BerandaTradisinesia
Selasa, 29 Des 2025 18:13

Antara Banyu Panguripan dan Tempat Sampah Raksasa: Masihkah Orang Jawa Memuliakan Sungai?

Sungai bermakna ruang spiritual bagi orang Jawa. (PT. Eticon Rekayasa Teknik)

Bagi masyarakat Jawa, sungai bukan sekadar aliran air yang membelah daratan. Ia adalah banyu panguripan sekaligus ruang spiritual tempat manusia berdialog dengan alam lewat topo kungkum hingga ritual larung. Namun, ironisnya, di balik filosofi Hamemayu Hayuning Bawono yang luhur, sungai-sungai kita kini justru sesak oleh limbah dan plastik.

Inibaru.id - Pernahkah kamu memperhatikan bagaimana sungai mengalir di tengah kota atau desa-desa di Jawa? Di satu sisi, ia dipuja dalam doa, namun di sisi lain, ia sesak oleh plastik dan limbah. Fenomena ini memicu pertanyaan besar; ke mana perginya kearifan lokal yang dulu diagung-agungkan leluhur kita?

Bagi masyarakat Jawa, sungai bukan sekadar infrastruktur alam. Ia adalah banyu panguripan atau air kehidupan. Tanpa sungai, padi di sawah nggak menguning dan sumur-sumur penduduk akan kering. Namun, melampaui fungsi ekologisnya, sungai adalah ruang spiritual yang sangat personal.

Dalam kosmologi Jawa, sungai dianggap sebagai "saudara tua". Ada etika nggak tertulis yang melarang kita berkata kotor atau membuang sampah sembarangan di sana. Larangan bermain di sungai saat senja atau cerita tentang kedung yang angker bisa jadi adalah mekanisme kontrol sosial agar manusia tetap waspada dan menghormati martabat alam.

Bahkan, bagi para pencari jati diri, sungai adalah tempat tirakat. Ritual topo kungkum (berendam di sungai) bukan sekadar mendinginkan badan, melainkan upaya menyelaraskan denyut nadi manusia dengan detak jantung bumi. Sungai adalah saksi bisu transisi kehidupan, mulai dari siraman sebelum pernikahan hingga ritual larung sesaji.

Paradoks: Mengapa Kini Menjadi Tempat Sampah?

Masih banyak orang modern yang membuang sampah ke sungai. (LPM Psikogenesis)

Jika filosofi Hamemayu Hayuning Bawono (memperindah keindahan dunia) begitu kuat, mengapa banyak orang Jawa justru menjadikan sungai sebagai tempat sampah raksasa? Suluk Islam Jawa menyebut ada beberapa faktor yang menyebabkan pergeseran ini:

Erosi Nilai Akibat Modernitas

Desentralisasi budaya membuat nilai-nilai wingit (keramat) dianggap sebagai takhayul belaka. Ketika kesakralan hilang, sungai hanya dipandang sebagai "saluran pembuangan" yang efisien secara ekonomis.

Krisis Lahan dan Urbanisasi

Padatnya pemukiman di bantaran sungai mengubah orientasi rumah yang dulu menghadap sungai (sebagai sumber kehidupan) menjadi membelakangi sungai (sebagai area belakang/kotor).

Putusnya Transmisi Pengetahuan

Ritual Bersih Kali kini seringkali hanya menjadi seremonial tanpa pemaknaan mendalam bagi generasi muda.

Menemukan Kembali Pijakan Budaya

Mengembalikan martabat sungai nggak cukup hanya dengan regulasi pemerintah. Kita butuh kembali ke akar. Memperlakukan sungai dengan hormat adalah bentuk etika ekologis tradisional yang paling nyata.

Menjaga sungai tetap bersih bukan hanya soal sanitasi, tapi soal menjaga martabat diri sendiri sebagai manusia yang hidup dari tetesan airnya. Mari kita mulai lagi dengan hal sederhana. Berhentilah menganggap sungai sebagai "halaman belakang", dan mulailah melihatnya sebagai wajah depan peradaban kita! (Siti Zumrokhatun/E05)

Tags:

ARTIKEL TERKAIT

Mengapa di Label Informasi Gizi Makanan Ada Tulisan yang Dicetak Tebal?

23 Mar 2026

Segarnya Pemandangan Alam Air Terjun Kembang Soka di Kulon Progo, DIY

23 Mar 2026

Induced Demand dan Paradoks Pembangunan Jalan di Wilayah Urban

23 Mar 2026

Halalbihalal: Tradisi Pemersatu Bangsa yang Lahir dari Diplomasi Politik dan Seruan Pedagang Martabak

23 Mar 2026

Panci Presto Disulap Jadi Alat Sterilisasi Pangan, Solusi Murah buat UMKM Naik Kelas

23 Mar 2026

Menu Kuliner Nusantara saat Halalbihalal di Semarang, Ini Rekomendasinya!

24 Mar 2026

Cantiknya Pemandangan Alam Lembah Manah di Sluke, Kabupaten Rembang

24 Mar 2026

Hangat dan Sederhana; Berlebaran dengan Harira di Maroko

24 Mar 2026

Dehidrasi Bisa Bikin Mood Berantakan dan Otak Lemot

24 Mar 2026

Okupansi 'Hotel Anabul' Pet Central Semarang Full selama Periode Mudik

24 Mar 2026

Lapangan Tanah Liat Hijau Terbukti Lebih Cepat Capai Net Zero

24 Mar 2026

Lebih dari Sekadar Pantai, Begini Serunya Main ke Pantai Balongan Rembang

25 Mar 2026

Rekomendasi Restoran Ramen Halal di Tokyo yang Bisa Kamu Coba

25 Mar 2026

Masjid Agung Sang Cipta Rasa dan Bentuk Cinta Sunan Gunung Jati untuk Istri

25 Mar 2026

Lelah Jadi 'Hustle Culture'? Saatnya Beralih ke Soft Living

25 Mar 2026

Tari Serimpi Sangupati; Diplomasi Cantik Keraton Jawa yang Siapkan Peluru buat Penjajah

25 Mar 2026

Tips Mendapatkan Spot Hanami untuk Melihat Bunga Sakura di Jepang

26 Mar 2026

Menilik Keindahan Puncak Gunung Mundri di Kecamatan Jepon, Blora

26 Mar 2026

Stevanus Ming, Juru Bahasa Isyarat yang Selalu Suarakan Teman-Teman Tuli

26 Mar 2026

Festival Balon Udara Kembaran, Daya Tarik Wonosobo Sepekan setelah Lebaran

26 Mar 2026

Inibaru Media adalah perusahaan digital yang fokus memopulerkan potensi kekayaan lokal dan pop culture di Indonesia, khususnya Jawa Tengah. Menyajikan warna-warni Indonesia baru untuk generasi millenial.

A Group Member of

Ikuti kamu di: