BerandaTradisinesia
Rabu, 13 Jan 2026 13:01

Merti Sendang Curug Sari dan Kampanye 'Nggodog Wedang' Warga Pakintelan Semarang

Seorang tokoh masyarakat saat menuangkan air dalam kendi ke sungai dalam tradisi Merti Sendang Curug Sari. (Dok Paguyuban Sendang Curug Sari)

Merti Sendang Curug Sari menjadi sarana kampanye lingkungan warga Pakintelan sekaligus komitmen untuk merawat sumber air, menjaga tradisi, dan memperkuat kebersamaan lintas generasi. Salah satu kampanye yang didengungkan adalah budaya 'nggodog wedang'.

Inibaru.id - Dalam kebudayaan Jawa, tuk atau mata air adalah bagian penting dalam kehidupan. Nggak terkecuali bagi warga Pakintelan, Kecamatan Gunungpati, Kota Semarang, Jawa Tengah. Ia adalah warisan yang menopang hidup sekaligus pengingat agar manusia nggak lupa batas dalam memanfaatkan alam.

Kesadaran itu dirayakan masyarakat setempat, salah satunya melaui tradisi Merti Sendang Curug Sari yang tahun ini digelar pada akhir pekan lalu, Minggu (11/1/26). Sejak pukul 08.00 WIB, sekitar 600 warga Pakintelan telah berkumpul di Taman Toga Sironjang untuk mengawali kirab budaya tahunan tersebut.

Sebagian besar peserta kirab berasal dari RW 1, tepatnya dari RT 1 hingga 4. Mereka adalah para pengguna tujuh tuk yang tersebar di Pakintelan, yang sehari-hari memanfaatkan sumber air tersebut untuk menopang kebutuhan rumah tangga, pertanian, hingga ternak.

Berbalut busana adat Jawa dengan beragam corak dan warna, mereka mulai bergerak bersama seiring dengan pelepasan kirab sekitar 30 menit kemudian. Turut hadir dalam pelepasan Camat Gunungpati Ali Ahmadi, Lurah Pakintelan Sapto Laksono, Ketua RW 1 Sipit Daryono, serta para ketua RT setempat.

Jalannya Kirab Merti Sendang

Sebagaimana tahun-tahun sebelumnya, kirab yang mengular hingga ratusan meter itu berlangsung meriah. Pada bagian depan, sepasang kuda menuntun rombongan. Kedua kuda itu ditunggangi Ketua LPMK Pakintelan Madhik Masdhana dan Ketua Paguyuban Sendang Curug Sari Dhidhik Kushandaka.

Di belakangnya, dentum dan denting ritmis drum band yang ditabuh para siswa dari SDN Pakintelan 01, 02, dan 03 menjadi musik pengiring yang membuat kirab berlangsung meriah. Menyusul kemudian barisan pembawa bendera Merah-Putih dan panji peguyuban oleh para pemuda desa.

Pemandangan paling khidmat tampak pada barisan para "ibu sepuh" yang menggendong tujuh kendi berisi air dari tujuh mata air di Pakintelan. Di belakang mereka, dua gunungan hasil bumi seperti durian, pisang, hingga sayuran ikut diarak.

Rute kirab yang ditempuh cukup panjang, yakni sekitar tiga kilometer dengan durasi waktu hampir satu jam, sebelum tiba di pelataran Sendang Curug Sari. Selanjutnya, rangkaian acara dibuka dengan menyanyikan lagu "Indonesia Raya" hingga doa lintas agama.

Merawat Air, Merawat Kehidupan

Suasana kegiatan Merti Sendang Curug Sari warga Pakintelan pada hari Minggu kemarin. (Dok. Panitia)

Puncak merti ditandai dengan prosesi penyerahan tujuh kendi air dari para lansia kepada tujuh gadis. Air itu kemudian diserahkan kepada para sesepuh desa untuk dituangkan ke berbagai tempat yang sarat makna.

Air pertama dituangkan ke gentong padasan sebagai simbol kesucian sebelum beribadah. Air kedua ke gentong dapur, lambang kebutuhan dasar rumah tangga. Air ketiga disiramkan ke pohon durian, penanda ketergantungan warga pada hasil bumi.

Air keempat menuju kandang ternak, air kelima ke adukan pasir semen sebagai simbol mata pencaharian warga, air keenam kembali ke sendang sebagai pesan tentang budaya menabung air. Sementara isi kendi terakhir dituang ke makam leluhur sebagai wujud kirim doa serta penghormatan pada akar kehidupan.

Ketua Paguyuban Sendang Curug Sari, Dhidhik Kushandaka menyebut, tema nyadran kelima ini mengangkat tentang guyub rukun golek banyu apikulan warih. Dalam bahasa Jawa, "guyub rukun" berarti saling membantu, sedangkan "golek banyu apikulan warih" adalah peribahasa Jawa yang mengajarkan bahwa untuk menemukan kebaikan harus berbekal kebaikan.

"Kampanye yang ingin disampaikan sederhana, yakni bahwa merawat air sama artinya dengan merawat kehidupan," tutur Dhidhik kepada Inibaru.id, Senin (12/1).

Budaya 'Nggodog Wedang'

Dalam Merti Sendang Curug Sari tersebut, nggak lupa Dhidhik juga mengingatkan tentang pentingnya air bersih dalam kehidupan sehari-hari. Mengacu buku Reset Indonesia, dia mengatakan, sekitar 80 persen penduduk kota harus mengandalkan air kemasan.

"Ini terjadi karena telah tercemarnya sumber air di perkotaan; membuat budaya merebus air minum menjadi asing bagi warga kota," lontarnya.

Karena itulah dia mengajak masyarakat untuk membiasakan nggodog wedang (merebus air minum) sendiri alih-alih bergantung pada air kemasan. Syaratnya, tentu saja dengan menjaga sumber air dan nggak mencemari lingkungan.

"Selain lebih hemat energi dan biaya, kebiasaan 'nggodok wedang' lebih ramah lingkungan di tengah persoalan sampah plastik dan konsumsi gas rumah tangga yang tinggi," sebutnya sebelum acara merti sendang benar-benar berakhir.

Merti Sendang Curug Sari berakhir dalam suasana yang sederhana, tapi terasa hangat saat warga duduk bersama menikmati nasi berbungkus daun jati. Dengan kampanye yang relevan untuk masa kini, semoga tradisi ini terus lestari ya, Gez! (Sundara/E10)

Tags:

ARTIKEL TERKAIT

Blok GM, Surga Anak Skena, dan Wajah Baru Kota Semarang saat Malam

9 Apr 2026

Puting Beliung Terjang Banyumanik, Pemkot Semarang Akan Perbaiki Rumah Warga Terdampak

9 Apr 2026

Kembalikan Ruh, Tiket Masuk Resmi Ditiadakan dalam Tradisi Bulusan

9 Apr 2026

Pecinan Semarang Bakal Dikelilingi Arak-arakan 50 Kelenteng Akhir Pekan Ini!

10 Apr 2026

30 Persen Jemaah Haji asal Semarang Masuk Kategori Muda, Puluhan di Antaranya Gen Z

10 Apr 2026

Kolaborasi AMSI dan Meta untuk Dukung Jurnalisme Berkualitas

10 Apr 2026

Jaga Produksi, Pengusaha Tahu Semarang Putar Otak saat Harga Kedelai dan Plastik Naik

10 Apr 2026

Ogah Cuma Jadi Formalitas, Sumanto Pengin Bedah LKPJ 2025 Hasilkan Solusi Nyata buat Jateng

11 Apr 2026

Investasi buat Anak Cucu, Sumanto Ajak Relawan Jaga Kali-Rawat Bumi

12 Apr 2026

Kecelakaan (Lagi) di Silayur Semarang, Mau sampai Kapan?

12 Apr 2026

Bernuansa Spiritual, Tradisi Kirab Kelenteng di Pecinan Semarang

13 Apr 2026

Lansia Dominasi Calhaj Asal Semarang, Kesehatan jadi Tantangan Serius

13 Apr 2026

ASN Jateng WFH Tiap Jumat, Sumanto: Jangan Sampai Pelayanan Publik Malah Libur

13 Apr 2026

Dishub Perketat Akses Masuk ke Silayur, Dua Portal Disiapkan untuk Batasi Truk Tronton

14 Apr 2026

Forbasi Matangkan Struktur Organisasi via Rakernas dan Sertifikasi Juri-Pelatih

14 Apr 2026

Ikhtiar Warga Silayur, Kembalikan Tradisi Ruwatan untuk Keselamatan Pengguna Jalan

14 Apr 2026

Grup Cowok: Batas Tipis antara Bercanda dan Pelecehan Seksual

15 Apr 2026

Menanti Surpres, Nasib RUU PPRT Kini di Tangan Presiden

15 Apr 2026

Temuan Fosil Purba di Bumiayu, Diduga Lebih Tua dari Sangiran

16 Apr 2026

Riset CISDI: Satu Dekade Berlalu, Harga Rokok Tetap Murah, Reformasi Cukai Diperlukan

17 Apr 2026

Inibaru Media adalah perusahaan digital yang fokus memopulerkan potensi kekayaan lokal dan pop culture di Indonesia, khususnya Jawa Tengah. Menyajikan warna-warni Indonesia baru untuk generasi millenial.

A Group Member of

Ikuti kamu di: