BerandaHits
Sabtu, 3 Mei 2019 15:50

Sering Cemas Berlebih? Mungkin Saja Kamu Terkena <em>OCD Syndrome</em>

Ilustrasi penderita OCD yang merasa cemas. (Shutterstock/Halfbottle)

Pernah nggak sih kamu selalu bertanya "Kamarku sudah dikunci belum, ya?" atau "Dompetku di tas, kan?" setiap hendak pergi? Kalau kecemasan itu terjadi berulang-ulang, bisa jadi kamu terkena sindrom satu ini, <i>Millens</i>.

Inibaru.id – Setiap orang pasti pernah merasa cemas atas hal apapun. Perasaan itu wajar terjadi, kok. Namun, hal ini berubah nggak wajar ketika kamu merasa cemas dan khawatir terus menerus sehingga harus melakukan kegiatan-kegiatan repetitif, Millens.

Kondisi demikian biasanya disebut Obsessive Compulsive Disorder (OCD). Gangguang psikologis ini bisa mengakibatkan seseorang memiliki pikiran obsesif dan perilaku yang bersifat kompulsif. Penyakit itu juga membuat penderita merasa takut terhadap sesuatu yang nggak masuk akal yang muncul secara terus menerus.

Penderita OCD, umumnya memiliki pola pikiran dan perilaku tertentu. Dilansir dari laman Alodokter (6/3/2017), terdapat 4 tahap utama dalam kondisi OCD, yaitu obsesi, kecemasan, kompulsi, dan kelegaan sementara.

Sebuah obsesi akan muncul ketika pikiran penderita dikuasi rasa takut atau kecemasan. Ini akan memancing dirinya untuk melakukan aksi kompulsi (kebutuhan yang tidak disadari dengan keinginan bawah sadar) agar rasa takut dan cemasnya berkurang. Kemudian, dari aksi tersebut, penderita akan merasa lega untuk sementara. Namun, kecemasan akan kembali muncul dan membuat penderita mengulangi pola tersebut.

Ada beberapa sifat kompulsif yang biasanya dilakukan penderita sindrom ini di antaranya membersihkan semua benda yang dianggap kotor atau terkontaminasi zat-zat kimia dalam waktu berjam-jam.

Ada pula yang selalu mengucapkan sebuah nama atau kalimat beberapa kali. Dia pengin memastikan kalau nggak bakal melupakannya. Hal ini dilakukan untuk mengatasi kekhawatirannya.

Aktivitas kompulsif lain yakni mengecek sesuatu supaya menghilangkan kekhawatirannya. Seperti contoh, saat bepergian, seseorang selalu memikirkan apakah dia sudah mematikan kompor sebelum pergi atau menutup pintu. Nggak jarang mereka mengecek kembali secara langsung atau menanyakannya kepada orang yang ada di rumah.

Beberapa orang juga menurunkan ketidaknyamanan yang dialami dengan mengurutkan dan menyusun ulang benda-benda di sekitarnya yang dianggap nggak simetris. Salah satu contoh yakni menata rak buku sampai buku-buku itu rapi dan simetris. Kalau ada yang nggak rapi sedikit, dia langsung memperbaiki posisi buku itu.

Sejumlah orang juga ada yang mengatasi rasa takut itu dengan selalu berdoa meski diam. Ada pula yang merapal kalimat atau doa saat merasa tertekan dan takut suatu peristiwa akan terjadi padanya.

Nah, selaiknya penyakit tekanan darah tinggi maupun diabetes, gangguan ini bersifat jangka panjang. Gejala OCD yang dialami penderita pun berbeda-beda. Ada yang termasuk ringan yakni selama satu jam bergelut dengan pikiran obsesifnya. Namun, ada juga yang parah dan membuatnya sulit mengendalikan hidup. Sayang, nggak banyak orang mengetahui bila dirinya terkena sindorm OCD karena mereka enggan ke dokter.

Padahal, mereka nggak perlu khawatir karena penyakit ini bisa diobati. Tingkat pengobatan OCD bergantung dengan sejauh apa dampak OCD yang dialami penderita. Dokter biasanya akan melakukan terapi perilaku kognitif (CBT) dan penggunaan obat-obatan. Kedua hal itu sangat bermanfaat untuk mengurangi kecemasan dengan mengubah cara pikir dan perilaku penderita.

Kalau seseorang nggak segera mengobati sindrom ini, dia berisiko terkena depresi, lo. Jadi, lebih baik kalau sobat Millens merasakan tanda-tanda seperti yang disebutkan, langsung ke dokter saja ya. (IB07/E04)

Tags:

ARTIKEL TERKAIT

Mengulik Filosofis Naga Jawa dalam Kosmologi Masyarakat Jawa Kuno

2 Jun 2026

Prabowo Copot Dadan Hindayana dari Kepala BGN, Nanik S Deyang Ditunjuk sebagai Pengganti

3 Jun 2026

Dolar Tembus Rp18.000, Apa Dampaknya bagi Masyarakat dan Apa yang Perlu Dilakukan?

4 Jun 2026

Membaca Duduk Perkara Kasus MBG: Berikut Dugaan Penyimpangan yang Sedang Diusut

4 Jun 2026

Bancakan, Tradisi Makan Bersama Masyarakat Jawa yang Sarat Makna Kebersamaan

5 Jun 2026

Grebeg Besar Keraton Solo, Tradisi Iduladha yang Menyatukan Syukur, Budaya, dan Harapan

5 Jun 2026

Mirip Orient Express, KAI Siapkan Kereta Wisata Premium Nusantara Explorer dari Jakarta hingga Banyuwangi

6 Jun 2026

Bediding Kembali Datang Saat Musim Kemarau, Dari Mana Asal Istilahnya?

7 Jun 2026

Akun Instagram Bisa Diretas Lewat Chatbot AI? Ini Penjelasannya

8 Jun 2026

Puluhan Rafflesia Bermekaran di Anambas, Peneliti Temukan Habitat Baru

9 Jun 2026

Berusia 67.800 Tahun, Cap Tangan di Pulau Muna Pecahkan Rekor Dunia

10 Jun 2026

Kuliner Indonesia Masuk 10 Besar Dunia Versi TasteAtlas 2026, Nasi Padang Jadi Salah Satu yang Tertinggi

11 Jun 2026

Majelis Masyayikh: Pengakuan terhadap Pesantren Harus Diikuti Dukungan Pendanaan

12 Jun 2026

Perkuat Posisi Tawar Industri Pers, Dewan Pers Himpun Masukan soal RUU Hak Cipta

12 Jun 2026

AMSI Soroti Ancaman FIMI, Bentuk Baru Manipulasi Informasi di Era AI

14 Jun 2026

Kementerian Kehutanan Lepasliarkan Elang Jawa dan Resmikan Fasilitas Konservasi di Megamendung

15 Jun 2026

9 Tradisi Malam Satu Suro di Berbagai Daerah yang Masih Dilestarikan hingga Kini

15 Jun 2026

Lima Kasus HAM yang Pernah Terjadi di Indonesia, Ada yang Belum Selesai!

10 Des 2019

Sebelum Menikah, Coba deh Hitung Wetonmu dan Pasangan, Cocok Nggak?

24 Jun 2020

Terkuak, Ini Penyebab Mitos Orang Jawa dan Sunda Nggak Boleh Menikah

28 Jun 2020

Inibaru Media adalah perusahaan digital yang fokus memopulerkan potensi kekayaan lokal dan pop culture di Indonesia, khususnya Jawa Tengah. Menyajikan warna-warni Indonesia baru untuk generasi millenial.

A Group Member of

Ikuti kamu di: