BerandaTradisinesia
Kamis, 17 Jun 2026 17:25

Keraton Solo Keluarkan 14 Pusaka dan Kebo Bule dalam Kirab Malam 1 Suro

Tiga ekor Kebo Bule Kyai Slamet berjalan paling depan dalam Kirab Malam 1 Suro Keraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat yang disaksikan ribuan warga di sepanjang rute kirab. (ANTARA FOTO/Mohammad Ayudha)

Kirab Malam 1 Suro kembali digelar Keraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat dengan mengarak 14 pusaka dan Kebo Bule Kyai Slamet, sebuah tradisi yang sarat doa, refleksi, dan harapan menyambut tahun baru Jawa.

Inibaru.id - Keraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat menggelar Kirab Malam 1 Suro pada Rabu (17/6) dini hari dengan mengarak 14 pusaka dan tiga ekor Kebo Bule Kyai Slamet. Prosesi tahunan yang menjadi bagian dari peringatan tahun baru Jawa itu disaksikan ribuan warga yang memadati kawasan Keraton Solo dan sepanjang rute kirab.

Tepat pukul 00.00 WIB, dentang lonceng terdengar dari lingkungan keraton, menandai dimulainya kirab yang selama ini menjadi salah satu simbol pergantian tahun dalam penanggalan Jawa.

Tiga ekor Kebo Bule Kyai Slamet berjalan paling depan. Langkahnya perlahan namun mantap, seolah membuka jalan bagi rombongan yang mengikuti di belakangnya. Di belakang kerbau-kerbau keramat tersebut, para abdi dalem berjalan khidmat, disusul peserta kirab dan 14 pusaka keraton yang dikeluarkan khusus untuk prosesi malam itu.

Ribuan pasang mata menyaksikan iring-iringan yang bergerak dari Kamandungan Keraton Solo menuju berbagai ruas jalan utama kota. Tak sedikit warga yang memilih berdiri berjam-jam demi melihat langsung kirab yang hanya digelar setahun sekali tersebut.

Bagi masyarakat Jawa, Kirab Malam 1 Suro bukan sekadar tradisi budaya. Di balik langkah para peserta yang berjalan dalam keheningan, tersimpan harapan, doa, dan refleksi diri menyambut tahun baru Jawa.

KGPH Panembahan Agung Tedjowulan mengatakan prosesi kirab merupakan agenda tahunan Keraton Solo yang terus dijaga keberlangsungannya. Tahun ini, sebanyak 14 pusaka kembali dikeluarkan untuk mengikuti arak-arakan.

"Secara keseluruhan kirab berjalan lancar. Kita doakan semua sesuai dengan rencana. Total ada 14 pusaka dikeluarkan," ujarnya seperti dikutip dari Kumparan.

Kirab menempuh rute yang melintasi sejumlah ruas jalan bersejarah di pusat Kota Solo sebelum akhirnya kembali ke kompleks keraton. Di sepanjang perjalanan, masyarakat tampak antusias menyaksikan prosesi yang menjadi bagian penting dari tradisi budaya Jawa tersebut.

Melansir dari Kumparan, Ketua Eksekutif LDA, KPH Eddy Wirabhumi, mengajak masyarakat memaknai Malam 1 Suro sebagai momentum untuk memanjatkan doa-doa terbaik.

"Kami mengajak masyarakat untuk memanjatkan doa yang baik untuk orang yang dicinta, dan Tanah Air. Mudah-mudahan kebaikan itu memantul ke Keraton juga," katanya.

Tradisi yang Tak Selalu Dimaknai Lewat Kirab

Di sisi lain, peringatan Malam 1 Suro tahun ini juga memperlihatkan dinamika yang terjadi di lingkungan Keraton Solo. PB XIV Purbaya memutuskan tidak menggelar kirab pusaka dan memilih mengisi malam pergantian tahun Jawa dengan doa bersama serta tahlil.

Pengageng Paran Parakarsa PB XIV Purbaya, KPAAd Nur Wijaya Adiningrat, menjelaskan keputusan tersebut diambil atas dawuh langsung PB XIV Purbaya dengan mempertimbangkan berbagai faktor.

"Pertimbangan berbagai macam hal, termasuk prioritas keselamatan pusaka dan lain hal, maka Sampeyan Dalem Ingkang Sinuhun Pakubuwono XIV memutuskan untuk tidak miyoskan (mengeluarkan) pusaka (dari PB XIV) malam hari ini," jelasnya.

Menurut Nur Wijaya, esensi Malam 1 Suro sesungguhnya tidak hanya terletak pada kirab pusaka. Masih banyak tradisi spiritual lain yang menjadi bagian dari peringatan tahun baru Jawa.

"Upacara peringatan Malam 1 Suro itu bukan cuma kirab saja. Ada khaul dalem Pakubuwono X, wilujengan, doa bersama, iktikaf, salat hajat, hingga doa di Bandengan," tambahnya.

Perbedaan cara memperingati Malam 1 Suro tersebut menunjukkan bahwa tradisi Jawa memiliki banyak ruang pemaknaan. Sebagian diwujudkan melalui kirab yang melibatkan pusaka dan Kebo Bule, sementara sebagian lain diwujudkan melalui doa-doa yang dipanjatkan dalam suasana yang lebih hening.

Pada akhirnya, Malam 1 Suro bukan semata-mata tentang pusaka yang diarak atau keramaian yang mengiringinya. Lebih dari itu, malam sakral ini menjadi ruang untuk merenung, memanjatkan harapan, dan menjaga hubungan antara tradisi, spiritualitas, serta kehidupan masyarakat Jawa yang terus bergerak mengikuti zaman. (Ike/E01)

Tags:

ARTIKEL TERKAIT

Sritex Masuk Rencana Akuisisi Danantara, Ini Tujuan Pemerintah

18 Okt 2026

Warteg on Train, Inovasi Kuliner KAI yang Bikin Penumpang Penasaran

19 Okt 2026

Indonesia Women's League 2026 Resmi Dibuka, Sepak Bola Wanita Indonesia Siap Berkembang

21 Okt 2026

Ghost in the Cell Borong Dua Penghargaan di Sitges Film Festival 2026

22 Okt 2026

Jauh Sebelum Pajak Modern, Jawa Kuno Sudah Punya Sistem Pajak Tanah

23 Okt 2026

Pesawat N219 Buatan Indonesia Siap Terbang Desember 2026

24 Okt 2026

Progres Tol Semarang-Demak Capai 79,42 Persen, Ditarget Rampung 2027

26 Okt 2026

Dari Surabaya, Lahir Seruan Jihad yang menginspirasi Hari Santri Nasional

27 Okt 2026

Mengapa Salatiga Disebut Salah Satu Kota Tertua di Indonesia? Ini Sejarahnya

28 Okt 2026

Menjaga Napas Rawa Gambut yang Kian Rentan Terbakar

29 Okt 2026

Poke Wayang, Ketika Pikachu dan Wayang Kulit Bertemu dalam Satu Panggung

30 Okt 2026

Lima Kasus HAM yang Pernah Terjadi di Indonesia, Ada yang Belum Selesai!

10 Des 2019

Sebelum Menikah, Coba deh Hitung Wetonmu dan Pasangan, Cocok Nggak?

24 Jun 2020

Terkuak, Ini Penyebab Mitos Orang Jawa dan Sunda Nggak Boleh Menikah

28 Jun 2020

Cek Daftar Kata Ini Sebelum Beli Baju di Online Shop

30 Mei 2018

Macan Akar a.k.a Kucing Hutan kok Dipiara

7 Des 2017

Jarang Disadari, Begini Ciri-Ciri WhatsApp yang Disadap dan Cara Mencegahnya

1 Mar 2021

Kidung Rumekso Ing Wengi, Mantra Tolak Bala Warisan Sunan Kalijaga

15 Nov 2020

Terjawab Sudah Alasan Achmad Yurianto Diganti Reisa Broto Asmoro

10 Jun 2020

8 Tokoh Penting Kongres Pemuda II yang Lahirkan Sumpah Pemuda

28 Okt 2017

Inibaru Media adalah perusahaan digital yang fokus memopulerkan potensi kekayaan lokal dan pop culture di Indonesia, khususnya Jawa Tengah. Menyajikan warna-warni Indonesia baru untuk generasi millenial.

A Group Member of

Ikuti kamu di: