Inibaru.id - Bagi sebagian masyarakat Jawa, Malam Satu Suro bukan sekadar pergantian tahun dalam kalender Jawa. Malam ini dipandang sebagai waktu yang sakral untuk melakukan refleksi diri, memanjatkan doa, hingga menjalankan berbagai ritual yang diwariskan turun-temurun.
Satu Suro sendiri bertepatan dengan 1 Muharram dalam kalender Hijriah. Tradisi ini berakar dari penanggalan Jawa yang diperkenalkan Sultan Agung Hanyakrakusuma pada abad ke-17, ketika kalender Saka yang berbasis matahari dipadukan dengan sistem kalender Hijriah yang berbasis peredaran bulan.
Seiring waktu, Malam Satu Suro berkembang menjadi bagian penting dari budaya masyarakat Jawa. Meski sering dikaitkan dengan nuansa mistis, banyak tradisi yang sebenarnya sarat makna spiritual, mulai dari perenungan diri, penghormatan terhadap leluhur, hingga ungkapan syukur dan harapan untuk tahun yang baru.
Menariknya, setiap daerah memiliki cara tersendiri dalam memperingati Malam Satu Suro.
1. Tapa Bisu dan Mubeng Benteng di Yogyakarta
Salah satu tradisi paling terkenal berlangsung di lingkungan Keraton Yogyakarta melalui ritual Mubeng Benteng.
Dalam tradisi ini, para abdi dalem dan masyarakat berjalan mengelilingi benteng keraton tanpa mengucapkan sepatah kata pun. Ritual yang dikenal sebagai tapa bisu tersebut dilakukan sebagai bentuk introspeksi diri dan perenungan menjelang tahun baru Jawa.
Peserta biasanya berjalan tanpa alas kaki sambil membawa doa dan harapan bagi keselamatan diri maupun masyarakat.
2. Kirab Kebo Bule di Surakarta
Di Keraton Kasunanan Surakarta, Malam Satu Suro identik dengan kirab pusaka yang melibatkan kerbau bule keturunan Kiai Slamet.
Kerbau tersebut dipercaya memiliki nilai historis dan spiritual sehingga selalu menjadi pusat perhatian masyarakat saat kirab berlangsung. Selain kerbau bule, sejumlah pusaka keraton juga diarak sebagai simbol pelestarian warisan budaya dan kesinambungan tradisi.
3. Jamasan Pusaka di Berbagai Daerah
Tradisi lain yang banyak dilakukan saat bulan Suro adalah jamasan pusaka atau pencucian benda-benda pusaka.
Ritual ini dapat ditemukan di Solo, Magelang, Blitar, hingga sejumlah wilayah pesisir Jawa. Proses pencucian biasanya menggunakan bahan-bahan alami seperti abu, jeruk nipis, minyak, dan bunga harum.
Bagi masyarakat yang melaksanakannya, jamasan bukan sekadar membersihkan benda pusaka secara fisik, melainkan juga menjadi simbol penghormatan terhadap sejarah dan nilai-nilai leluhur.
4. Semedi di Gunung Lawu
Gunung Lawu menjadi salah satu tujuan spiritual yang ramai dikunjungi saat Malam Satu Suro.
Sebagian peziarah memilih menghabiskan malam di kawasan gunung untuk berdoa, bermeditasi, atau melakukan laku batin. Aktivitas tersebut diyakini sebagai sarana mencari ketenangan, memperkuat spiritualitas, sekaligus melakukan refleksi diri.
5. Kungkum di Semarang
Di Semarang, sebagian masyarakat masih menjalankan tradisi kungkum atau berendam di sumber air tertentu saat Malam Satu Suro.
Salah satu lokasi yang dikenal adalah kawasan Tugu Soeharto di Bendan Nduwur. Tradisi ini dipercaya sebagai simbol pembersihan diri sebelum memasuki tahun yang baru.
6. Upacara Adat di Temanggung
Masyarakat Desa Traji, Parakan, Temanggung, memiliki cara unik menyambut Satu Suro.
Warga berjalan menuju sendang sambil membawa gunungan hasil bumi. Setelah berbagai prosesi adat dilakukan, gunungan tersebut diperebutkan masyarakat sebagai simbol keberkahan dan harapan akan hasil panen yang melimpah.
7. Kirab dan Pembakaran Sangkala di Malang
Di Desa Wonosari, Kabupaten Malang, masyarakat menggelar kirab budaya dengan membawa gunungan serta sangkala, yakni patung raksasa yang melambangkan sifat buruk manusia.
Pada akhir prosesi, sangkala dibakar sebagai simbol harapan agar masyarakat terhindar dari sifat tamak, iri hati, dan berbagai perilaku negatif lainnya.
8. Tradisi Nganggung di Bangka
Tak hanya di Pulau Jawa, semangat menyambut tahun baru Islam juga terlihat di Bangka melalui tradisi Nganggung.
Masyarakat membawa dulang berisi makanan ke masjid untuk disantap bersama setelah doa bersama selesai. Tradisi ini mencerminkan nilai gotong royong dan kebersamaan yang masih kuat di tengah masyarakat.
9. Ngadulag dan Pawai Obor
Di sejumlah daerah Jawa Barat, masyarakat menyambut datangnya 1 Muharram melalui tradisi Ngadulag atau lomba menabuh bedug.
Sementara itu, pawai obor juga masih menjadi tradisi yang banyak dijumpai di berbagai daerah Indonesia. Selain meriah, kegiatan ini menjadi simbol penyambutan tahun baru Islam sekaligus sarana mempererat hubungan sosial antarwarga.
Meski bentuk perayaannya berbeda-beda, sebagian besar tradisi Malam Satu Suro memiliki pesan yang sama, yakni mengajak masyarakat melakukan refleksi diri, memperkuat hubungan dengan Sang Pencipta, serta menjaga harmoni dengan sesama dan alam.
Di tengah perubahan zaman, berbagai tradisi tersebut menunjukkan bahwa nilai-nilai budaya dan spiritual yang diwariskan leluhur masih terus hidup dan dirawat oleh masyarakat hingga sekarang.
Kalau di daerahmu, tradisi apa yang biasanya dilakukan saat Malam Satu Suro? (Ike/E01)
