BerandaTradisinesia
Selasa, 11 Mar 2024 12:28

Memperingati Tahun Baru Saka, Kenapa Nyepi Hanya Ada di Bali?

Umat Hindu di Bali dan kawasan di sekitar Gunung Bromo memperingati Tahun Baru Saka dengan berdiam diri. (Antara/Nyoman Hendra Wibowo)

Semua umat Hindu selalu memperingati Tahun Baru Saka. Tapi khusus di Bali, peringatan tersebut dilakukan dengan cara berdiam diri yang disebut Nyepi. Kenapa Nyepi hanya ada di Bali, Indonesia, ya?

Inibaru.id - Seperti namanya, Hari Raya Nyepi dijadikan umat Hindu di Bali sebagai momentum untuk berdiam diri. Mereka memperingati Tahun Baru Saka dalam suasana tenang dan sunyi. Masyarakat di sana nggak diperkenankan untuk beraktivitas di luar rumah, dilarang menyalakan lampu, listrik, bersekolah, bekerja, bahkan bicara.

Nah, rupanya merayakan tahun baru Saka dalam ketenangan ini hanya terjadi di Bali. lo. Umat Hindu di belahan dunia lainnya, seperti di India, merayakan dengan penuh keramaian dan kemeriahan. Kamu tahu kenapa?

Yap, umat Hindu di Bali dan kawasan di sekitar Gunung Bromo memperingati Tahun Baru Saka dengan berdiam diri. Sementara umat Hindu di India yang terbagi dalam beberapa aliran justru memunculkan festival-festival pada Tahun Baru Saka. jadi, perayaannya nggak seragam, karena setiap daerah memiliki cara dan tradisi tertentu.

Beberapa festival di berbagai daerah di India di antaranya adalah Perayaan Ugadi di daerah Karnataka Maharashtra, dan Andhra Pradesh; Puthandu di bagian selatan India seperti Tamil Nadu, Kerala, dan Karnadakan; Bohag Bihu di Assam; Pohole Boisakh di kawasan perbukitan Tripur, India; Gudi Padwa di Konkani dan Maharashtra; dan Baisakhi di wilayah India bagian utara.

Kepercayaan Masyarakat Bali

Umat Hindu di Bali mengikuti ajaran Hindu Dharma yang merupakan bentuk sinkretisme antara agama Hindu dengan kepercayaan lokal. (Istimewa)

Umat Hindu di negara lain nggak merayakan Nyepi karena tradisi ini hanya berkembang di Bali. Umat Hindu di Bali memiliki sejarah dan budaya yang berbeda dengan umat Hindu di India atau negara lain. FYI, umat Hindu di Bali mengikuti ajaran Hindu Dharma yang merupakan bentuk sinkretisme antara agama Hindu dengan kepercayaan lokal.

Nyepi juga dipengaruhi oleh kalender Saka yang digunakan oleh masyarakat Hindu-Buddha di Indonesia sejak abad ke-8 Masehi. Sementara umat Hindu di negara lain biasanya merayakan tahun baru berdasarkan kalender Vikram Samvat yang dimulai pada tahun 57 SM dan memiliki perbedaan 135 tahun dengan kalender Masehi.

Tradisi Nyepi mulai dikenal sejak abad ke-10 Masehi ketika Raja Airlangga memerintah kerajaan Mataram Kuno di Jawa Timur. Raja Airlangga memiliki dua putra bernama Marakata dan Anak Wungsu. Setelah ayahnya wafat pada tahun 1049 Masehi, Marakata naik tahta sebagai raja Mataram Kuno dengan gelar Dharmawangsa Teguh Anantawikramottunggadewa.

Namun pada tahun 1052 Masehi, dia dibunuh oleh pemberontakan rakyat Wurawari yang dipimpin oleh Erlangga. Anak Wungsu kemudian melarikan diri ke Bali bersama beberapa pengikutnya dan mendirikan Kerajaan Warmadewa di sana.

Dia juga membawa serta kalender Saka dan tradisi Nyepi sebagai bentuk penghormatan kepada ayahnya. Sejak saat itu, tradisi Nyepi terus dilestarikan oleh masyarakat Hindu di Bali hingga sekarang, Millens. (Siti Khatijah/E07)

Tags:

ARTIKEL TERKAIT

Mengenal Kalender Aboge, Sistem Penanggalan Jawa-Islam yang Masih Bertahan hingga Kini

17 Jul 2026

OSC Award 2026 Umumkan 116 Penerima Beasiswa S1 Penuh, Pendaftar Tembus 7.600 Peserta

17 Jul 2026

Ragam Upacara Adat Jawa dari Kehamilan hingga Kematian, Sarat Makna dan Nilai Kehidupan

18 Jul 2026

Harga Pertamax Berpeluang Turun Bulan Depan, Ini Penjelasan Menteri ESDM

21 Jul 2026

Kepala Badan Gizi Nasional Nanik S Deyang Mengundurkan Diri, Fokus Jalani Pengobatan Jantung

22 Jul 2026

Populasi Macan Tutul Jawa di Gunung Ungaran Tinggal 4–7 Ekor, Konservasi Dinilai Kian Mendesak

22 Jul 2026

China Klaim Berhasil Komersialkan Chip Otak, Babak Baru Persaingan dengan Neuralin

23 Jul 2026

Penanda Perbatasan Baru DIY Segera Dibangun, Desain "Cahaya Pradipta" Terinspirasi Cahaya Matahari di Gunungkidul

24 Jul 2026

Sering Dianggap Sama, Ternyata Putu Bambu dan Putu Ayu Punya Banyak Perbedaan

25 Jul 2026

Dijuluki Little Tiongkok, Lasem Simpan Jejak Akulturasi Budaya yang Masih Terjaga

27 Jul 2026

KAI Siapkan Nusantara Explorer, Kereta Sleeper Mewah Bernuansa Budaya Indonesia

28 Jul 2026

BRIN Kembali Temukan 18 Ikan Purba Coelacanth di Pulau Talise, Bukti Pentingnya Konservasi Laut Dalam

29 Jul 2026

Mengenal Londo Ireng, Tentara Afrika yang Direkrut Belanda ke Nusantara

30 Jul 2026

Lima Kasus HAM yang Pernah Terjadi di Indonesia, Ada yang Belum Selesai!

10 Des 2019

Sebelum Menikah, Coba deh Hitung Wetonmu dan Pasangan, Cocok Nggak?

24 Jun 2020

Terkuak, Ini Penyebab Mitos Orang Jawa dan Sunda Nggak Boleh Menikah

28 Jun 2020

Cek Daftar Kata Ini Sebelum Beli Baju di Online Shop

30 Mei 2018

Macan Akar a.k.a Kucing Hutan kok Dipiara

7 Des 2017

Jarang Disadari, Begini Ciri-Ciri WhatsApp yang Disadap dan Cara Mencegahnya

1 Mar 2021

Kidung Rumekso Ing Wengi, Mantra Tolak Bala Warisan Sunan Kalijaga

15 Nov 2020

Inibaru Media adalah perusahaan digital yang fokus memopulerkan potensi kekayaan lokal dan pop culture di Indonesia, khususnya Jawa Tengah. Menyajikan warna-warni Indonesia baru untuk generasi millenial.

A Group Member of

Ikuti kamu di: