BerandaTradisinesia
Jumat, 9 Apr 2026 11:01

Kirab Tumpeng di Lereng Muria; Ikhtiar Pemuda Duplak Menolak Balak

Suasana Dukuh Duplak, Desa Tempur, Kecamatan Keling, Kabupaten Jepara. (Inibaru.id/ Imam Khanafi)

Di tengah bayang-bayang bencana longsor yang berulang, kirab tumpeng bertema Syukur Alam Ruwat Semesta sebagai upaya menolak balak kembali digelar di Lereng Muria, tepatnya di Dukuh Duplak, Desa Tempur, Kecamatan Keling, Kabupaten Jepara.

Inibaru.id – Akhir Maret lalu, suasana Dukuh Duplak, Desa Tempur, Kecamatan Keling, yang berlokasi sekitar 36 kilometer dari pusat kota Kabupaten Jepara, terasa berbeda. Di tengah bayang-bayang bencana longsor yang berulang, warga justru berkumpul dengan wajah-wajah penuh harap.

Mereka datang bukan sekadar untuk menyaksikan sebuah tradisi, tetapi juga merawat keyakinan bersama: bahwa alam bisa diajak berdamai. Pagi itu, kirab tumpeng bertema Syukur Alam Ruwat Semesta kembali digelar.

Barisan tumpeng diarak perlahan menyusuri jalan desa, melintasi rumah-rumah warga, menuju Punden Mbah Robyong; sebuah ruang sakral yang menjadi titik temu antara manusia, leluhur, dan alam.

Kirab ini bukan sekadar ritual tahunan, tapi juga ikhtiar kolektif untuk menolak balak, sekaligus bentuk syukur atas kehidupan yang masih terus berlangsung di lereng Pegunungan Muria.

Suasana Dukuh Duplak, Desa Tempur, Kecamatan Keling. (Inibaru.id/ Imam Khanafi)

Ahmad Yudi Irawan atau yang akrab disapa Wawan, perwakilan pemuda Dukuh Duplak, menuturkan bahwa kegiatan ini telah diwariskan sejak lama oleh leluhur. Namun, pemuda yang tergabung dalam organisasi Arjuna berinisiatif memberi sentuhan baru pada 2013, agar tradisi tetap hidup dan dekat dengan generasi sekarang.

“Kami atas nama pemuda Arjuna kembali menggelar kirab tumpeng dengan tema Syukur Alam Ruwat Semesta. Ini warisan leluhur, tapi kami kemas lebih meriah agar tetap relevan,” ujarnya.

Di tangan para pemuda, tradisi ini nggak hanya dijaga, tetapi juga ditafsir ulang. Kirab tumpeng tak lagi berdiri sendiri sebagai simbol budaya, tapi juga dirangkai dengan aksi nyata menjaga lingkungan.

Suasana Dukuh Duplak, Desa Tempur, Kecamatan Keling. (Inibaru.id/ Imam Khanafi)

Sejak pagi, warga bersama sukarelawan dan komunitas pencinta alam melakukan penanaman pohon di sejumlah titik rawan longsor. Tanah yang selama ini rentan diharapkan kembali kuat, seiring tumbuhnya akar-akar baru yang menahan lereng.

Tak lama berselang, langit Duplak diwarnai pelepasan burung. Sayap-sayap yang mengepak bebas menjadi simbol sederhana tapi mendalam: harapan akan alam yang kembali lestari, sekaligus pengingat bahwa manusia bukan satu-satunya penghuni bumi.

“Saya kira ini bukan hanya soal budaya, tapi juga kepedulian kami sebagai pemuda terhadap alam dan satwa,” kata Wawan.

Suasana Dukuh Duplak, Desa Tempur, Kecamatan Keling. (Inibaru.id/ Imam Khanafi)

Menjelang siang, sebelum kirab dimulai, panggung sederhana di kaki pegunungan dipenuhi gerak tari dari sanggar seni pemuda Arjuna. Alunan musik dan gerak tubuh para penari menghadirkan suasana hangat; sebuah pembuka yang menegaskan bahwa seni, tradisi, dan alam saling bertaut.

Kirab kemudian dimulai. Tumpeng-tumpeng diarak menyusuri jalur desa, menjadi simbol rasa syukur sekaligus doa. Warga berjalan beriringan, sebagian membawa hasil bumi, sebagian lagi mengabadikan momen dengan gawai mereka. Di sepanjang perjalanan, suasana terasa khidmat sekaligus guyub.

Setibanya di Punden Mbah Robyong, prosesi dilanjutkan dengan doa bersama. Warga duduk melingkar, memanjatkan harapan agar bencana segera mereda. Setelah itu, kenduri digelar sebagai makan-makan bersama sekaligus penutup yang sarat makna kebersamaan.

Suasana Dukuh Duplak, Desa Tempur, Kecamatan Keling. (Inibaru.id/ Imam Khanafi)

“Tumpeng dikirab di sepanjang jalur Duplak menuju Punden Mbah Robyong. Setelah sampai, kami doa bersama lalu kenduri,” jelas Wawan.

Bagi warga Duplak, kirab tumpeng bukan sekadar seremoni tahunan. Ia adalah ruang pertemuan antara masa lalu dan masa kini, antara kepercayaan leluhur dan kesadaran ekologis generasi muda.

Di tengah ancaman longsor yang masih membayangi Desa Tempur, kegiatan ini justru menunjukkan hal sebaliknya: keteguhan masyarakat untuk tetap hidup berdampingan dengan alam, bukan melawannya.

Menariknya, antusiasme warga terus meningkat dari tahun ke tahun. Peserta kirab tak hanya datang dari Duplak, tetapi juga wilayah sekitar. Hal ini menjadi tanda bahwa kesadaran kolektif untuk menjaga budaya dan lingkungan mulai tumbuh lebih luas.

Suasana Dukuh Duplak, Desa Tempur, Kecamatan Keling. (Inibaru.id/ Imam Khanafi)

“Kami berharap semua elemen masyarakat, mulai dari sesepuh hingga pemerintah, terus memberi dukungan kepada kami sebagai generasi muda,” tambahnya.

Di lereng Muria, kirab tumpeng kini menjelma lebih dari sekadar tradisi. Ia menjadi bahasa bersama untuk merawat harapan bahwa alam akan kembali ramah, bahwa kehidupan akan berjalan seperti sediakala.

Dan, di antara tumpeng, tarian, burung-burung yang dilepas, serta pohon-pohon yang baru ditanam, warga Duplak menitipkan doa sederhana: agar manusia dan alam kembali selaras, saling menjaga, dan saling menguatkan. (Imam Khanafi/E10)

Tags:

ARTIKEL TERKAIT

AI Factory Terbesar di Asia Tenggara Bakal Dibangun di Indonesia, Kapasitas Capai 1 GW

12 Agu 2026

Pelajar SD-SMP di Yogyakarta Bakal Wajib Berbahasa Jawa Krama Inggil Sehari dalam Sepekan

13 Agu 2026

Temuan Situs Bongal Geser Linimasa Masuknya Islam ke Nusantara hingga Tujuh Abad

14 Agu 2026

HUT ke-81 RI, KAI Beri Diskon Tiket 17 Persen

14 Agu 2026

Pertalite Bakal Dibatasi untuk Desil 9-10, Siapa Saja yang Masuk Kelompok Ini?

15 Agu 2026

Rerie Dorong Situs Patiayam Terus Dijaga sebagai Warisan Peradaban

16 Agu 2026

Unik! Upacara HUT RI di Gang Presiden Puntan Diramaikan Kostum Daur Ulang Sampah

17 Agu 2026

Motor Bensin Bisa Ditukar Motor Listrik, Pemerintah Siapkan Skema Baru

18 Agu 2026

Bukan Rekaman Asli 17 Agustus 1945, Ini Sejarah Suara Proklamasi Bung Karno

19 Agu 2026

Negara Pertama yang Mengakui Indonesia Merdeka

20 Agu 2026

Sinewara, Bioskop BUMN Besutan PFN Siap Meluncur 2027

21 Agu 2026

Garuda Indonesia Uji Internet Cepat di Udara, Video Call dari Ketinggian 30 Ribu Kaki

22 Agu 2026

Mulai 1 Oktober, Semua Merchant Bisa Nikmati Transaksi QRIS Bebas Biaya

24 Agu 2026

Mengenal Sekaten, Tradisi Maulid Nabi Warisan Dakwah Wali Songo

25 Agu 2026

Lima Kasus HAM yang Pernah Terjadi di Indonesia, Ada yang Belum Selesai!

10 Des 2019

Sebelum Menikah, Coba deh Hitung Wetonmu dan Pasangan, Cocok Nggak?

24 Jun 2020

Terkuak, Ini Penyebab Mitos Orang Jawa dan Sunda Nggak Boleh Menikah

28 Jun 2020

Cek Daftar Kata Ini Sebelum Beli Baju di Online Shop

30 Mei 2018

Macan Akar a.k.a Kucing Hutan kok Dipiara

7 Des 2017

Jarang Disadari, Begini Ciri-Ciri WhatsApp yang Disadap dan Cara Mencegahnya

1 Mar 2021

Inibaru Media adalah perusahaan digital yang fokus memopulerkan potensi kekayaan lokal dan pop culture di Indonesia, khususnya Jawa Tengah. Menyajikan warna-warni Indonesia baru untuk generasi millenial.

A Group Member of

Ikuti kamu di: