BerandaTradisinesia
Senin, 3 Jan 2021 12:00

Semar, Sosok Lokal yang Dimunculkan Dalam Kidung Sudamala

Semar, pengasuh Pandawa. (Kompas)

Dalam dunia pewayangan, Semar dikenal sebagai tokoh lucu, sederhana, jujur, tulus, berpengetahuan, dan tajam batinnya. Ia merupakan tokoh Punakawan yang paling dihormati dan menjadi pengasuh Pandawa. Kira-kira kapan ya tokoh ini mulai dikenal?

Inibaru.id – Semar digambarkan dengan sosok bertubuh bulat, tersenyum, dan bermata sembab. Ia bukan laki-laki atau perempuan. Keunikan fisik ini kerap menjadikan Semar sebagai simbol kehidupan oleh orang Jawa.

Tubuh bulat ibarat bumi yang bulat. Bibir yang selalu tersenyum namun mata sembab dan berair mata menjadi gambaran hidup manusia yang diwarnai suka dan duka. Ia bukan lelaki, bukan pula perempuan yang menggambarkan jika manusia itu nggak sempurna. Setiap manusia memiliki ciri khas.

Tangan kanannya menunjuk ke atas yang berarti sang Maha Tunggal sementara tangan kirinya ke belakang yang bermakna berserah pada-Nya. Sosok ini memang lekat dengan gambaran spiritualitas.

Semar Dalam Sudamala

Sejarawan Prof Dr Slamet Muljana mengatakan kalau tokoh Semar ini kali pertama ditemukan di dalam karya sastra pada zaman Majapahit dengan judul Sudamala. Dipahat dalam bentuk relief di Candi Sukuh pada 1439, karya sastra ini berupa kakawin. Sudamala sangat popular di lingkup pencinta wayang.

Dalam Sudamala, Semar dikisahkan menemani Sadewa (Sudamala) ketika ditangkap Dewi Uma yang berwujud raksasa. Akibat selingkuh, Dewa Siwa mengubahnya dalam wujud yang mengerikan. Ia bisa kembali ke bentuk semula jika diruwat oleh Sadewa.

Uma terus memaksa Sadewa, tapi bungsu Pandawa ini selalu menolak. Ia merasa nggak bisa melakukan upacara ruwatan. Akhirnya, dengan bantuan Hyang Guru/Siwa, Sadewa bisa meruwat Uma. Sang Dewi pun kembali ke wujud semula dan pulang ke surga.

Semar dikenal bijaksana, lucu, tapi juga jahil. (Pixabay)<br>

Semar yang juga berada di sana kemudian menjahili Kalika yang tengah kebingungan. Jiwa jahilnya muncul. Kalika yang masih dikutuk menjadi raksasa ini diminta menyediakan nasi sebakul, aneka lauk pauk, dan sekendi tuak oleh Semar. Ia mengaku bisa meruwat Kalika seperti yang sudah dilakukan Sadewa kepada Uma.

Dengan polosnya Kalika menyiapkan itu semua. Setelah siap, Kalika diminta pergi oleh Semar yang langsung makan dengan lahap. Beberapa saat kemudian, Kalika baru sadar kalau sudah dikibuli Semar. Duh ternyata Semar jahil banget ya, Millens?

Selanjutnya, ketika Islam mulai berkembang di Pulau Jawa, sosok Semar masih ada. Bahkan bisa dibilang lebih dominan dibanding Sudamala. Pada era selanjutnya, tokoh ini dimunculkan para pujangga dengan derajat yang lebih tinggi. Ia bukan hanya rakyat jelata melainkan jelmaan Batara Ismaya.

Asal usul Semar

Sebagian besar orang Jawa percaya jika Semar adalah jelmaan dewa. Dalam Serat Kanda misalnya, Semar dikatakan putra Sang Hyang Nurasa. Nama asli Semar adalah Sang Hyang Tunggal. Karena tahta kayangan diberikan kepada saudaranya, Sang Hyang Wenang, Semar akhirnya menjadi pengasuh para ksatria.

Sebagian masyarakat mengenal sosok ini sebagai putra Sang Hyang Wisesa yang dianugerah Mustika Manik Astagina dan delapan kekuatan. Kedelapan kekuatan tersebut adalah nggak pernah mengantuk, nggak pernah lapar, nggak pernah jatuh cinta, nggak pernah sedih, nggak pernah lelah, nggak pernah sakit, nggak pernah kepanasan, dan nggak pernah kedinginan. Wuih!

Hal unik dari Semar adalah senjata kentutnya. Senjata ini memang bukan untuk membunuh tapi untuk menyadarkan orang-orang yang sedang berseteru.

Duh, kira-kira bau kentut Semar kayak apa ya, Millens? (Jag/IB21/E03)

Tags:

ARTIKEL TERKAIT

Sisi Positif Mitos Genderuwo; Cara Leluhur Jaga Pohon Raksasa Biar Sumber Air Tetap Awet

20 Apr 2026

Sumanto Dorong Desa Gempolan Jadi 'Surga' Durian: Jangan Cuma Tanam, Harus Inovasi!

20 Apr 2026

Jung Jawa, Jejak Kapal Raksasa Penguasa Laut Nusantara

21 Apr 2026

Spot Favorit Bali, Wajib Masuk Daftar Itinerary Liburan Keluarga

22 Apr 2026

Pilihan Penginapan Nyaman di Bandung untuk Liburan Singkat yang Maksimal

22 Apr 2026

Pendaftaran Beasiswa OSC 2026 Dibuka, Sediakan 140 Beasiswa S1

22 Apr 2026

7 Pemikiran Kartini yang Masih Relevan Sampai Saat Ini

23 Apr 2026

Adon-Adon Coro: Minuman Hangat Khas Jepara Favorit Kartini

23 Apr 2026

Kini Jadi Ancaman, Plastik Ternyata Pernah Jadi Solusi Menyelamatkan Bumi

24 Apr 2026

Sosialisasi Mitigasi Gunung Slamet, Pemprov Jateng Tekankan Keselamatan Warga

24 Apr 2026

Kasus Daycare Jogja: Tentang Kepercayaan, Pengasuhan, dan Sistem yang Belum Utuh

27 Apr 2026

Gunung Ungaran: Jejak Tiga Generasi yang Tumbuh dari Runtuhan

28 Apr 2026

Saat Video Kekerasan Anak Viral, Apa yang Seharusnya Kita Lakukan?

28 Apr 2026

Ilmu Tebang Bambu Leluhur, Tradisi Canggih yang Terbukti oleh Sains

30 Apr 2026

Belajar dari Burung Dodo: Ketika Dunia Berubah, Bertahan Saja Tidak Cukup

1 Mei 2026

Lima Kasus HAM yang Pernah Terjadi di Indonesia, Ada yang Belum Selesai!

10 Des 2019

Sebelum Menikah, Coba deh Hitung Wetonmu dan Pasangan, Cocok Nggak?

24 Jun 2020

Terkuak, Ini Penyebab Mitos Orang Jawa dan Sunda Nggak Boleh Menikah

28 Jun 2020

Cek Daftar Kata Ini Sebelum Beli Baju di Online Shop

30 Mei 2018

Macan Akar a.k.a Kucing Hutan kok Dipiara

7 Des 2017

Inibaru Media adalah perusahaan digital yang fokus memopulerkan potensi kekayaan lokal dan pop culture di Indonesia, khususnya Jawa Tengah. Menyajikan warna-warni Indonesia baru untuk generasi millenial.

A Group Member of

Ikuti kamu di: