Kini Jadi Transportasi Wisata, Dulu Andong Jadi Penanda Status Sosial di Keraton

Kini Jadi Transportasi Wisata, Dulu Andong Jadi Penanda Status Sosial di Keraton
Dulu, andong adalah penanda status sosial di keraton, tepatnya Keraton Yogyakarta. (Twitter/ecosuntravel)

Kini, andong lebih dikenal sebagai kendaraan wisata. Padahal, dulu andong adalah penanda status sosial di Keraton Yogyakarta, lo.

Inibaru.id – Meski cukup terkenal di Indonesia, realitanya andong kini lebih sering ditemukan di tempat-tempat wisata saja. Sebagai contoh, kamu bisa menemukannya di sekitar Yogyakarta atau Solo. Padahal, sejarah andong lebih dari sekadar transportasi wisata. Dulu andong adalah penanda status sosial di keraton, lo.

Meski di zaman kerajaan, kuda dipakai sebagai alat transportasi. Ternyata, andong modern justru dibawa oleh seorang Belanda bernama Charles Theodore Deelman ke Tanah Air pada 1885. Omong-omong soal nama belakangnya, jadi mengerti kan kalau ada yang juga menyebutnya dengan delman?

Nah, saat itu, andong dianggap sebagai alat transportasi yang mewah sehingga hanya bisa dipakai oleh kaum bangsawan atau tuan tanah. Kalau masyarakat pribumi, biasanya hanya berjalan kaki atau memakai gerobak sapi atau kerbau. Saat itu, harga sapi dan kerbau memang lebih terjangkau dibanding kuda.

Andong di kawasan Keraton Yogyakarta. (Twitter/putrilailawati)
Andong di kawasan Keraton Yogyakarta. (Twitter/putrilailawati)

Penanda Status Sosial di Keraton

Ada alasan mengapa banyak andong di Yogyakarta. Jadi, dulu para raja-raja Mataram ternyata sering memakai andong sebagai kendaraan pribadinya. Namun, andong dijadikan penanda status sosial ketika  Keraton Yogyakarta Hadiningrat dipimpin oleh Sultan Hamengku Buwono VII.

Pada saat itu, hanya kalangan keraton saja yang memakai andong. Sementara rakyat biasa cenderung memakai gerobak sapi atau dokar yang hanya memiliki dua roda. Meski begitu, sejak kepemimpinan Hamengku Buwono VIII, andong juga mulai dipakai rakyat biasa, tepatnya para pedagang.

Sayangnya, seiring dengan kemajuan teknologi, semakin berkurang pula minat banyak orang untuk memiliki andong. Hal ini juga berlaku di keraton. Mereka mengganti kendaraan untuk para bangsawan dengan yang lebih modern.

Tapi, di banyak tempat kamu masih bisa menemukan andong sebagai transportasi wisata. Di Yogyakarta misalnya, kamu bisa menaikinya untuk berkeliling di sekitar Malioboro, kawasan Keraton, dan situs-situs bersejarah lainnya. Intinya, kalau kamu naik andong, bakal semakin terasa keren deh wisata ke Yogyakartanya.

Nggak nyangka ya Millens kalau dulu andong adalah penanda status sosial di keraton. Omong-omong, kamu pernah naik belum, nih? (Gnf/IB09/E05)