BerandaInspirasi Indonesia
Minggu, 30 Mei 2020 19:00

Sepeminuman Teh Bersama Duo Perias Jenazah di Kota Semarang: Tersemat Duka, tapi Banyak Tertawa!

Sri Sumiyati (kanan) dan Indah Murti Astuti (kiri), duo perias jenazah Kota Semarang, saat hendak menyempurnakan riasan jenazah. (Inibaru.id/ Audrian F)

Mendedikasikan lebih dari separuh hidup sebagai perias jenazah di Kota Semarang tentu jadi kisah menarik dua bersaudara ini. Saat sepi order, mereka kadang merasa berdosa karena sering mikir, kok nggak ada yang meninggal?<br>

Inibaru.id - Saya yakin, perias jenazah bukanlah profesi yang bakal disebutkan dengan lantang di depan kelas saat guru SD bertanya kepada murid tentang pekerjaan impian mereka. Namun, mungkin ini nggak berlaku bagi Sri Sumiyati dan Indah Murti Astuti, perias jenazah Kota Semarang.

Kepada saya, belum lama ini keduanya mengaku menjadikan profesi tersebut sebagai semacam panggilan jiwa. Satu hal yang menarik, mereka nggak terikat pada rumah duka atau instansi mana pun, melainkan pekerja lepas yang bisa "diundang" siapa saja.

Kendati "hanya" pekerja lepas, nggak gampang menemui Sri dan Indah, panggilan akrab mereka. Jadwal kedua bersaudara itu padat. Saya bahkan harus beberapa kali menghubungi mereka untuk punya kesempatan bercakap-cakap, itu pun nggak lama.

Lebih dari setengah abad mereka menjalani profesi sebagai perias jenazah di Kota Lunpia. Sepeminuman teh bersama Sri dan Indah di rumahnya yang ada di Kampung Brumbungan, banyak cerita yang saya dapatkan. Ada suka, tapi banyak dukanya.

Menjadi perias jenazah bagi Sri dan Indah merupakan pilihan hidup yang memang harus . (Inibaru.id/ Audrian F)<br>

Hingga kini, Indah mengaku sebetulnya juga nggak menyangka bakal bekerja berhadapan dengan jenazah, apalagi bertahan hingga 30 tahun. Waktu, lanjutnya, menjadi harta yang cukup berharga bagi mereka.

Ya, karena nggak terikat dengan suatu instansi, Sri dan Indah menjadi sangat terikat dengan pada waktu. Lantaran nggak tahu kapan kematian akan menjemput, mereka harus siap dengan tiap panggilan merias, jam berapa pun. Inilah yang Indah sebut sebagai pengabdian.

Dia mengatakan, mereka memang nggak bisa seenaknya bepergian, apalagi berdua. Salah seorang dari mereka harus tinggal di rumah, mengantisipasi kalau ada panggilan merias.

"Kapan pun, tetap saya sanggupi," tutur perempuan bersahaja tersebut, yang mengaku suatu kali pernah harus buru-buru pulang dari kondangan lantaran ada panggilan merias. "Ada semacam tanggung jawab moral.”

Ngobrol dengan Jenazah 

Sri Sumiyati menuturkan, saat meninggal, tubuh seseorang biasanya akan kaku dan bertambah berat. Inilah yang kerap membuat dia kesulitan dalam memperindah dandanan jenazah.

“Kalau jenazahnya ringan nggak masalah. Namun, kalau dapat yang berat, saya yang susah," akunya, diikuti dengan senyuman. Dia percaya, kalau semasa hidup mendiang memiliki watak yang kolot atau minim amal baik, jenazah bakal terasa lebih berat.

Saat menghadapi situasi tersebut, Sri biasanya mencoba mengobrol dengan mendiang. Dia percaya, saat seseorang meninggal, arwahnya masih ada di sekitar jasad.

"Saya biasa ngomong, 'Mak, aku sendirian. Jangan susah-susah ya!',” kata Sri, yang seketika itu bikin saya merinding. Ha-ha.

Belum habis bulu kuduk saya berdiri, Indah menimpali dengan bercerita tentang jenazah yang menangis saat hendak mereka dandani. Duh, hati saya tambah nggak karuan. Keringat dingin keluar.

Saya pernah membaca, jenazah memang mengalami beberapa perubahan, misalnya tubuh menyusut. Kadang, kondisi biologis jasad juga memunculkan "anomali" seperti mendengkur atau kentut, tapi bukan menangis.

Sri Sumiyati, mendedikasikan secara tulus hidupnya untuk merias jenazah. (Inibaru.id/ Audrian F)<br>

Indah berkisah, jenazah yang menangis itu adalah seorang perempuan. Dia seorang ibu yang saat meninggal diikuti dengan perseteruan anak-anaknya. Anak-anak itu, kenangnya, saling menyalahkan atas kematian sang ibu, cekcok di rumah duka.

"Air mata tiba-tiba menetes dari kelopak mata si ibu," ujar Indah, yang kemudian segera memanggil seluruh keluarga sang ibu untuk melihat kejadian tersebut. "Akhirnya mereka minta maaf.”

Selama ngobrol dengan Sri dan Indah, saya nggak berhenti menahan nafas. Selain karena cerita yang agak bikin bulu kuduk berdiri, upah minim yang mereka terima, bahkan setelah 30 tahun menjadi perias jenazah, juga membuat hati saya teriris.

Perlu kamu tahu, memilih menjadi pekerja lepas dan nggak terikat dengan satu institusi tertentu sengaja dipilih keduanya untuk menjaga agar upah yang mereka terima tetap rasional. Namun, Indah mengatakan, terkadang pilihan itu membuatnya kesulitan, khususnya saat kerjaan sepi.

"Kalau sedang sepi, saya kadang mikir, kok nggak ada yang meninggal ya?" kelakar Indah.

Lantaran mikir begitu, dia mengaku sering merasa berdosa. Namun, nggak ada yang bisa diperbuatnya, karena mata pencaharian mereka memang ada di situ.

"Tuhan mungkin sudah tahulah,” tutupnya. Kami bertiga pun tertawa.

Kisah Indah dan Sri ini bikin saya berpikir, mereka adalah orang-orang yang memanusiakan jenazah. Mereka juga bikin kematian jadi nggak terlihat begitu mencekam. Salut! (Audrian F/E03)

Tags:

ARTIKEL TERKAIT

HP Gratis dengan Rekening Digital Diusulkan untuk Penyaluran Bansos

15 Okt 2026

Dari Jepara ke Sarajevo, Merawat Ukiran dan Diplomasi yang Tak Selesai di Meja Pertemuan

16 Okt 2026

Sritex Masuk Rencana Akuisisi Danantara, Ini Tujuan Pemerintah

18 Okt 2026

Warteg on Train, Inovasi Kuliner KAI yang Bikin Penumpang Penasaran

19 Okt 2026

Indonesia Women's League 2026 Resmi Dibuka, Sepak Bola Wanita Indonesia Siap Berkembang

21 Okt 2026

Ghost in the Cell Borong Dua Penghargaan di Sitges Film Festival 2026

22 Okt 2026

Jauh Sebelum Pajak Modern, Jawa Kuno Sudah Punya Sistem Pajak Tanah

23 Okt 2026

Pesawat N219 Buatan Indonesia Siap Terbang Desember 2026

24 Okt 2026

Progres Tol Semarang-Demak Capai 79,42 Persen, Ditarget Rampung 2027

26 Okt 2026

Dari Surabaya, Lahir Seruan Jihad yang menginspirasi Hari Santri Nasional

27 Okt 2026

Mengapa Salatiga Disebut Salah Satu Kota Tertua di Indonesia? Ini Sejarahnya

28 Okt 2026

Lima Kasus HAM yang Pernah Terjadi di Indonesia, Ada yang Belum Selesai!

10 Des 2019

Sebelum Menikah, Coba deh Hitung Wetonmu dan Pasangan, Cocok Nggak?

24 Jun 2020

Terkuak, Ini Penyebab Mitos Orang Jawa dan Sunda Nggak Boleh Menikah

28 Jun 2020

Cek Daftar Kata Ini Sebelum Beli Baju di Online Shop

30 Mei 2018

Macan Akar a.k.a Kucing Hutan kok Dipiara

7 Des 2017

Jarang Disadari, Begini Ciri-Ciri WhatsApp yang Disadap dan Cara Mencegahnya

1 Mar 2021

Kidung Rumekso Ing Wengi, Mantra Tolak Bala Warisan Sunan Kalijaga

15 Nov 2020

Terjawab Sudah Alasan Achmad Yurianto Diganti Reisa Broto Asmoro

10 Jun 2020

8 Tokoh Penting Kongres Pemuda II yang Lahirkan Sumpah Pemuda

28 Okt 2017

Inibaru Media adalah perusahaan digital yang fokus memopulerkan potensi kekayaan lokal dan pop culture di Indonesia, khususnya Jawa Tengah. Menyajikan warna-warni Indonesia baru untuk generasi millenial.

A Group Member of

Ikuti kamu di: