BerandaHits
Rabu, 3 Feb 2026 16:38

Kiai Semarang yang Memantik Gagasan Kartini ‘Habis Gelap Terbitlah Terang’

Ilustrasi KH Sholeh Darat saat memberikan kitab tafsir Al-Quran kepada Kartini yang dipajang saat seminar nasional pengusulan gelar Pahlawan Nasional. (Inibaru.id/ Sundara)

KH Sholeh Darat, guru ngaji Kartini dari Semarang, diyakini sebagai salah satu sosok inspiratif di balik lahirnya dasar pemikiran emansipasi perempuan serta gagasan 'Habis Gelap Terbitlah Terang' yang menjadi frasa legendaris yang melekat pada sosok pahlawan nasional tersebut.

Inibaru.id - Di balik nama dan gagasan besar RA Kartini tentang emansipasi perempuan yang termanifestasi dalam kumpulan surat yang dibukukan Rosa dan Jacques Henrij Abendanon dalam Habis Gelap Terbitlah Terang, terdapat peran penting dari satu ulama besar di Semarang, yakni KH Sholeh Darat.

Lahir di Jepara, Kiai Sholeh diyakini sebagai salah seorang guru mengaji Kartini. Dialah yang konon menjadi pembimbing spiritual sang pahlawan nasional itu dalam memahami agama dan nilai kehidupan serta membentuk fondasi dan membuka cakrawala pemikirannya tentang kesetaraan perempuan.

KH Sholeh Darat bukan sekadar guru mengaji biasa. Ulama ini juga dikenal progresif karena sering menerjemahkan isi Al-Quran ke dalam bahasa Jawa agar para muridnya, termasuk Kartini di dalamnya, bisa memahami makna ayat-ayat Al-Qur’an tanpa harus mondok di pesantren.

Sekretaris Komunitas Pecinta Sholeh Darat (Kopisoda) Mochamad Ichwan mengatakan, berdasarkan hasil penelusuran mendalam yang dilakukan komunitasnya, frasa "habis gelap terbitlah terang" yang menjadi judul kumpulan surat Kartini yang dibukukan itu berakar dari salah satu ayat dalam Al-Qur’an.

"Saya menyakini gagasan Kartini itu berasal dari Surat Al-Baqarah ayat 257, tapi waktu itu kalimatnya belum sepositif itu; semula, dikeluarkan dari kegelapan menuju cahaya," ujar Ichwan kepada Inibaru.id, belum lama ini.

Panggilan Romo Kiai

Dalam surat-suratnya, Kartini sering menyebut nama Romo Kiai, panggilan yang diyakini Ichwan merujuk pada satu nama Kiai Sholeh Darat. Sebab guru-guru agama di Jepara biasanya hanya dipanggil ustaz.

Menurut Ichwan, Kartini pernah menulis surat kepada sahabatnya, Stella Zihandelaar tentang kegundahannya belajar agama Islam. Para tokoh agama hanya mengajarkan caranya membaca Al-Qur’an, tapi tidak pernah menyampaikan terkait makna dan arti ayat-ayat yang dibaca.

"Secara historis, zaman dulu orang yang belajar agama harus mondok di pesantren supaya bisa mengerti bahasa Arab. Namun, belajar ngaji dengan Mbah Sholeh tidak harus mondok, karena semua kitab yang ditulis diterjemahkan ke dalam bahasa Jawa," ujar Ichwan.

Sekretaris Komunitas Kopisoda Muhammad Ichwan saat menunjukkan karya-karya kitab yang ditulis KH Sholeh Darat. (Inibaru.id/ Sundara)

Dalam catatan sejarah, pertemuan pertama Kartini dengan KH Sholeh Darat terjadi di pendopo Kabupaten Demak. Kala itu, kiai yang diyakini sebagai guru KH Hasyim Asy’ari dan KH Ahmad Dahlan tersebut diundang oleh Bupati Demak untuk mengisi pengajian.

"Kartini mengikuti pengajian itu karena diundang Bupati Demak, Pangeran Ario Hadiningrat, yang juga merupakan pamannya. Pertemuan tersebut menjadi titik awal bagi Kartini untuk mendalami Al-Qur’an di bawah bimbingan Mbah Sholeh," paparnya.

Frasa yang Melegenda

Setelah memahami makna Al-Fatihah, Kartini terus mempelajari Surat Al-Baqarah hingga menuntaskan pembelajaran Al-Qur’an. Menurut Ichwan, ungkapan, "Habis gelap terbitlah terang," terinspirasi dari Al-Baqarah ayat 257.

"Terjemahan ayat tersebut adalah: 'Allah pelindung orang-orang yang beriman. Dia mengeluarkan mereka dari aneka kegelapan, menuju cahaya (iman)'," jelas Ichwan. "Dari tafsir tersebut, RA Kartini kemudian merumuskan frasa yang kelak menjadi sangat melegenda."

Oya, untuk yang belum tahu, Habis Gelap Terbitlah Terang adalah buku terjemahan dari Door duisternis tot licht: Gedachten over en voor het Javaansche volk (Dari Gelap Menuju Terang: Pemikiran Tentang dan untuk Rakyat Jawa), kumpulan korespondensi Kartini ke sahabat-sahabatnya di Eropa.

Buku yang diterbitkan oleh JH Abendanon pada 1911 itu kali pertama diterjemahkan ke bahasa Melayu oleh penulis berjuluk Empat Saudara, yakni Bagindo Dahlan Abdullah, Zainudin Rasad, Sutan Muhammad Zain, dan Djamaloedin Rasad, pada 1922. Dari situlah frasa "habis gelap terbitlah terang" mulai dikenal luas.

Belajar selama Masa Pingitan

Menurut Ichwan, kedekatan Kartini dengan KH Sholeh Darat makin erat karena bimbingan itu terjadi saat masa pingitan, ketika akses perempuan ke dunia luar sangat terbatas. Dalam kondisi itu, Kartini belajar intensif langsung dari sang guru ngaji.

"Selain berdakwah di kalangan masyarakat perkampungan, KH Sholeh Darat juga dikenal sering melakukan penyebaran pengetahuan Islam di lingkungan elite pejabat daerah, termasuk beberapa kali berkunjung ke kediaman Kartini di Jepara," tukasnya.

Nggak berhenti di situ, Ichwan bahkan meyakini bahwa pemikiran Kartini tentang emansipasi perempuan sangatlah dipengaruhi oleh kitab Majmu’at Syari’ah karya KH Sholeh Darat. Terkait hal ini, dia mengatakan, ahli sejarah dari UIN Walisongo Semarang pernah melakukan penelitian mendalam.

Ulama Semarang KH Sholeh Darat banyak menulis tafsir Al-Qur'an yang diterjemahkan ke bahasa Jawa. (Inibaru.id/ Sundara)

"Ahli sejarah peradaban Islam, Prof Sri Suhandjati Sukri, yang pernah meneliti karya tersebut menyimpulkan bahwa feminisme Kartini berakar dari ajaran dalam Majmu’at Syari’ah yang menekankan pentingnya mendorong perempuan untuk belajar membaca, membatik, dan menjahit," jelasnya.

Jadi, dia mengimbuhi, gagasan Kartini untuk memperjuangkan kesetaraan gender nggak semata-mata dipengaruhi oleh relasi sosial atau literatur barat, tapi juga dibentuk melalui ide-ide KH Sholeh Darat yang terserak dalam tafsir Al-Qur’an dan karya-karyanya.

"Di tengah kultur sosial yang memandang peran perempuan sebatas masak, macak (bersolek), dan manak (melahirkan), Mbah Sholeh menelurkan kitab yang sangat progresif, yang mendorong perempuan membaca, membatik, dan menjahit untuk melatih kemandirian. Itu luar biasa!" ungkapnya.

Menjadi Dasar Berdirinya Kopisoda

Menurut Ichwan, pemikiran progresif yang melampaui zamannya inilah yang mendorong berdirinya fan base "Kopisoda" pada 2016. Banyak kegiatan keilmuan yang dilakukan, mulai dari mengaji, menerjemahkan ke bahasa asing, hingga mencetak ulang kitab-kitab KH Sholeh Darat.

Yang terbaru, Kopisoda bersama Pemerintah Kota (Pemkot) Semarang juga tengah menaja pengusulan KH Sholeh Darat sebagai Pahlawan Nasional. Menurutnya, pemberian gelar itu penting agar masyarakat, khususnya generasi muda, bisa mengenal lebih dalam sosok penting dalam dunia keislaman tersebut.

"Ini (gelar Pahlawan Nasional) untuk merawat ingatan, bahwa pernah hidup seorang ulama besar di Semarang. KH Sholeh Darat sangat layak. Murid-muridnya sudah dianugerahi gelar Pahlawan Nasional, malah gurunya belum!" kelakarnya.

Sejauh ini, rencana pengusulan itu masih terus bergulir, mulai dari pengumpulan berkas hingga bukti-bukti kepahlawanannya. Ichwan menilai, tantangannya terletak pada terbatasnya sumber-sumber primer, meski tetap merasa optimistis rencana tersebut akan membuahkan hasil.

Di balik jejak pemikiran Kartini yang menginspirasi, tersimpan dedikasi sang guru mengaji yang menyalakan cahaya pengetahuan di tengah kegelapan. Menurutmu, layakkah KH Sholeh Darat dianugerahi gelar Pahlawan Nasional? (Sundara/E10)

Tags:

ARTIKEL TERKAIT

Pertamina: Harga BBM Berpotensi Turun Bertahap Mulai Juli

27 Jun 2026

Barikan Sitinggil, Cara Warga Kriyan Merawat Jejak Ratu Kalinyamat Lewat Doa dan Kebersamaan

28 Jun 2026

Masyarakat Bisa Pilih Logo HUT Ke-81 RI, Pemerintah Buka Polling hingga 28 Juni

29 Jun 2026

Perusahaan Kereta Asal Swiss Lirik Indonesia sebagai Basis Produksi untuk Pasar Asia

30 Jun 2026

Harga Pertamax Turbo, Dexlite, dan Pertamina DEX Turun Mulai 1 Juli 2026, Pertamax Tetap

1 Jul 2026

DJP Siap Terapkan Pajak E-Commerce Mulai 1 Juli 2026

1 Jul 2026

Mulai 1 Juli 2027, Empat Marketplace Resmi Pungut Pajak Pedagang Online

2 Jul 2026

Tabung CNG 3 Kg Segera Diuji, Diklaim Lebih Aman dari LPG

3 Jul 2026

Pemerintah Siapkan 39 Bandara Baru, Total Bandar Udara di Indonesia Bakal Jadi 296

4 Jul 2026

Belajar Langsung dari Mbah Atemo, Belasan Anak Muda Lestarikan Mainan Tradisional Berbahan Kertas Bekas

6 Jul 2026

Mengenal Bunga Edelweiss Jawa, Si "Bunga Abadi" yang Justru Terancam Punah

6 Jul 2026

Dikira Bahasa Gaul, "Anjir" Justru Kosakata Lama Nelayan Pantura

7 Jul 2026

Penelitian Terbaru Ungkap Fakta Baru Manusia Hobbit Flores

8 Jul 2026

Muhammadiyah Resmikan KucingMu, Kampanyekan Kepedulian terhadap Hewan

9 Jul 2026

Pemerintah Tetapkan 13 Juli sebagai Hari Kepercayaan, Ini Dasar Pertimbangannya

10 Jul 2026

Lima Kasus HAM yang Pernah Terjadi di Indonesia, Ada yang Belum Selesai!

10 Des 2019

Sebelum Menikah, Coba deh Hitung Wetonmu dan Pasangan, Cocok Nggak?

24 Jun 2020

Terkuak, Ini Penyebab Mitos Orang Jawa dan Sunda Nggak Boleh Menikah

28 Jun 2020

Cek Daftar Kata Ini Sebelum Beli Baju di Online Shop

30 Mei 2018

Macan Akar a.k.a Kucing Hutan kok Dipiara

7 Des 2017

Inibaru Media adalah perusahaan digital yang fokus memopulerkan potensi kekayaan lokal dan pop culture di Indonesia, khususnya Jawa Tengah. Menyajikan warna-warni Indonesia baru untuk generasi millenial.

A Group Member of

Ikuti kamu di: