BerandaHits
Sabtu, 16 Mei 2025 15:29

Hujan Lebat setelah Cuaca Terik; BMKG Prediksi Indonesia Alami 'Kemarau Basah'

Ilustrasi: Meski sudah memasuki musim penghujan, sebagian wilayah di Indonesia masih mengalami hujan lebat, yang disebutkan BMKG sebagai fenomena kemarau basah. (Stocksy/Gabi Bucataru)

Siang-siang langit cerah dan cuaca panas, tapi mendadak turun hujan pada sore hari. Apa yang terjadi? BMKG menyebut, Indonesia sedang mengalami kemarau basah. Fenomena apa itu?

Inibaru.id - Cuaca yang nggak menentu membuat Achmad Fachrizal, petani asal Kabupaten Batang merasa waswas. Prediksinya, setelah padi ditanam bulan lalu, seharusnya air di sawahnya sudah mulai surut karena saat ini mulai musim kemarau.

"Kalau air nggak segera surut, padi yang saya tanam pasti bakal habis dimakan keong, terutama di sisi utara yang lebih rendah," keluhnya, Jumat (16/5/2025). "Pas musim penghujan, sawah bagian itu memang nggak bisa ditanami karena debet airnya terlalu tinggi. Ternyata sampai sekarang masih terendam air."

Dia merasa, meski sudah musim kemarau, hujan di tempatnya memang masih sering turun. Di satu sisi, lelaki yang akrab disapa Fachri itu merasa senang karena nggak harus berebut air dengan petani lain, tapi di sisi lain dia juga sedih karena potensi keuntungan dari hasil panen tahun ini kemungkinan akan tereduksi.

"Bagian yang terendam air itu mencapai sepertiga. Kalau ditanami semua, hasilnya lumayan. Namun, sepertinya kali ini saya harus legawa dengan padi yang tersisa. Yang penting nggak rusak semua atau terserang hama saja saya sudah bersyukur," akunya.

Musim Kemarau Basah

Meski secara kalender Indonesia sudah memasuki musim kemarau, beberapa wilayah di negeri ini memang masih sering diguyur hujan, termasuk Kabupaten Batang. Nggak hanya Fachrizal, banyak orang juga mengeluhkan "prediksi yang meleset" tersebut di media sosial.

Menurut Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), fenomena ini muncul bukan tanpa sebab. Mereka mengatakan, Indonesia sedang mengalami kemarau basah. Sekitar April lalu BMKG juga sempat memprediksi kemungkinan ini dan meminta masyarakat, khususnya petani, untuk bersiap.

Pertanyaannya, apa itu kemarau basah? Deputi Bidang Meteorologi BMKG Guswanto menyebut, kemarau basah merupakan situasi ketika sudah memasuki musim kemarau yang identik dengan cuaca panas dan langit cerah, tapi masih sering turun hujan dengan intensitas yang cukup signifikan.

"Pada fenomena kemarau basah, kelembapan udara tetap tinggi, sehingga hujan masih sering turun," tuturnya, Rabu (14/5/2025). “Ini merupakan situasi tidak biasa yang bisa muncul karena sejumlah faktor, termasuk perubahan iklim dan pola cuaca yang tidak stabil.”

Terjadi di Sejumlah Wilayah

Ilustrasi: Hujan pada musim kemarau di sejumlah wilayah di Indonesia disebabkan oleh sejumlah dinamika atmosfer seperti sirkulasi siklonik. (Unsplash/Charlee)

Guswanto menambahkan, BMKG mencatat beberapa dinamika atmosfer yang menyebabkan kemarau basah tahun ini; termasuk di dalamnya adalah adanya sirkulasi siklonik di wilayah Indonesia, fenomena Madden-Julian Oscillation (MJO), dan gelombang atmosfer seperti Kelvin, Rossby Ekuator, dan Low Frequency.

"Kondisi ini membuat awan hujan tetap terbentuk dan mengakibatkan turunnya hujan di sejumlah wilayah kendati sudah memasuki musim kemarau," terangnya.

Dia mengungkapkan, fenomena kemarau basah ini terjadi secara parsial. Artinya nggak seluruh wilayah Indonesia mengalaminya. Menurutnya, yang paling terdampak adalah daerah dengan pola hujan monsunal seperti Jawa, Bali, dan Nusa Tenggara.

"Wilayah dengan pola hujan monsunal memiliki dua musim yang sangat jelas, yakni penghujan dan kemarau; dengan satu puncak hujan dan kemarau (unimodal). Tapi tahun ini pola itu terganggu oleh turunnya hujan pada musim kemarau," paparnya.

Hingga Agustus 2025

BMKG memprediksi, fenomena kemarau basah ini akan berlangsung sekurangnya hingga Agustus mendatang. Setelahnya, Indonesia akan memasuki masa pancaroba sekitar September-November, sebelum kembali memasuki musim penghujan pada Desember 2025 hingga Februari 2026.

Dikutip dari laman resmi BMKG, kemarau basah bisa berdampak pada terganggunya pola tanam lantaran para petani di Indonesia umumnya masih mengandalkan prediksi musim untuk menanam dan panen. Kondisi ini juga rawan menyebabkan banjir di wilayah yang nggak terbiasa menerima hujan pada musim kemarau.

Di sisi lain, kondisi lingkungan juga bisa terpengaruh, termasuk potensi banjir di wilayah yang tidak siap menerima curah hujan saat musim kemarau. Karena itulah BMKG mengimbau masyarakat untuk waspada dan menyesuaikan aktivitas dengan cuaca yang nggak menentu ini.

Kabar baiknya, kemarau basah membuat orang-orang yang tinggal di wilayah yang biasanya mengalami kekurangan air atau kekeringan bisa bernapas lega. Namun, harus tetap waspada ya, Millens! Semoga potensi bencana hidrometeorologi seperti banjir dan tanah longsor nggak menimpa kita, ya! (Siti Khatijah/E07)

Tags:

ARTIKEL TERKAIT

Mengulik Filosofis Naga Jawa dalam Kosmologi Masyarakat Jawa Kuno

2 Jun 2026

Prabowo Copot Dadan Hindayana dari Kepala BGN, Nanik S Deyang Ditunjuk sebagai Pengganti

3 Jun 2026

Dolar Tembus Rp18.000, Apa Dampaknya bagi Masyarakat dan Apa yang Perlu Dilakukan?

4 Jun 2026

Membaca Duduk Perkara Kasus MBG: Berikut Dugaan Penyimpangan yang Sedang Diusut

4 Jun 2026

Bancakan, Tradisi Makan Bersama Masyarakat Jawa yang Sarat Makna Kebersamaan

5 Jun 2026

Grebeg Besar Keraton Solo, Tradisi Iduladha yang Menyatukan Syukur, Budaya, dan Harapan

5 Jun 2026

Mirip Orient Express, KAI Siapkan Kereta Wisata Premium Nusantara Explorer dari Jakarta hingga Banyuwangi

6 Jun 2026

Bediding Kembali Datang Saat Musim Kemarau, Dari Mana Asal Istilahnya?

7 Jun 2026

Akun Instagram Bisa Diretas Lewat Chatbot AI? Ini Penjelasannya

8 Jun 2026

Puluhan Rafflesia Bermekaran di Anambas, Peneliti Temukan Habitat Baru

9 Jun 2026

Berusia 67.800 Tahun, Cap Tangan di Pulau Muna Pecahkan Rekor Dunia

10 Jun 2026

Kuliner Indonesia Masuk 10 Besar Dunia Versi TasteAtlas 2026, Nasi Padang Jadi Salah Satu yang Tertinggi

11 Jun 2026

Majelis Masyayikh: Pengakuan terhadap Pesantren Harus Diikuti Dukungan Pendanaan

12 Jun 2026

Perkuat Posisi Tawar Industri Pers, Dewan Pers Himpun Masukan soal RUU Hak Cipta

12 Jun 2026

AMSI Soroti Ancaman FIMI, Bentuk Baru Manipulasi Informasi di Era AI

14 Jun 2026

Kementerian Kehutanan Lepasliarkan Elang Jawa dan Resmikan Fasilitas Konservasi di Megamendung

15 Jun 2026

9 Tradisi Malam Satu Suro di Berbagai Daerah yang Masih Dilestarikan hingga Kini

15 Jun 2026

Lima Kasus HAM yang Pernah Terjadi di Indonesia, Ada yang Belum Selesai!

10 Des 2019

Sebelum Menikah, Coba deh Hitung Wetonmu dan Pasangan, Cocok Nggak?

24 Jun 2020

Terkuak, Ini Penyebab Mitos Orang Jawa dan Sunda Nggak Boleh Menikah

28 Jun 2020

Inibaru Media adalah perusahaan digital yang fokus memopulerkan potensi kekayaan lokal dan pop culture di Indonesia, khususnya Jawa Tengah. Menyajikan warna-warni Indonesia baru untuk generasi millenial.

A Group Member of

Ikuti kamu di: