BerandaKulinary
Selasa, 5 Jan 2026 11:01

Garam Asem H.Masduki, Ikon Kuliner Pekalongan yang Sukses Bikin Pelanggan Selalu Balik Lagi

Garang Asem H. Masduki, ikon kuliner Pekalongan yang legendaris. (Fransisca Nilawati)

Eksis sejak 1979, Garang Asem H. Masduki di Pekalongan kini dikenal sebagai ikon kuliner Kota Batik. Seperti apa sih keistimewaan dari kuliner yang satu ini?

Inibaru.id - Berbicara soal kuliner khas Pekalongan, nama garang asem punya tempat tersendiri di hati warganya. Bukan garang asem ayam yang dibungkus daun pisang seperti di daerah lain, melainkan garang asem daging sapi berkuah cokelat yang justru sekilas mirip rawon. Salah satu tempat paling legendaris untuk mencicipinya adalah Rumah Makan Garang Asem H. Masduki, yang sudah puluhan tahun menjadi rujukan penikmat rasa otentik Kota Batik.

Garang asem khas Pekalongan di rumah makan ini disajikan panas-panas langsung dari panci besar yang terus dipanaskan di atas kompor. Dalam bahasa Jawa, proses “digarang” itulah yang melahirkan nama garang asem.

Kuahnya berwarna kecokelatan karena menggunakan kluwek sebagai bumbu utama, namun teksturnya lebih encer dan ringan dibanding rawon. Di dalamnya terdapat irisan daging sapi yang dipotong kecil-kecil, ditambah belimbing wuluh, tomat hijau, serta cabai utuh yang memberi sensasi asam segar dan sedikit pedas.

Menu ini kali pertama diperkenalkan Masduki pada 1979, tak lama setelah ia menempati rumah makan di kawasan Alun-alun Kota Pekalongan. Sebelumnya, Masduki dikenal sebagai penjual nasi megono sejak era 1950-an. Garang asem hadir sebagai menu tambahan yang ternyata justru melejit dan booming pada era 1980-an. Sejak saat itu, nama “Garang Asem Masduki” melekat kuat sebagai ikon kuliner Pekalongan.

Menurut cerita keluarga, resep garang asem ini terinspirasi dari masakan sahabat Masduki. Sang istri, Mbah Raini, mengolahnya dengan cara berbeda, yaitu dengan daging yang diiris kecil dan disajikan panas, sehingga cita rasanya lebih nendang. Respons masyarakat luar biasa. Rumah makan yang buka dari sore hingga dini hari itu selalu penuh dengan antrean panjang.

Warung Makan H.Masduki yang legendaris. (Markus Budi Hermawan)

“Saking ramainya antrean, suasana warung jadi gerah banget. Ada kelakar yang menyebut orang meriang kalau makan di sini jadi sembuh meriangnya karena hal tersebut. Saking booming-nya garang asem ini akhirnya jadi ikon kuliner Pekalongan,” cerita cucu Masduki yang kini mengelola warung tersebut Syarifah sebagaimana dinukil dari Suaramerdeka, (12/12/2025).

Menariknya, tak sedikit pengunjung luar kota yang “kaget” saat kali pertama memesan garang asem di sini. Penampilannya yang gelap sering membuatnya dikira sebagai rawon. Lebih dari itu, bahannya yang bukan daging ayam juga sangat beda dari garang asem biasa. Untungnya, setelah mencicipi, banyak yang justru jatuh cinta pada rasanya yang ringan, segar, dan unik.

“Nggak asam seperti garang asem, tapi juga beda dari rawon ataupun sup daging. Kuahnya ringan tapi tidak medok, dan cocok disantap dengan nasi megono. Rasanya memang unik banget,” ungkap salah seorang pelanggan bernama Nadya Anty.

Kini, Rumah Makan Garang Asem H. Masduki bisa kamu temukan di dekat Alun-alun Kota Pekalongan, dan di Jalan Jenderal Sudirman yang strategis. Selain menu utama garang asem, sana kamu juga bisa menikmati paket sego megono lengkap dengan telur semur, soto tauto, sop iga, hingga berbagai menu khas Pekalongan lainnya.

Bagi yang sedang melintas atau singgah di Pekalongan, mampir ke Rumah Makan Garang Asem H. Masduki rasanya wajib masuk daftar. Di sana, kamu nggak sekadar makan, tapi juga menikmati sepotong cerita panjang kuliner tradisional yang terus dijaga lintas generasi, Gez. (Arie Widodo/E07)

Tags:

ARTIKEL TERKAIT

AMSI Soroti Ancaman FIMI, Bentuk Baru Manipulasi Informasi di Era AI

14 Jun 2026

Kementerian Kehutanan Lepasliarkan Elang Jawa dan Resmikan Fasilitas Konservasi di Megamendung

15 Jun 2026

9 Tradisi Malam Satu Suro di Berbagai Daerah yang Masih Dilestarikan hingga Kini

15 Jun 2026

TikTok Jadi Media Sosial Paling Sering Diakses Warganet Indonesia pada 2026

16 Jun 2026

Sensus Ekonomi 2026 Dimulai, Warga Jateng Diminta Sambut Petugas dengan Baik

17 Jun 2026

Keraton Solo Keluarkan 14 Pusaka dan Kebo Bule dalam Kirab Malam 1 Suro

17 Jun 2026

Temuan Prasasti di Klaten Bukan yang Pertama, Diduga Terhubung dengan Dua Prasasti Era Kolonial

18 Jun 2026

AMSI Dorong Kolaborasi Media untuk Menghadirkan Informasi Iklim yang Lebih Kredibel

19 Jun 2026

Kenapa Harga Pertamax Belum Turun Meski Ada Penurunan Harga Minyak Dunia? Ini Faktor yang Mempengaruhinya

20 Jun 2026

Mengapa Kebo Bule Selalu Hadir dalam Kirab Malam 1 Suro? Begini Sejarah dan Maknanya

21 Jun 2026

Melihat yang Luput: Dari Kudus, Festival Film Anak Bangsa Menyalakan Ruang Bagi Cerita-Cerita Kecil

22 Jun 2026

Kenali Ciri-Ciri Petugas Sensus Ekonomi 2026 Asli, Jangan Sampai Tertipu Oknum Mengatasnamakan BPS

23 Jun 2026

B50 Siap Beredar Juli 2026, Pemerintah Optimistis Tak Perlu Lagi Impor Solar

24 Jun 2026

Mendag Tegaskan NIB untuk Penjual Online Bukan untuk Pungutan Pajak

25 Jun 2026

5 Alasan Penting Mengapa Anda Harus Mengunjungi Dunia Fantasi Ancol Tahun Ini

25 Jun 2026

Dasun di Lasem, Galangan Kapal yang Pernah Menopang Armada Majapahit hingga Demak

26 Jun 2026

Lima Kasus HAM yang Pernah Terjadi di Indonesia, Ada yang Belum Selesai!

10 Des 2019

Sebelum Menikah, Coba deh Hitung Wetonmu dan Pasangan, Cocok Nggak?

24 Jun 2020

Terkuak, Ini Penyebab Mitos Orang Jawa dan Sunda Nggak Boleh Menikah

28 Jun 2020

Cek Daftar Kata Ini Sebelum Beli Baju di Online Shop

30 Mei 2018

Inibaru Media adalah perusahaan digital yang fokus memopulerkan potensi kekayaan lokal dan pop culture di Indonesia, khususnya Jawa Tengah. Menyajikan warna-warni Indonesia baru untuk generasi millenial.

A Group Member of

Ikuti kamu di: