Inibaru.id - Di tengah riuh kirab budaya di kawasan Pecinan Semarang, Vincent tampak beberapa kali menangkupkan tangan sambil memejamkan mata. Setiap kali arak-arakan dewa altar melintas, ayah satu anak asal Gayamsari itu seolah tengah merangkai doa diam-diam di tengah keramaian yang padat.
Suasana Pecinan Minggu (12/4) siang itu benar-benar hidup oleh denting alat musik yang bersahut-sahutan dari berbagai rombongan peserta kirab budaya. Asap dupa sesekali mengepul dan menyatu dengan udara jalanan.
Warga berjejer di tepi jalan, sebagian sibuk merekam momen dengan ponsel, sebagian lain memilih diam menikmati iring-iringan yang bergerak pelan tapi penuh khidmat.
"Acara seperti ini bagus sekali. Saya selalu berdoa setiap altar dewa lewat itu intinya ingin diberikan perlindungan dan keberkahan dari Yang Maha Kuasa," ucap lelaki 31 tahun kepada Inibaru.id.
Bagi Vincent, kirab puluhan kelenteng di Pecinan Semarang bukan sekadar tontonan budaya, melainkan juga ruang untuk meningkatkan sisi spiritual. Dia bahkan sengaja mengajak anaknya agar bisa mengenal tradisi Tionghoa sejak dini, sebagai bagian dari warisan budaya yang perlu dipahami.
Kirab budaya ini menjadi puncak perayaan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-160 Kelenteng TTID Ling Hok Bio sekaligus HUT Yang Mulia Kongco Hok Tek Tjing Sien. Sekitar 57 kelenteng dari berbagai daerah di Indonesia ikut terlibat, menghadirkan arak-arakan yang tak hanya sarat ritual, tetapi juga kental nuansa kebersamaan dan seni pertunjukan.
Perwakilan Kelenteng Hok Sin Bio Manado, Jefri Luis, menyebut rombongannya membawa sejumlah perangkat ritual, seperti altar Hok Tek Cing Sin (Dewa Bumi), Macopong, hingga Lo Cia untuk memeriahkan kirab budaya tersebut.
Remaja 14 tahun ini mengaku sudah beberapa kali mengikuti kirab serupa di berbagai daerah. Namun, setiap daerah punya kekhasan tersendiri, termasuk dalam perlengkapan dan entitas yang dibawa, yang selalu menyesuaikan tradisi masing-masing kelenteng.
"Maknanya sederhana, supaya kita bisa terus melestarikan budaya yang diwariskan leluhur. Sudah menjadi kewajiban kita untuk tetap menghormati mereka sampai sekarang," imbuh Jefri.
Peserta kirab lainnya dari Kelenteng Hok Tek Bio Tangerang, Lowy mengatakan rombongannya membawa Joli yang di dalamnya terdapat Kim Sin. Dia mengaku senang bisa kembali terlibat dalam kirab budaya yang menurutnya selalu penuh energi itu.
"Kami membawa Joli dan Kim Sin ini untuk pembersihan jalan, supaya hal-hal buruk atau energi negatif di kawasan Pecinan tidak ada," jelasnya.
Sementara itu, Humas Panitia HUT ke-166 Kelenteng TTID Ling Hok Bio, Agung Kurniawan, menyampaikan bahwa sebanyak 57 kelenteng dari berbagai daerah di Indonesia diundang untuk mengikuti kirab budaya ini. Rutenya hampir mengelilingi seluruh kawasan Pecinan Semarang.
Agung menambahkan bahwa kirab budaya ini sebelumnya pernah digelar pada 2023. Meski perayaan HUT Kelenteng TTID Ling Hok Bio berlangsung setiap tahun, kirab besar seperti ini hanya diadakan tiga tahun sekali.
"Kami bertanya kepada roh suci yang berada di kelenteng. Jadi kirab budaya ini memang hanya digelar tiga tahun sekali," bebernya.
Rangkaian HUT Kelenteng TTID Ling Hok Bio yang puncaknya berlangsung selama dua hari pada Sabtu dan Minggu ini juga menghadirkan perpaduan budaya Jawa dan Tionghoa. Kolaborasi itu menjadi penegas bahwa harmoni dua budaya tersebut telah terjalin lama di tengah kehidupan masyarakat Semarang.
"Inilah yang kami sebut sebagai doa visual. Akulturasi ini bukan sekadar tontonan, tetapi pernyataan bahwa kami adalah bagian yang tak terpisahkan dari tanah Jawa," tandasnya.
Kirab puluhan kelenteng di Pecinan Semarang meninggalkan jejak yang lebih dari sekadar perayaan. Di balik arak-arakan dan riuh warga, tersimpan pesan tentang keterhubungan manusia, tradisi dan keyakinan yang terus dirawat dari masa ke masa, ya Gez. (Sundara/E10)
