BerandaPasar Kreatif
Selasa, 14 Mei 2018 11:52

Sentra Produksi Nasi Kucing di Semarang Ada di Kampung Ini

Kampung Kawasan Industri Sego Kucing di Srondol Kulon, Banyumanik, Semarang. (Inibaru.id/Verawati Meidiana)

Kamu pernah makan nasi kucing? Yap, nasi "porsi mini" yang banyak dijual di angkringan itu jadi salah satu kuliner favorit masyarakat Jawa Tengah dan sekitarnya. Di Kota Semarang, ada sebuah kampung yang menjadi sentra pembuatan nasi tersebut. Hm, di mana ya?

Inibaru.id – Nasi bungkus porsi mini atau nasi kucing yang menjadi hidangan "istimewa" di angkringan selalu menggugah selera. Kendati porsi dan isinya cukup minimalis, menu yang umumnya kita akrabi pada akhir bulan itu hampir selalu ludes tiap malam. Nasi kucing adalah bisnis menggiurkan. Bahkan, di Semarang, ada satu kampung yang khusus memproduksi nasi-nasi bungkus seukuran kepalan tangan tersebut. Mereka menamakan diri Kawasan Industri Sego Kucing.

Bertempat di Jalan Srondol Kulon, Banyumanik, Kota Semarang, Jawa Tengah, tepatnya di RT 01 RW 01, banyak rumah yang memproduksi nasi kucing itu. Sentra produksi itu sudah ada sejak 1990-an. Konon, hampir seluruh angkringan nasi kucing di Semarang dipasok oleh kampung tersebut, Millens. Hm, keren, bukan?

Menurut Sri Budi, salah seorang pembuat nasi kucing, semula hanya ada satu rumah yang membuat nasi kucing di Srondol Kulon, yakni adiknya. Namun, perlahan bisnis itu menular. Lelaki yang kini menjabat sebagai Ketua RT tersebut mengatakan, bisnis nasi kucing yang tampak menggiurkan tersebut kemudian juga dilakukan banyak warga di kampung, termasuk dirinya.

Kala itu nasi yang juga disebut HIK (hidangan istimewa anak kos) tersebut menjadi primadona di Kota Semarang lantaran belum banyak kedai makanan seperti sekarang ini. Harganya pun tergolong murah, sehingga mampu menjangkau pelbagai kalangan. Nah, dari sinilah bisnis "kucingan", sebutan lain angkringan, berkembang pesat, yang juga berimbas pada bertambahnya pesanan nasi kucing di sentra produksi tersebut. 

Sri Budi, salah seorang pembuat nasi kucing di Kawasan Industri Sego Kucing, Semarang. (Inibaru.id/Verawati Meidiana)

Sri Budi bersama suaminya mulai memasok nasi kucing sejak 1991. Dari usaha tersebut, Sri, sapaan akrabnya, menyekolahkan anaknya, membeli tanah, bahkan membangun dapur khusus untuk produksi nasi kucing. Dari dapur tersebut mereka mampu memproduksi hingga 1.500 bungkus per hari. Namun, seiring dengan jumlah angkringan yang mulai menurun, dia kini hanya memproduksi sekitar 700 bungkus saban hari.

“Zaman dulu angkringan lebih banyak daripada sekarang. Belum banyak restoran juga. Saya biasanya memasak 40 kilogram beras. Ya, kalau sekarang paling hanya 20 kilogram saja,” jelas ibu dua anak tersebut kepada Inibaru.id di rumah produksinya belum lama ini.

Oya, Sri punya 10 macam lauk yang berbeda-beda pada menu nasi kucingnya. Lauk ayam, ikan, dan daging, diolah dengan berbagai bumbu yang berbeda. Menurut Sri, setiap rumah di Kampung Srondol Kulon punya menu nasi kucing yang berbeda-beda, jadi mereka bisa memasok satu angkringan yang sama.

Sejak pagi buta biasanya Sri dan suaminya sudah bergegas ke pasar untuk membeli bahan-bahan yang diperlukan. Pengolahan dilakukan sejak pukul 06.00 hingga 18.00 WIB.

“Sesekali istirahat, karena capai hanya berdua bikinnya,” jelas Sri sambil membungkus nasi kucing.

Nasi kucing (Inibaru.id/Verawati Meidiana)

Selain nasi kucing, Sri juga memasok beberapa menu tambahan yang dijual di angkringan pada umumnya, seperti sate usus. Semua itu diantarkan langsung ke seluruh angkringan di Semarang oleh Sri dan suaminya menjelang sore.

“Sekitar pukul 16.00, beberapa mulai diantar. Yang dekat-dekat dulu, seperti di Tembalang dan Pasar Jatingaleh. Setelah itu baru yang jauh seperti di daerah Wonodri dan Jalan Pahlawan,” katanya.

Hm, nggak nyangka ya, ternyata ada perjuangan superkeras yang dilakukan para produsen nasi kucing itu untuk sampai ke hadapan kita. Keren sih, benar-benar hidangan istimewa buat kita semua! Ha-ha. (Verawati Meidiana/E03)

Tags:

ARTIKEL TERKAIT

Riset CISDI: Satu Dekade Berlalu, Harga Rokok Tetap Murah, Reformasi Cukai Diperlukan

17 Apr 2026

Sisi Positif Mitos Genderuwo; Cara Leluhur Jaga Pohon Raksasa Biar Sumber Air Tetap Awet

20 Apr 2026

Sumanto Dorong Desa Gempolan Jadi 'Surga' Durian: Jangan Cuma Tanam, Harus Inovasi!

20 Apr 2026

Jung Jawa, Jejak Kapal Raksasa Penguasa Laut Nusantara

21 Apr 2026

Spot Favorit Bali, Wajib Masuk Daftar Itinerary Liburan Keluarga

22 Apr 2026

Pilihan Penginapan Nyaman di Bandung untuk Liburan Singkat yang Maksimal

22 Apr 2026

Pendaftaran Beasiswa OSC 2026 Dibuka, Sediakan 140 Beasiswa S1

22 Apr 2026

7 Pemikiran Kartini yang Masih Relevan Sampai Saat Ini

23 Apr 2026

Adon-Adon Coro: Minuman Hangat Khas Jepara Favorit Kartini

23 Apr 2026

Kini Jadi Ancaman, Plastik Ternyata Pernah Jadi Solusi Menyelamatkan Bumi

24 Apr 2026

Sosialisasi Mitigasi Gunung Slamet, Pemprov Jateng Tekankan Keselamatan Warga

24 Apr 2026

Kasus Daycare Jogja: Tentang Kepercayaan, Pengasuhan, dan Sistem yang Belum Utuh

27 Apr 2026

Gunung Ungaran: Jejak Tiga Generasi yang Tumbuh dari Runtuhan

28 Apr 2026

Saat Video Kekerasan Anak Viral, Apa yang Seharusnya Kita Lakukan?

28 Apr 2026

Ilmu Tebang Bambu Leluhur, Tradisi Canggih yang Terbukti oleh Sains

30 Apr 2026

Lima Kasus HAM yang Pernah Terjadi di Indonesia, Ada yang Belum Selesai!

10 Des 2019

Sebelum Menikah, Coba deh Hitung Wetonmu dan Pasangan, Cocok Nggak?

24 Jun 2020

Terkuak, Ini Penyebab Mitos Orang Jawa dan Sunda Nggak Boleh Menikah

28 Jun 2020

Cek Daftar Kata Ini Sebelum Beli Baju di Online Shop

30 Mei 2018

Macan Akar a.k.a Kucing Hutan kok Dipiara

7 Des 2017

Inibaru Media adalah perusahaan digital yang fokus memopulerkan potensi kekayaan lokal dan pop culture di Indonesia, khususnya Jawa Tengah. Menyajikan warna-warni Indonesia baru untuk generasi millenial.

A Group Member of

Ikuti kamu di: