BerandaFoto Esai
Senin, 24 Sep 2023 09:00

Guyang Cekathak dan Ritus Pemanggil Hujan dari Lereng Muria

Cekathak Guyangan, tradisi meminta hujan masyarakat Desa Colo, Kecamatan Dawe, Kabupaten Kudus, dilakukan dengan mengarak pelana kuda Sunan Muria menuju Sendang Rejoso untuk dimandikan.

Tiap Jumat Wage terakhir bulan September, masyarakat Lereng Muria menggelar Guyang Cekathak, upacara mengarak pelana kuda yang merupakan bagian dari ritus pemanggil hujan di Desa Colo.

Inibaru.id - Masyarakat Jawa begitu kental dengan tradisi dan budaya. Hal itu umumnya dilakukan sebagai bentuk respons atas fenomena alam yang terjadi di sekitarnya, termasuk saat musim kemarau tiba seperti sekarang ini.

Masyarakat Desa Colo, Kecamatan Dawe, Kabupaten Kudus, misalnya, merespons musim kemarau kali ini dengan melangsungkan tradisi Guyang Cekathak. Ritual adat yang digelar pada pertengahan September lalu itu dilakukan untuk bermunajat kepada Yang Maha Kuasa agar hujan segera turun.

Dalam bahasa Jawa, "guyang" berarti memandikan, sedangkan "cekathak" adalah pelana kuda. Nah, tradisi ini merupakan ritual memandikan pelana kuda peninggalan Sunan Muria di Sendang Rejoso. Hal itu dilakukan sebagai bentuk penghormatan terhadap putra Sunan Kalijaga tersebut.

Oya, Sunan Muria adalah ulama anggota dewan Walisongo yang sangat berjasa terhadap penyebaran Islam di Kawasan Muria. Pemuka agama bernama asli Umar Said ini hidup sekitar abad ke-16 dan dimakamkan di Desa Colo selepas wafat pada 1560.

Dari Makam ke Sendang Rejoso

Tradisi Guyang Cekathak biasanya digelar pada Jumat Wage terakhir bulan September yang umumnya menjadi puncak dari musim kemarau. Untuk tahun ini, prosesi tersebut jatuh pada 15 September lalu, yang dimulai dari kompleks permakaman Sunan Muria.

Mengawali ritual, sejak pagi puluhan warga telah berkumpul di kompleks permakaman yang berlokasi di Desa Colo itu untuk memanjatkan tahlil dan doa bersama. Doa dipimpin oleh perwakilan Yayasan Masjid dan Makam Sunan Muria (YM2SM) bersama pemangku adat.

Selesai berdoa, cekathak yang ditutup kain putih dan dupa bakar dikirab menuju Sendang Rejoso, tempat yang dipakai untuk memandikan benda warisan berusia ratusan tahun itu. Diiringi selawat serta tetabuhan kesenian terbang papat, cekathak dikirab bersama hantaran berkat bikinan warga.

Perjalanan menuju Sendang Rejoso hanya memakan waktu sekitar 10 menit. Ratusan warga tampak telah menunggu dengan antusias di sekitar area sendang yang konon pernah menjadi tempat wudu Sunan Muria serta kebutuhan mengangsu air dan mandi masyarakat setempat ini.

Mewariskan Tradisi

Ketua Dewan Pembina YM2SM Mastur mengatakan, tradisi Guyang Cekathak merupakan cara masyarakat setempat melestarikan peninggalan Sunan Muria yang masih tersisa agar bisa terus diwariskan kepada generasi mendatang.

"Dulu, Sunan Muria berkedara dengan kuda putih. Ini (menunjuk ke arah cekathak) adalah tempat duduknya. Kami berusaha menjaganya," terang sosok yang biasa disapa Mbah Mastur ini kepada Inibaru.id seusai ritual dilangsungkan.

Ritus membasuh cekathak yang dilakukan dua tokoh adat berlangsung cepat. Setelahnya, pelana yang terlihat telah lapuk itu diletakkan di bawah pohon yang tumbuh di pojok sendang bersama puceng, dawet muria, dan bubur ketan. Terakhir, mereka makan bersama sebelum mengguyang dawet atau bubur ketan ke udara.

"Secara simbolis, kami mengguyang dawet ke udara menyerupai hujan yang turun. Ini bukan syirik, tapi sekadar syarat; meneruskan tradisi sekaligus cara mengingat jasa Mbah Sunan," terangnya.

Ritual Seperempat Abad

Mbah Mastur mengungkapkan, tradisi Guyang Cekathak telah digelar selama 25 tahun terakhir sebagai upaya mengingat jasa Sunan Muria terhadap masyarakat Colo. Ritual ini juga menjadi cara masyarakat memohon doa berkah hujan pada musim kemarau.

"Kami lestarikan tradisi ini untuk mengingat jasa beliau (Sunan Muria) sekaligus mohon doa berkah hujan lewat washilah Mbah Sunan," kata dia.

Triyanto R Soetardjo, warga setempat, mengaku selalu antusias setiap mengikuti tradisi Guyang Cekathak. Lelaki yang kerap disapa Mas Ribut itu mengatakan, sudah berkali-kali dia turut serta dalam tradisi ini sebagai upaya ngalap berkah dari Sunan Muria sekaligus membantu teman-temannya.

"(Perhelatan) dulu dan sekarang agak beda, sih. Dulu, dawet diguyang pas warga sedang makan, jadi mubazir; tapi sekarang sudah diubah, dawet diguyang selepas acara," kenang Triyanto, menceritakan pengalamannya bertahun-tahun mengikuti tradisi yang tengah diusulkan sebagai Warisan Budaya Tak Benda itu.

Oya, selama Guyang Cekathak berlangsung, semua pengunjung bisa menikmati dawet muria yang dibagikan secara gratis! So, tahun depan wajib banget datang ke sini, Millens! (Hasyim Asnawi/E03)

Puluhan warga, tokoh adat, dan pengurus yayasan, berdoa di area Makam Sunan Muria sebelum ritual inti Guyang Cekathak dilangsungkan.
Hantaran berkat makanan dan lauk pauk yang dihidangkan dalam prosesi tradisi guyang cekathak.
Bentuk pelana kuda Sunan Muria yang masih dilestarikan sampai sekarang.
Tokoh adat setempat melemparkan dawet bubur ketan ke udara sebagai simbol meminta hujan.
Ratusan masyarakat Colo berkumpul area Sendang Rejoso, berdoa meminta turunnya hujan.
Suasana perayaan tradisi Guyang Cekathak di Sendang Rejoso di Desa Colo, Kecamatan Dawe, Kabupaten Kudus, Jumat (15/9/2023).
Dawet Muria, bubur ketan, beserta ubo rampe lain yang sedang didoakan tokoh adat setempat.
Prosesi memandikan cekathak (pelana kuda) Sunan Muria dengan air dari Sendang Rejoso.
Cekathak dikirab menuju sendang dengan khidmat oleh masyarakat Colo.
Cekathak Guyangan, tradisi meminta hujan masyarakat Desa Colo, Kecamatan Dawe, Kabupaten Kudus, dilakukan dengan mengarak pelana kuda Sunan Muria menuju Sendang Rejoso untuk dimandikan.

Tags:

ARTIKEL TERKAIT

Warteg on Train, Inovasi Kuliner KAI yang Bikin Penumpang Penasaran

19 Okt 2026

Indonesia Women's League 2026 Resmi Dibuka, Sepak Bola Wanita Indonesia Siap Berkembang

21 Okt 2026

Ghost in the Cell Borong Dua Penghargaan di Sitges Film Festival 2026

22 Okt 2026

Jauh Sebelum Pajak Modern, Jawa Kuno Sudah Punya Sistem Pajak Tanah

23 Okt 2026

Pesawat N219 Buatan Indonesia Siap Terbang Desember 2026

24 Okt 2026

Progres Tol Semarang-Demak Capai 79,42 Persen, Ditarget Rampung 2027

26 Okt 2026

Dari Surabaya, Lahir Seruan Jihad yang menginspirasi Hari Santri Nasional

27 Okt 2026

Mengapa Salatiga Disebut Salah Satu Kota Tertua di Indonesia? Ini Sejarahnya

28 Okt 2026

Menjaga Napas Rawa Gambut yang Kian Rentan Terbakar

29 Okt 2026

Poke Wayang, Ketika Pikachu dan Wayang Kulit Bertemu dalam Satu Panggung

30 Okt 2026

Asal-usul Warmindo, Warung Mi Instan yang Berawal dari Burjo

31 Okt 2026

Lima Kasus HAM yang Pernah Terjadi di Indonesia, Ada yang Belum Selesai!

10 Des 2019

Sebelum Menikah, Coba deh Hitung Wetonmu dan Pasangan, Cocok Nggak?

24 Jun 2020

Terkuak, Ini Penyebab Mitos Orang Jawa dan Sunda Nggak Boleh Menikah

28 Jun 2020

Cek Daftar Kata Ini Sebelum Beli Baju di Online Shop

30 Mei 2018

Macan Akar a.k.a Kucing Hutan kok Dipiara

7 Des 2017

Jarang Disadari, Begini Ciri-Ciri WhatsApp yang Disadap dan Cara Mencegahnya

1 Mar 2021

Kidung Rumekso Ing Wengi, Mantra Tolak Bala Warisan Sunan Kalijaga

15 Nov 2020

Terjawab Sudah Alasan Achmad Yurianto Diganti Reisa Broto Asmoro

10 Jun 2020

8 Tokoh Penting Kongres Pemuda II yang Lahirkan Sumpah Pemuda

28 Okt 2017

Inibaru Media adalah perusahaan digital yang fokus memopulerkan potensi kekayaan lokal dan pop culture di Indonesia, khususnya Jawa Tengah. Menyajikan warna-warni Indonesia baru untuk generasi millenial.

A Group Member of

Ikuti kamu di: