BerandaHits
Jumat, 11 Sep 2025 13:43

Kontroversi Warna Paling Gelap 'Vantablack' di Kalangan Seniman Dunia

Vantablack diklaim sebagai warna paling gelap di bumi. (Surrey NanoSystems)

Saking gelapnya, warna ini hampir 100 persen nggak memantulkan cahaya, menjadikan vantablack sebagai warna paling gelap di bumi. Sayangnya, keberadaannya di dunia seni justru menimbulkan kontroversi di kalangan para seniman.

Inibaru.id - Hitam disebut sebagai warna terpekat. Namun, adakah yang lebih gelap dari hitam? Jawabannya adalah Vantablack. Saking pekatnya warna ini, mata kita pun menjadi kebingungan saat melihatnya. Ia nggak memantulkan bayangan sehingga seolah menelan apa pun di dalamnya.

Disebut sebagai “warna paling hitam di dunia”, vantablack diciptakan oleh perusahaan asal Inggris, Surrey NanoSystems, pada 2014. Bukan cat biasa, tapi ia terdiri atas jutaan tabung nano karbon (carbon nanotubes) yang diyakini mampu menyerap hingga 99,96 persen cahaya yang mengenainya.

Hasilnya? Permukaan yang dilapisi vantablack akan tampak laiknya lubang hitam di alam semesta; datar, tanpa tekstur, dan seperti ruang hampa. Awal pembuatan, vantablak dikembangkan untuk kepentingan militer, kedirgantaraan, hingga astronomi.

Untuk alasan terakhir, kemampuannya menyerap cahaya membuat vantablack bisa mengurangi pantulan yang mengganggu pengamatan astronomi atau meningkatkan performa sensor optik. Karena itulah vantablack lebih banyak diaplikasikan dalam pembuatan teleskop luar angkasa.

Monopoli Vantablack di Dunia Seni

Dunia seni kemudian ikut tergoda dengan daya tarik “warna tergelap” ini. Kontroversi dimulai ketika seniman asal Inggris keturunan India, Anish Kapoor, memperoleh hak eksklusif penggunaan artistik vantablack pada 2016; membuatnya menjadi satu-satunya seniman yang diizinkan menggunakan material ini untuk karya seni.

Kesepakatan itu pun segera menimbulkan kehebohan di dunia seni rupa global. Banyak seniman menilai langkah itu nggak adil. Warna, bagi mereka, seharusnya menjadi medium yang bebas digunakan semua orang.

Ventablack membuat suatu benda 'kehilangan' tekstur dan hampir nggak memantulkan cahaya sama sekali. (Surrey NanoSystems)

Kritik muncul dari berbagai penjuru dunia seni, dengan tuduhan bahwa Kapoor telah "memonopoli" sebuah ekspresi artistik. Salah satu seniman yang paling vokal adalah Stuart Semple. Dia mengkritik dengan merilis The Pinkest Pink yang diklaim sebagai "si paling pink" untuk semua orang, kecuali Anish Kapoor.

Melihat kehebohan ini, Surrey NanoSystems pun menjelaskan alasan mereka memberi lisensi eksklusif kepada Kapoor. Menurut perusahaan tersebut, vantablack bukan cat biasa, melainkan material yang sangat sulit digunakan karena memerlukan penanganan khusus.

Memerlukan Teknologi Khusus

Surrey NanoSystems mengklaim, dibutuhkan fitur khusus dengan fasilitas teknologi tinggi untuk membuat ventablack menempel dengan benar di permukaan. Nah, mereka menilai, Anish Kapoor yang mereka anggap sebagai seniman dengan reputasi internasional dan sumber daya besar mampu mengeksekusinya.

Menurut mereka, Kapoor bisa melakukannya dengan tepat tanpa merusak citra material ini. Alih-alih meredam kritik, penjelasan itu justru memunculkan satu pertanyaan besar: apakah wajar satu seniman memiliki akses penuh terhadap suatu warna?

Di dunia seni, warna biasanya dipandang sebagai warisan universal, bukan properti privat. Perdebatan pun mengerucut pada privatisasi dalam kesenian. Jika sebuah warna bisa dimonopoli, bagaimana dengan bentuk lain dari ekspresi visual?

Kritik itu terus bergulir hingga kini. Sebagian orang melihatnya semata sebagai strategi komersial, sementara yang lain justru melihat ventablack sebagai karya seni itu sendiri, sebuah produk seni yang "nggak terjangkau". Menurutmu, lazimkah memonopoli sebuah warna? (Siti Khatijah/E10)

Tags:

ARTIKEL TERKAIT

Di Korea Selatan, Siswa Pelaku Bullying Dipersulit Masuk Universitas

19 Jan 2026

Melegenda di Muntilan, Begini Kelezatan Bubur Mbah Gamping

19 Jan 2026

Terdampak Banjir, Warga Wonorejo Mulai Mengeluh Gatal dan Demam

19 Jan 2026

Antisipasi Doomscrolling, Atur Batas Waktu Youtube Shorts Anak dengan Fitur Ini!

19 Jan 2026

Opsi Layanan Kesehatan 'Jemput Bola' untuk Warga Terdampak Banjir Wonorejo

19 Jan 2026

Bijak Kenalkan Gawai dan Media Sosial pada Anak

19 Jan 2026

Bupati Pati Sudewo Kena OTT KPK! Terkait Kasus Apa?

19 Jan 2026

Jalur Pekalongan-Sragi Tergenang, Sebagian Perjalanan KA Daop 4 Semarang Masih Dibatalkan

19 Jan 2026

Cantiknya Pemandangan Air Terjun Penawangan Srunggo di Bantul

20 Jan 2026

Cara Unik Menikmati Musim Dingin di Korea; Berkemah di Atas Es!

20 Jan 2026

Kunjungan Wisatawan ke Kota Semarang sepanjang 2025 Tunjukkan Tren Positif

20 Jan 2026

Belasan Kasus dalam Dua Tahun, Bagaimana Nasib Bayi yang Ditemukan di Semarang?

20 Jan 2026

Ratusan Perjalanan Batal karena Banjir Pekalongan, Stasiun Tawang Jadi Saksi Kekecewaan

20 Jan 2026

Viral 'Color Walking', Tren Jalan Kaki Receh yang Ampuh Bikin Mental Anti-Tumbang

20 Jan 2026

Nggak Suka Dengerin Musik? Bukan Aneh, Bisa Jadi Kamu Mengalami Hal Ini!

20 Jan 2026

Duh, Kata Menkes, Diperkirakan 28 Juta Warga Indonesia Punya Masalah Kejiwaan!

21 Jan 2026

Jika Perang Dunia III Pecah, Apakah Indonesia Akan Aman?

21 Jan 2026

Ki Sutikno; Dalang yang Tiada Putus Memantik Wayang Klithik Kudus

21 Jan 2026

Statistik Pernikahan Dini di Semarang; Turun, tapi Masih Mengkhawatirkan

21 Jan 2026

Kabar Gembira! Tanah Sitaan Koruptor Bakal Disulap Jadi Perumahan Rakyat

21 Jan 2026

Inibaru Media adalah perusahaan digital yang fokus memopulerkan potensi kekayaan lokal dan pop culture di Indonesia, khususnya Jawa Tengah. Menyajikan warna-warni Indonesia baru untuk generasi millenial.

A Group Member of

Ikuti kamu di: