BerandaKulinary
Rabu, 27 Apr 2021 17:00

Berbuka Puasa dengan Roti Gambang, Menunggu Gerobak Bakery Tan Ek Tjoan Datang

Roti Tan Ek Tjoan. (Twitter/SonoraFM92)

Gerobak roti Tan Ek Tjoan masih beredar di sekitar Bogor hingga kini. Beberapa roti zadul pun masih mereka jual. Hingga kini Saking lamanya ada di Indonesia, ada kisah mnarik saat Bung Hatta melahap habis roti Tan Ek Tjoan saat mampir di Bogor. Seperti apa ya ceritanya?

Inibaru.id – Roti Gambang sempat menjadi makanan utama orang Belanda di Bogor pada Zaman Kolonialisme di Indonesia. Saat ini kira-kira sudah seabad roti bertekstur keras dari Toko Roti Tan Ek Tjoan itu masih eksis dijajakan di Bogor dan Jakarta.

Nah, khusus untuk kamu yang tinggal di kawasan Ibukota dan pengin berbuka puasa dengan menu zadul, nggak ada salahnya mencicipi roti berwarna coklat berbentuk persegi panjang ini. Oya, kamu juga bisa mencicipi roti lain dari Toko Roti Tan Ek Tjoan yang biasa dijajakan dengan gerobak keliling.

Berdiri sejak 1920, Toko Roti Tan Ek Tjoan memang rajin menyapa masyarakat dengan gerobaknya yang khas. Jauh sebelum kemerdekaan, salah satu pabrik roti tertua di Indonesia ini memang telah menjadi bagian dari masyarakat kita.

Terkait toko yang semula menyasar para bule di Indonesia ini, Mangil Martowidjojo dalam Kesaksian Tentang Bung Karno menceritakan, Wakil Presiden Pertama RI Mohammad Hatta pernah mencicipi roti di toko ini dan menyantapnya sekali makan hingga tandas.

Kala itu, Hatta yang tengah dalam perjalanan dari Jakarta ke Megamendung berhenti di depan Toko Roti Tan Ek Tjoan di Bogor. Dia kemudian meminta Sardi, pengawal Sukarno, untuk membeli roti yang kala itu harganya Rp 3,75.

Terkenal di Jakarta dan Bogor

Roti Tan Ek Tjoan kini sering dijajakan dengan gerobak. (Twitter/Acipanser)

Toko Roti Tan Ek Tjoan didirikan seorang pemuda keturunan Tionghoa bernama Tan Ek Tjoan. Berdiri sekitar 1920, pabrik roti itu didirikan di rumahnya yang berlokasi di Jalan Perniagaan, Buitenzorg (kini dikenal sebagai Jalan Suryakencana, Bogor).

Roti ini sangat terkenal di Jakarta dan Bogor sehingga pada 1953, Tan membuka kedai di sekitar Tamansari. Dua tahun kemudian, kedai ini berpindah di Cikini, Jakarta. Sayang, kedai di Cikini ini terpaksa ditutup, sehingga hanya menyisakan kedai di Bogor.

Pada awal pendirian, Tan hanya menyasar orang-orang Belanda di Bogor. Namun, rupanya roti ini juga ikut populer di kalangan pribumi dan orang-orang keturunan Tionghoa. Maka, kemudian muncul sebuah anggapan bahwa salah satu faktor rukunnya orang pribumi, Tionghoa, dan Belanda di Bogor adalah karena memakan roti yang sama. Ha-ha.

Populer dengan Roti Gambang

Roti Gambang di Tan Ek Tjoan. (Ramahtraveler/Yopie Pangkey)

Salah satu produk roti Tan Ek Tjoan yang paling populer adalah Roti Gambang. Roti ini disebut demikian karena berbentuk seperti bilah gambang kromong, alat musik perkusi tradisional merupakan perpaduan kultur Betawi dan Tionghoa. Teksturnya keras, tapi lembut pada bagian dalam.

Selain Gambang, salah satu roti yang juga legendaris di toko Tan Ek Tjoan adalah Roti Bimbam. Berbeda dengan Roti Gambang yang keras, Tori Bimbam lebih lembut.

Kalau kamu pengin mencicipi roti di toko legendaris ini, silakan tunggu gerobaknya datang. Kalau nggak sabar, sembari ngabuburit, silakan datang ke daerah Siliwangi, Bogor. Toko Tan Ek Tjoan sudah nggak di daerah Suryakencana lagi, Millens!

Duh, waktu berbuka kapan ya? Ha-ha. (Goo/IB09/E03)

Tags:

ARTIKEL TERKAIT

Mengulik Filosofis Naga Jawa dalam Kosmologi Masyarakat Jawa Kuno

2 Jun 2026

Prabowo Copot Dadan Hindayana dari Kepala BGN, Nanik S Deyang Ditunjuk sebagai Pengganti

3 Jun 2026

Dolar Tembus Rp18.000, Apa Dampaknya bagi Masyarakat dan Apa yang Perlu Dilakukan?

4 Jun 2026

Membaca Duduk Perkara Kasus MBG: Berikut Dugaan Penyimpangan yang Sedang Diusut

4 Jun 2026

Bancakan, Tradisi Makan Bersama Masyarakat Jawa yang Sarat Makna Kebersamaan

5 Jun 2026

Grebeg Besar Keraton Solo, Tradisi Iduladha yang Menyatukan Syukur, Budaya, dan Harapan

5 Jun 2026

Mirip Orient Express, KAI Siapkan Kereta Wisata Premium Nusantara Explorer dari Jakarta hingga Banyuwangi

6 Jun 2026

Bediding Kembali Datang Saat Musim Kemarau, Dari Mana Asal Istilahnya?

7 Jun 2026

Akun Instagram Bisa Diretas Lewat Chatbot AI? Ini Penjelasannya

8 Jun 2026

Puluhan Rafflesia Bermekaran di Anambas, Peneliti Temukan Habitat Baru

9 Jun 2026

Berusia 67.800 Tahun, Cap Tangan di Pulau Muna Pecahkan Rekor Dunia

10 Jun 2026

Kuliner Indonesia Masuk 10 Besar Dunia Versi TasteAtlas 2026, Nasi Padang Jadi Salah Satu yang Tertinggi

11 Jun 2026

Majelis Masyayikh: Pengakuan terhadap Pesantren Harus Diikuti Dukungan Pendanaan

12 Jun 2026

Perkuat Posisi Tawar Industri Pers, Dewan Pers Himpun Masukan soal RUU Hak Cipta

12 Jun 2026

AMSI Soroti Ancaman FIMI, Bentuk Baru Manipulasi Informasi di Era AI

14 Jun 2026

Kementerian Kehutanan Lepasliarkan Elang Jawa dan Resmikan Fasilitas Konservasi di Megamendung

15 Jun 2026

9 Tradisi Malam Satu Suro di Berbagai Daerah yang Masih Dilestarikan hingga Kini

15 Jun 2026

Lima Kasus HAM yang Pernah Terjadi di Indonesia, Ada yang Belum Selesai!

10 Des 2019

Sebelum Menikah, Coba deh Hitung Wetonmu dan Pasangan, Cocok Nggak?

24 Jun 2020

Terkuak, Ini Penyebab Mitos Orang Jawa dan Sunda Nggak Boleh Menikah

28 Jun 2020

Inibaru Media adalah perusahaan digital yang fokus memopulerkan potensi kekayaan lokal dan pop culture di Indonesia, khususnya Jawa Tengah. Menyajikan warna-warni Indonesia baru untuk generasi millenial.

A Group Member of

Ikuti kamu di: