BerandaTradisinesia
Jumat, 13 Mar 2026 19:01

Numplak Wajik, Ritual 'Pondasi' Gunungan yang Penuh Simbol Doa dan Penolak Bala

Numplak Wajik, Ritual 'Pondasi' Gunungan yang Penuh Simbol Doa dan Penolak Bala

Upacara Numplak Wajik di Keraton Yogyakarta dipimpin oleh GRH Mangkubumi. (Kumparan)

Gunungan Keraton Yogyakarta itu simbol sedekah raja buat rakyatnya. Tapi, bikin gunung dari makanan itu ada tekniknya, lho. Biar kokoh dan berkah, Keraton menggelar upacara Numplak Wajik sebagai tanda dimulainya perangkaian gunungan. Uniknya, prosesi ini cuma dilakukan setahun tiga kali!

Inibaru.id – Kalau kamu main ke Jogja pas mau ada acara besar Keraton, pasti nggak asing sama yang namanya Gunungan. Tapi tahu nggak sih, sebelum gunungan-gunungan itu diarak cantik pas upacara Garebeg, ada satu prosesi "pemanasan" yang nggak kalah sakral dan unik?

Dalam setahun, Keraton Yogyakarta punya tiga hajatan besar yaitu Garebeg Mulud (Ultah Nabi Muhammad), Garebeg Sawal (Lebaran), dan Garebeg Besar (Iduladha). Nah, tiga hari sebelum hari-H Garebeg, tepatnya selepas Ashar, upacara Numplak Wajik pun digelar di Panti Pareden Kilen.

Sesuai namanya, bintang utama di sini adalah Wajik. Camelan manis dari ketan, gula jawa, dan santan ini nggak cuma buat dimakan, tapi berfungsi sebagai pondasi buat Gunungan Estri (Gunungan Putri).

Wajik ditaruh di dalam bakul besar yang dalamnya sudah dilapisi tiwul. Inti acaranya adalah proses numplak, yaitu menuangkan seluruh adonan wajik itu dengan cara membalikkan wadahnya di atas jodhang (landasan kayu pengangkut). Bayangkan, gundukan wajik setinggi pinggul orang dewasa harus berdiri kokoh buat menopang kerangka bambu dan hiasan gunungan di atasnya!

Irama Gejog Lesung yang Bikin Merinding

Abdi dalem memainkan gejog lesung untuk mengiringi prosesi Numplak Wajik. (Tirto)
Abdi dalem memainkan gejog lesung untuk mengiringi prosesi Numplak Wajik. (Tirto)

Suasana upacara ini syahdu banget, Gez. Begitu rombongan Abdi Dalem Keparak yang dipimpin Putri Dalem datang, suara Gejog Lesung langsung bertalu-talu.

Bukan sekadar musik, irama yang dihasilkan dari tumbukan alu dan lesung kayu ini punya makna mendalam. Ada irama khusus bernama Gendhing Tundhung Setan yang dipercaya sebagai penolak bala agar rangkaian acara Garebeg lancar jaya tanpa gangguan makhluk halus.

Lulur Dlingo Bengle; Rahasia Tolak Bala

Ada satu lagi yang ikonik: Abdi Dalem bakal mengoleskan lulur dari dlingo dan bengle ke jodhang gunungan. Buat masyarakat Jawa, aroma rempah ini paling nggak disukai makhluk halus.

Lucunya, setelah upacara selesai, sisa lulur ini sering jadi rebutan pengunjung yang hadir. Katanya sih, lulur ini bawa berkah dan perlindungan. Setelah doa dipimpin Abdi Dalem Kanca Kaji selesai, kerangka gunungan pun dililit kain sinjang dan semekan sebagai simbol "pakaian" gunungan estri.

Upacara yang berlangsung sekitar setengah jam ini jadi bukti kalau tradisi kita nggak cuma soal visual yang megah, tapi penuh dengan detail doa di setiap jengkal prosesnya. Jadi, kalau nanti kamu lihat Gunungan diarak, ingat ya, ada "pondasi manis" wajik di dalamnya yang sudah didoakan!

Gimana, makin tertarik buat lihat langsung prosesi adat di Keraton? (Siti Zumrokhatun/E05)

Tags:

Inibaru Indonesia Logo

Inibaru Media adalah perusahaan digital yang fokus memopulerkan potensi kekayaan lokal dan pop culture di Indonesia, khususnya Jawa Tengah. Menyajikan warna-warni Indonesia baru untuk generasi millenial.

Sosial Media

Copyright © 2026 Inibaru Media - Media Group. All Right Reserved