BerandaTradisinesia
Senin, 21 Jun 2026 18:17

Mengapa Kebo Bule Selalu Hadir dalam Kirab Malam 1 Suro? Begini Sejarah dan Maknanya

Kawanan Kebo Bule Kyai Slamet memimpin prosesi Kirab Malam 1 Suro di Keraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat sebagai simbol keselamatan dan pelestarian tradisi leluhur. (Solokini)

Kebo Bule Kyai Slamet menjadi ikon Kirab Malam 1 Suro di Solo karena memiliki sejarah panjang dengan Keraton Surakarta dan dimaknai sebagai simbol keselamatan serta kemakmuran.

Inibaru.id - Kirab Malam 1 Suro di Keraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat selalu menjadi magnet bagi ribuan masyarakat. Namun, ada satu sosok yang tak pernah luput dari perhatian dan bahkan paling ditunggu kemunculannya, yakni kawanan kebo bule atau kerbau albino yang dikenal dengan nama Kebo Bule Kyai Slamet.

Setiap tahun, ribuan orang rela memadati kawasan Alun-Alun Kidul hingga kompleks keraton demi menyaksikan hewan yang telah menjadi ikon pergantian tahun baru Jawa tersebut. Kehadirannya pun bukan sekadar pelengkap prosesi, melainkan memiliki sejarah panjang dan makna filosofis yang mendalam.

Keterikatan antara kebo bule dan Keraton Surakarta telah berlangsung sejak masa pemerintahan Susuhunan Pakubuwana II. Leluhur Kebo Bule Kyai Slamet disebut merupakan hewan kesayangan sang raja.

Dalam buku Manajemen Risiko Tradisi Kirab Pusaka Malam 1 Suro Keraton Surakarta karya Yohana Maya Lalita (2019), diceritakan bahwa pada 1745 Pakubuwana II berencana memindahkan pusat kerajaan dari Kartasura yang porak-poranda akibat Geger Pecinan.

Kala itu, leluhur kebo bule sengaja dilepas bebas. Para abdi dalem kemudian mengikuti arah langkah kerbau tersebut. Perjalanan itu akhirnya berhenti di lokasi yang kini menjadi tempat berdirinya Keraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat.

Karena dianggap memberikan petunjuk bagi kelangsungan kerajaan, keturunan kerbau tersebut terus dipelihara dan diwariskan secara turun-temurun.

Menjadi Pembuka Jalan Kirab Pusaka

Dalam tradisi Keraton Surakarta, kebo bule memiliki peran sebagai cucuk lampah atau pembuka jalan. Kawanan kerbau ini berjalan paling depan dalam prosesi Kirab Malam 1 Suro.

Di belakangnya, para putra Sentana Dalem dan abdi dalem keraton berjalan khidmat sambil membawa pusaka-pusaka kerajaan dalam suasana hening atau tapa bisu.

Menariknya, prosesi kirab tidak sepenuhnya ditentukan berdasarkan waktu yang tertera di jam. Melansir laman resmi Pemerintah Kota Surakarta, kebo bule biasanya akan keluar dari kandangnya di kawasan Gurawan menuju halaman keraton secara alami ketika waktunya tiba, tanpa perlu digiring secara paksa.

Bagi masyarakat Jawa, khususnya di Solo dan sekitarnya, Kebo Bule Kyai Slamet bukan hanya hewan peliharaan keraton. Hewan ini dipercaya sebagai simbol keselamatan dan harapan akan kemakmuran.

Nama "Kyai Slamet" sendiri mengandung doa agar manusia senantiasa memperoleh keselamatan serta perlindungan dari Tuhan Yang Maha Esa dalam menjalani kehidupan.

Karena itu, kehadiran kawanan kerbau albino tersebut dalam setiap Kirab Malam 1 Suro menjadi simbol harapan memasuki tahun baru Jawa dengan kehidupan yang lebih baik.

Ada pemandangan unik yang hampir selalu terjadi saat Kirab Malam 1 Suro berlangsung. Banyak warga berusaha mendekat untuk menyentuh tubuh kerbau, mengambil sisa makanannya, bahkan mengumpulkan kotorannya.

Tradisi yang dikenal dengan istilah ngalap berkah itu diyakini sebagai cara untuk memperoleh keberuntungan dan keselamatan.

Meski sering dipandang bernuansa mistis oleh sebagian orang, masyarakat pendukung tradisi tersebut memaknainya sebagai bentuk penghormatan terhadap warisan leluhur atau nguri-nguri budaya.

Lebih dari sekadar hewan yang berjalan paling depan dalam kirab, Kebo Bule Kyai Slamet telah menjadi simbol yang menyatukan sejarah, budaya, dan spiritualitas masyarakat Jawa. Kehadirannya setiap Malam 1 Suro sekaligus menjadi pengingat untuk selalu mawas diri, menjaga keharmonisan dengan sesama dan alam, serta memohon keselamatan dalam menyambut lembaran tahun yang baru. (Ike/E01)

Tags:

ARTIKEL TERKAIT

Indonesia Women's League 2026 Resmi Dibuka, Sepak Bola Wanita Indonesia Siap Berkembang

21 Okt 2026

Ghost in the Cell Borong Dua Penghargaan di Sitges Film Festival 2026

22 Okt 2026

Jauh Sebelum Pajak Modern, Jawa Kuno Sudah Punya Sistem Pajak Tanah

23 Okt 2026

Pesawat N219 Buatan Indonesia Siap Terbang Desember 2026

24 Okt 2026

Progres Tol Semarang-Demak Capai 79,42 Persen, Ditarget Rampung 2027

26 Okt 2026

Dari Surabaya, Lahir Seruan Jihad yang menginspirasi Hari Santri Nasional

27 Okt 2026

Mengapa Salatiga Disebut Salah Satu Kota Tertua di Indonesia? Ini Sejarahnya

28 Okt 2026

Menjaga Napas Rawa Gambut yang Kian Rentan Terbakar

29 Okt 2026

Poke Wayang, Ketika Pikachu dan Wayang Kulit Bertemu dalam Satu Panggung

30 Okt 2026

Asal-usul Warmindo, Warung Mi Instan yang Berawal dari Burjo

31 Okt 2026

Jejak Upeti Pesisir Jawa yang Menguatkan Kerajaan Mataram

2 Nov 2026

Film Pendek Indonesia Golden Island Raih Penghargaan di Festival Film Singapura

3 Nov 2026

Lima Kasus HAM yang Pernah Terjadi di Indonesia, Ada yang Belum Selesai!

10 Des 2019

Sebelum Menikah, Coba deh Hitung Wetonmu dan Pasangan, Cocok Nggak?

24 Jun 2020

Terkuak, Ini Penyebab Mitos Orang Jawa dan Sunda Nggak Boleh Menikah

28 Jun 2020

Cek Daftar Kata Ini Sebelum Beli Baju di Online Shop

30 Mei 2018

Macan Akar a.k.a Kucing Hutan kok Dipiara

7 Des 2017

Jarang Disadari, Begini Ciri-Ciri WhatsApp yang Disadap dan Cara Mencegahnya

1 Mar 2021

Kidung Rumekso Ing Wengi, Mantra Tolak Bala Warisan Sunan Kalijaga

15 Nov 2020

Terjawab Sudah Alasan Achmad Yurianto Diganti Reisa Broto Asmoro

10 Jun 2020

Inibaru Media adalah perusahaan digital yang fokus memopulerkan potensi kekayaan lokal dan pop culture di Indonesia, khususnya Jawa Tengah. Menyajikan warna-warni Indonesia baru untuk generasi millenial.

A Group Member of

Ikuti kamu di: