Jawa dengan beragam corak dan warna, mereka mulai bergerak bersama seiring dengan pelepasan kirab sekitar 30 menit kemudian. Turut hadir dalam pelepasan Camat Gunungpati Ali Ahmadi, Lurah Pakintelan Sapto Laksono, Ketua RW 1 Sipit Daryono, serta para ketua RT setempat.
Jalannya Kirab Merti Sendang
Sebagaimana tahun-tahun sebelumnya, kirab yang mengular hingga ratusan meter itu berlangsung meriah. Pada bagian depan, sepasang kuda menuntun rombongan. Kedua kuda itu ditunggangi Ketua LPMK Pakintelan Madhik Masdhana dan Ketua Paguyuban Sendang Curug Sari Dhidhik Kushandaka.
Di belakangnya, dentum dan denting ritmis drum band yang ditabuh para siswa dari SDN Pakintelan 01, 02, dan 03 menjadi musik pengiring yang membuat kirab berlangsung meriah. Menyusul kemudian barisan pembawa bendera Merah-Putih dan panji peguyuban oleh para pemuda desa.
Pemandangan paling khidmat tampak pada barisan para "ibu sepuh" yang menggendong tujuh kendi berisi air dari tujuh mata air di Pakintelan. Di belakang mereka, dua gunungan hasil bumi seperti durian, pisang, hingga sayuran ikut diarak.
Rute kirab yang ditempuh cukup panjang, yakni sekitar tiga kilometer dengan durasi waktu hampir satu jam, sebelum tiba di pelataran Sendang Curug Sari. Selanjutnya, rangkaian acara dibuka dengan menyanyikan lagu "Indonesia Raya" hingga doa lintas agama.
Merawat Air, Merawat Kehidupan
Puncak merti ditandai dengan prosesi penyerahan tujuh kendi air dari para lansia kepada tujuh gadis. Air itu kemudian diserahkan kepada para sesepuh desa untuk dituangkan ke berbagai tempat yang sarat makna.
Air pertama dituangkan ke gentong padasan sebagai simbol kesucian sebelum beribadah. Air kedua ke gentong dapur, lambang kebutuhan dasar rumah tangga. Air ketiga disiramkan ke pohon durian, penanda ketergantungan warga pada hasil bumi.
Air keempat menuju kandang ternak, air kelima ke adukan pasir semen sebagai simbol mata pencaharian warga, air keenam kembali ke sendang sebagai pesan tentang budaya menabung air. Sementara isi kendi terakhir dituang ke makam leluhur sebagai wujud kirim doa serta penghormatan pada akar kehidupan.
Ketua Paguyuban Sendang Curug Sari, Dhidhik Kushandaka menyebut, tema nyadran kelima ini mengangkat tentang guyub rukun golek banyu apikulan warih. Dalam bahasa Jawa, "guyub rukun" berarti saling membantu, sedangkan "golek banyu apikulan warih" adalah peribahasa Jawa yang mengajarkan bahwa untuk menemukan kebaikan harus berbekal kebaikan.
"Kampanye yang ingin disampaikan sederhana, yakni bahwa merawat air sama artinya dengan merawat kehidupan," tutur Dhidhik kepada Inibaru.id, Senin (12/1).
Budaya 'Nggodog Wedang'
Dalam Merti Sendang Curug Sari tersebut, nggak lupa Dhidhik juga mengingatkan tentang pentingnya air bersih dalam kehidupan sehari-hari. Mengacu buku Reset Indonesia, dia mengatakan, sekitar 80 persen penduduk kota harus mengandalkan air kemasan.
"Ini terjadi karena telah tercemarnya sumber air di perkotaan; membuat budaya merebus air minum menjadi asing bagi warga kota," lontarnya.
Karena itulah dia mengajak masyarakat untuk membiasakan nggodog wedang (merebus air minum) sendiri alih-alih bergantung pada air kemasan. Syaratnya, tentu saja dengan menjaga sumber air dan nggak mencemari lingkungan.
"Selain lebih hemat energi dan biaya, kebiasaan 'nggodok wedang' lebih ramah lingkungan di tengah persoalan sampah plastik dan konsumsi gas rumah tangga yang tinggi," sebutnya sebelum acara merti sendang benar-benar berakhir.
Merti Sendang Curug Sari berakhir dalam suasana yang sederhana, tapi terasa hangat saat warga duduk bersama menikmati nasi berbungkus daun jati. Dengan kampanye yang relevan untuk masa kini, semoga tradisi ini terus lestari ya, Gez! (Sundara/E10)
