Inibaru.id - Di tengah gempuran era digital, ketika kitab suci bisa diakses lewat gawai dalam hitungan detik, ada satu nama di Kudus yang tetap setia menjaga tradisi cetak-mencetak kitab fisik sejak 1955. Dialah Percetakan Menara Kudus, percetakan tertua di Kabupaten Kudus yang sampai hari ini masih berdetak dengan ritme mesin cetaknya.
Bermula dari rumah sederhana milik pendirinya, H Zaenuri Noor, di Jalan Kiai Telingsing, usaha ini awalnya hanya mencetak kitab-kitab pelajaran untuk pondok pesantren dan madrasah. Gudang rumah dijadikan tempat produksi. Belum ada pesanan percetakan Alqur’an dalam skala besar. Semua berjalan perlahan, tapi pasti.
“Awalnya, percetakan dilakukan di gudang rumah H Zaenuri Noor. Saat itu hanya mencetak kitab-kitab saja,” ungkap manajer personalia dari tempat tersebut, Alexander Yusuf sebagaimana dinukil dari Beritajejakfakta, Rabu (25/2/2026).
Memasuki 1960-an, percetakan ini mulai memperluas sayap ke kawasan Menara Kudus. Dari situlah namanya makin dikenal. Tahun 1970 menjadi tonggak penting percetakan ini karena mulai mencetak Alquran. Sejak saat itu, produksi terus berkembang hingga akhirnya seluruh aktivitas dipusatkan di Desa Bakalankrapyak pada 1984.
Perjalanan panjang lebih dari tujuh dekade tentu bukan tanpa tantangan. Di masa awal, relasi dengan para kiai menjadi kunci terus berjalannya pesanan kitab fisik. Untungnya, kebutuhan kitab-kitab dan Alquran untuk pembelajaran juga tinggi. Dari situlah hubungan saling percaya terbangun.
Kini, percetakan ini sudah dikelola oleh generasi ketiga. Meski zaman berubah, satu hal yang dipertahankan adalah ketelitian. Setiap huruf hijaiyah dikoreksi berjam-jam sebelum kitab diproduksi massal. Bahkan ada kebiasaan unik yang terus dipertahankan, yaitu karyawan yang menangani Alquran diwajibkan berwudu sebelum bekerja. Kalau batal, ya harus wudu lagi.
Soal produk, pilihannya beragam. Ada Alquran Pojok Menara, Alquran Al Hafidz, Alquran Bombai, hingga kitab-kitab klasik seperti Fathul Qorib, Fathul Muin, dan tafsir legendaris Al-Ibris karya KH Bisri Mustofa. Kitab terakhir ini bahkan sudah terjual hingga ratusan ribu eksemplar dan menjadi rujukan pengajian di banyak tempat.
Menariknya, Percetakan Menara Kudus kini juga melayani cetak Alquran custom, bahkan satuan. Mulai dari desain sampul, jenis khat, hingga kebutuhan khusus lainnya bisa disesuaikan. Di tengah konsumen yang makin kritis dan ingin tampil beda, layanan ini jelas jadi angin segar.
Meski banyak percetakan Alquran bermunculan, mereka tetap percaya pada kualitas dan harga terjangkau. Prinsipnya sederhana: kitab dan Alquran harus bisa diakses santri dan pelajar.
O ya, pesanan percetakan biasanya melonjak saat Ramadan dan tahun ajaran baru pesantren. Ini jadi bukti bahwa kitab fisik masih punya tempat tersendiri. Di saat layar sentuh makin dominan, lembaran kertas yang dicetak dengan teliti tetap punya ruh yang berbeda.
Lebih dari sekadar bisnis, Percetakan Menara Kudus adalah bagian dari denyut sejarah Kota Kretek. Ia bukan hanya mencetak tinta di atas kertas, tapi juga menjaga tradisi, adab, dan warisan keilmuan agar tetap hidup lintas generasi. Keren banget ya, Gez? (Arie Widodo/E07)
