BerandaHits
Minggu, 7 Feb 2026 17:37

Kenapa Terumbu Karang Butuh Banget Bulu Babi?

Bulu babi. (Pixabay)

Sering dianggap pengganggu, bulu babi ternyata punya peran krusial sebagai herbivora pembersih alga. Tanpanya, terumbu karang kita bisa mati tertutup lumut!

Inibaru.id - Kalau kamu lagi snorkeling atau main di pantai, pasti sering banget diingatkan: "Hati-hati, ada bulu babi!". Hewan berduri tajam ini memang sering dianggap sebagai "musuh" bagi kaki kita yang telanjang. Tapi di balik duri hitamnya yang ngeri-ngeri sedap itu, si bulu babi ini ternyata pahlawan super bagi kelestarian terumbu karang, lo!

Bulu babi atau Echinoidea mungkin bukan hewan paling estetik di laut. Tapi, kehadirannya adalah jaminan kalau ekosistem laut kita lagi baik-baik saja. Di mana ada terumbu karang yang sehat, di situ hampir pasti ada pasukan bulu babi yang berjaga.

Syamsul Bahri Agus, pakar dari IPB University, menjelaskan kalau peran utama bulu babi adalah sebagai "tukang kebun" bawah laut.

“Biasanya, bulu babi tumbuh di perairan dangkal sekitar lima sampai 10 meter,” jelasnya, Kamis (29/1/2026) sebagaimana melansir Mongabay.

Bayangkan kalau terumbu karang adalah tanaman hias di tamanmu, nah alga adalah rumput liarnya. Kalau alga tumbuh terlalu subur, terumbu karang bisa tertutup, nggak dapat cahaya, dan akhirnya mati.

Di sinilah bulu babi beraksi. Sebagai herbivora sejati, mereka rajin "merumput" memakan makroalga yang tumbuh berlebih di atas karang. Berkat aksi makan-makan ini, terumbu karang tetap bersih dan punya ruang buat terus tumbuh.

Makin Keruh, Makin Suka!

Bulu babi penting karena mencegah karang tertutup alga. (Antara Foto)

Uniknya nih Gez, bulu babi ternyata paling suka tinggal di perairan yang cenderung keruh dan berlumpur. Tapi tenang, keruh di sini bukan berarti kotor karena polusi ya. Perairan keruh yang mereka sukai adalah yang kaya akan nutrien.

“Perairan keruh bukan berarti ekosistemnya rusak. Justru, keberadaan bulu babi menandakan ekosistem sehat. Semakin banyak jumlahnya, kesehatan ekosistem semakin bagus,” jelas Syamsul.

Jadi, kalau kamu melihat banyak bulu babi di sebuah perairan, itu sebenarnya bioindikator kalau ekosistem tersebut sehat dan subur. Sebaliknya, kalau perairan sudah tercemar limbah atau zat kimia, si "landak laut" ini bakal sulit bertahan hidup.

Ancaman Kematian Massal yang Misterius

Meski di Indonesia populasi bulu babi masih tergolong aman, dunia internasional lagi ketar-ketir nih. Sepanjang tahun 2022-2023, terjadi kematian massal bulu babi di Kepulauan Canary (Spanyol), Karibia, sampai Laut Merah.

Banyak ilmuwan yang bingung mencari penyebabnya. Ada dugaan karena serangan patogen (virus/bakteri) atau dampak perubahan iklim yang makin ekstrem. Untungnya, sejauh ini "pandemi" bulu babi tersebut belum terdeteksi masuk ke wilayah Asia Tenggara.

Potensi Tersembunyi di Indonesia

Indonesia sendiri adalah rumah bagi sekitar 84 jenis bulu babi. Beda dengan di Jepang yang menganggap telur bulu babi (uni) sebagai makanan mewah nan mahal, masyarakat kita rata-rata belum terbiasa mengonsumsinya. Pemanfaatan secara ekonomi pun masih sangat terbatas.

Padahal, bulu babi juga jadi tempat tinggal yang aman bagi ikan-ikan kecil, seperti Ikan Capungan Banggai (Banggai Cardinal Fish), yang sering bersembunyi di sela-sela durinya biar nggak dimakan predator.

Jadi, kalau nanti main ke pantai dan ketemu bulu babi, nggak perlu diganggu atau dibunuh ya, Gez. Cukup jaga jarak aman dan biarkan mereka melakukan tugas mulianya menjaga kebun karang tetap indah! (Siti Zumrokhatun/E05)

Tags:

ARTIKEL TERKAIT

Mengenal Kalender Aboge, Sistem Penanggalan Jawa-Islam yang Masih Bertahan hingga Kini

17 Jul 2026

OSC Award 2026 Umumkan 116 Penerima Beasiswa S1 Penuh, Pendaftar Tembus 7.600 Peserta

17 Jul 2026

Ragam Upacara Adat Jawa dari Kehamilan hingga Kematian, Sarat Makna dan Nilai Kehidupan

18 Jul 2026

Harga Pertamax Berpeluang Turun Bulan Depan, Ini Penjelasan Menteri ESDM

21 Jul 2026

Kepala Badan Gizi Nasional Nanik S Deyang Mengundurkan Diri, Fokus Jalani Pengobatan Jantung

22 Jul 2026

Populasi Macan Tutul Jawa di Gunung Ungaran Tinggal 4–7 Ekor, Konservasi Dinilai Kian Mendesak

22 Jul 2026

China Klaim Berhasil Komersialkan Chip Otak, Babak Baru Persaingan dengan Neuralin

23 Jul 2026

Penanda Perbatasan Baru DIY Segera Dibangun, Desain "Cahaya Pradipta" Terinspirasi Cahaya Matahari di Gunungkidul

24 Jul 2026

Sering Dianggap Sama, Ternyata Putu Bambu dan Putu Ayu Punya Banyak Perbedaan

25 Jul 2026

Dijuluki Little Tiongkok, Lasem Simpan Jejak Akulturasi Budaya yang Masih Terjaga

27 Jul 2026

KAI Siapkan Nusantara Explorer, Kereta Sleeper Mewah Bernuansa Budaya Indonesia

28 Jul 2026

BRIN Kembali Temukan 18 Ikan Purba Coelacanth di Pulau Talise, Bukti Pentingnya Konservasi Laut Dalam

29 Jul 2026

Mengenal Londo Ireng, Tentara Afrika yang Direkrut Belanda ke Nusantara

30 Jul 2026

Lima Kasus HAM yang Pernah Terjadi di Indonesia, Ada yang Belum Selesai!

10 Des 2019

Sebelum Menikah, Coba deh Hitung Wetonmu dan Pasangan, Cocok Nggak?

24 Jun 2020

Terkuak, Ini Penyebab Mitos Orang Jawa dan Sunda Nggak Boleh Menikah

28 Jun 2020

Cek Daftar Kata Ini Sebelum Beli Baju di Online Shop

30 Mei 2018

Macan Akar a.k.a Kucing Hutan kok Dipiara

7 Des 2017

Jarang Disadari, Begini Ciri-Ciri WhatsApp yang Disadap dan Cara Mencegahnya

1 Mar 2021

Kidung Rumekso Ing Wengi, Mantra Tolak Bala Warisan Sunan Kalijaga

15 Nov 2020

Inibaru Media adalah perusahaan digital yang fokus memopulerkan potensi kekayaan lokal dan pop culture di Indonesia, khususnya Jawa Tengah. Menyajikan warna-warni Indonesia baru untuk generasi millenial.

A Group Member of

Ikuti kamu di: