BerandaInspirasi Indonesia
Selasa, 23 Des 2019 09:00

Sugeng Prasetyo, Inisiator di Balik Kesuksesan Kampung ASI Desa Jati Kulon Kudus

Sugeng Prasetyo. (Inibaru.id/ Zulfa Anisah)

Sugeng cuma pengin warganya sehat, sejahtera, dan pintar. Kepala Desa Jati Kulon Kudus ini mantap membuat Kampung ASI hingga cakupan pemberian ASI di kampunya kini mencapai angka 100 persen. Gimana kisahnya?

Inibaru.id - Sugeng Prasetyo, lelaki yang masuk usia lansia itu tengah duduk di ruang tunggu Kantor Kelurahan Jati Kulon Kudus saat saya datang. Bersama warganya yang entah meminta surat pengantar apa, dia nampak nggak punya sekat.

Saat saya datang, senyumnya semringah seperti menyambut kawan lama, meski saya baru bertemu dengannya untuk kali kedua.

Kepala desa yang menunggu masa jabatannya habis itu bikin saya penasaran setengah mati dengan program kampung ASI miliknya. Bagaimana bisa seorang pemimpin lelaki peduli dengan masalah menyusui. Namun, jawaban Sugeng menampar saya dengan keras

“Saya ingin semua warga saya sejahtera, sehat, pintar. Dengan diberi ASI, anak-anak nggak mudah sakit. Pemerintah bilang pengin cegah stunting gimana caranya? Ya dari ASI ini,” katanya tegas.

Lelaki bercucu empat tersebut kini berhasil membuat desanya mencapai angka pemberian ASI eksklusif sebesar 100 persen. Prestasi ini nggak didapatnya dengan serta-merta, lo. Setelah menjadi kepala desa lebih dari satu periode, nampaknya Sugeng gerah dengan warganya yang kerap meminta izin karena anaknya sakit.

Ditertawakan Kepala Desa Lain

Sugeng saat bekerja di kantornya. (Inibaru.id/ Zulfa Anisah)

Melihat hal tersebut, anak keduanya mengajaknya berdialog. Benar saja, saat itu angka pemberian ASI hanya 15 persen. Hingga pada 2017 dia berani mencanangkan Gerakan Ibu Sayang Bayi (Gersasi) dengan melibatkan kader Posyandu di 29 RT di Desa Jati Kulon. Perjuangannya nggak mudah, dia bahkan ditertawakan oleh kepala desa lainnya yang meremehkan programnya ini.

“Mereka nggak sadar. Saya ditertawakan dan diremehkan. Kini cakupan pemberian ASI sudah 100 persen. Warga tinggal memetik hasilnya,” kata Sugeng.

Penolakan lain juga kerap ditemui istrinya, Eruni. Dia yeng merupakan ketua PKK sering mendapatkan penolakan dari warga ketika turun basis.

“Bayi itu anak dari manusia, yang harus menyusu kepada ibunya. Bukan susu buatan seperti itu,” kenang Eruni.

Susu Formula Sudah Nggak Laku

Sugeng saat melayani warganya. (Inibaru.id/ Zulfa Anisah)

Ya, kala itu, Sugeng mengaku setidaknya 2-3 orang per hari meminta surat izin pada Sugeng karena mengaku anaknya sakit. Setelah ditelusuri, anak-anak yang sakit tersebut nggak diberi ASI. Hal tersebut juga dibenarkan oleh Yuntatik, Ahli Gizi Puskesmas Jati yang menyebutkan bayi di sana kerap mengalami diare dan gizi buruk.

Kini, semenjak dia membuat peraturan Kampung ASI, jarang sekali anak bayi yang sakit. Bahkan yang bikin saya kaget, kini nggak ada lagi toko kelontong yang menyediakan susu formula.

“Saya nggak melarang mereka berjualan susu, tapi memang nggak ada yang beli. Makanya sekarang mereka nggak jual,” kata lelaki 60 tahun ini dengan santainya.

Baca Juga: Sukses dengan Program Kampung ASI, Jati Kulon Kini Jadi Percontohan Desa

Sugeng, yang per 17 Desember 2019 lalu lengser dari jabatannya ini berharap, program tersebut bakal terus dipegang oleh kepala desa berikutnya. Sambil memberikan surat keterangan kepada warganya, saya sempat mengintip dan si empunya surat berseloroh kepada saya.

“Surat izin usaha, Mbak!” kata dia, yang kemudian bikin kami semua terkekeh.

Wah, semoga semakin banyak pemimpin yang punya perhatian untuk ibu dan bayi seperti Sugeng ya, Millens! (Zulfa Anisah/E05)

Tags:

ARTIKEL TERKAIT

Lezatnya Mi Ayam Ceker Pak Kawit yang Melegenda di Pusat Kota Semarang

16 Jan 2026

Rupiah Masuk Daftar 5 Besar Mata Uang Terlemah di Dunia

16 Jan 2026

Kembali Didera Banjir, Warga Desa Wonorejo Memilih Bertahan di Rumah

16 Jan 2026

Bertahan dalam Banjir; dari Alasan Merawat Ternak hingga Menjaga Anggota Keluarga

16 Jan 2026

Yuk, Intip Tradisi Leluhur 'Nabung' Air Hujan yang Mulai Terlupakan

16 Jan 2026

Jateng Nol Desa Sangat Tertinggal, Kini Ribuan Berstatus Mandiri dan Maju!

16 Jan 2026

Viral Buku 'Broken Strings, Begini Tanggapan Orang Tua yang Memiliki Anak Remaja

17 Jan 2026

Lebih dari Merajut Kerukunan, Tradisi Nyadran Perdamaian di Temanggung Digelar Demi Menjaga Alam

17 Jan 2026

Perselingkuhan dan Judol, Pemicu Ribuan Istri Gugat Cerai Suami di Semarang

17 Jan 2026

Perbarui Eksonim, Indonesia Revisi Penulisan Nama Sejumlah Negara Asing

17 Jan 2026

Begini Pola Pelaku Child Grooming di DIY Menguasai Korbannya

17 Jan 2026

Menyisir Jejak Pangeran Samudra, Bangsawan Majapahit yang Abadi di Puncak Kemukus

17 Jan 2026

Trik Menyimpan Pisang Biar Nggak Cepat Membusuk

18 Jan 2026

Enak dan Mengenyangkan, Begini Cerita Warung Pecel dan Brongkos Mbok Teguh Pakis, Magelang

18 Jan 2026

Ratusan Ribu Keluarga Belum Punya Rumah, Apa Rencana Pemkot Semarang?

18 Jan 2026

Ketika Wayang Klithik Menolak jadi 'Artefak' Budaya

18 Jan 2026

Gawat! Dijajah Spesies Asing, Jumlah Serangga Lokal Anjlok

18 Jan 2026

Parenting Tipe C, Gaya Asuh Fleksibel yang Bikin Anak dan Orang Tua Lebih Bahagia

18 Jan 2026

Di Korea Selatan, Siswa Pelaku Bullying Dipersulit Masuk Universitas

19 Jan 2026

Melegenda di Muntilan, Begini Kelezatan Bubur Mbah Gamping

19 Jan 2026

Inibaru Media adalah perusahaan digital yang fokus memopulerkan potensi kekayaan lokal dan pop culture di Indonesia, khususnya Jawa Tengah. Menyajikan warna-warni Indonesia baru untuk generasi millenial.

A Group Member of

Ikuti kamu di: