BerandaInspirasi Indonesia
Rabu, 30 Jan 2018 01:07

Sekolah Inklusif dan Keikhlasan Membimbing Mereka "Yang Terbuang"

Pembelajaran di salah satu sekolah inklusif (jabarekspres.com)

Banyak murid yang dikeluarkan karena dianggap melanggar aturan ketat pendidikan di sekolah. Memiliki karakteristik dalam merespons keberagaman individu, sekolah inklusif seperti SMP Harapan Kita di Cirebon menjadi harapan bagi mereka yang terancam putus sekolah.

Inibaru.id –  Sebagian besar Sobat Millens pasti sudah tahu bahwa SLB (sekolah luar biasa) itu sekolah khusus untuk anak berkebutuhan khusus (ABK). Bagaimana dengan sekolah inklusif? Pernah dengar?

Ya, sama-sama memiliki kewajiban menangani dan menerima anak ABK, bedanya sekolah model inklusif diperuntukkan bagi ABK yang memiliki kelainan masih ringan. Sedangkan ABK yang memiliki kelainan berat harus ditangani SLB.

Apa yang dimaksud kelainan ringan? Agar mudah dipahami, ABK tipe ini tidak menyandang keterbatasan fisik, tapi perilakunya berkecenderungan berbeda dari yang lain. Misal saja nih, rambutnya disemir, bermodel rambut gaya anak punk, suka bolos, dan lain-lain.

Bagaimana menangani anak-anak seperti itu? Alih-alih diberi perhatian khusus, sebagian sekolah justru memberi sanksi keras, bahkan mengeluarkan dari sekolah.

Nah, penangangan yang nggak memberikan sanksi semodel itulah yang ditangani sekolah inklusif seperti yang dilakukan  SMP Harapan Kita (dikenal dengan sebutan “Harkit”) di Cirebon.

Oya Millens, itu bukan sekolah kemarin sore lo ya karena sudah berdiri sejak 1983. Keberhasilan sekolah itu sudah teruji. Sejak berdiri, belum ada siswa yang nggak lulus. Bahkan tahun lalu, sekolah tersebut menuai pujian lantaran ketika semua sekolah negeri mengalami penurunan angka rata-rata ujian nasional, angka rata-rata Harkit naik dari 56 ke 59. Memang ada satu-dua orang yang nggak ikut ujian, tapi itu nggak terlalu berpengaruh.

Meski nggak mudah, guru-guru Harkit berusaha memantau siswanya setiap hari. Jika ada siswa yang nggak masuk tanpa keterangan yang jelas maka langsung dikomunikasikan ke orang tuanya, bahkan para guru sering mendatangi siswa ke rumah untuk memberikan motivasi belajar.

Mengutip Antaranews.com (27/1/2018), SMP Harkit di Lemahwungkuk No.139, Kota Cirebon itu nggak pernah menolak siswa dari kalangan manapun. Nggak hanya menjadi tumpuan bagi orang tua yang mempunyai ABK, sekolah model ini yang tanpa biaya karena menerima dana BOS juga menjadi tumpuan  bagi keluarga miskin untuk menyekolahkan anaknya. Bahkan siswa yang oleh sekolah lain dianggap "sampah" diterima dengan baik dan akhirnya bisa menyelesaikan pendidikan dan melanjutkan ke sekolah menengah atas.

Mempunyai tiga kelas dengan siswa antara 10 sampai 25 siswa per kelas, sebagian siswa SMP Harkit adalah pindahan dari sekolah lain. Ya, sejak 2012 SMP Harkit memang nggak mendapat siswa baru dari sistem penerimaan siswa baru tingkat SMP. Ini karena SMP negeri menerima murid melebihi kuota.

Biasanya jika orang tua paham memiliki anak ABK akan langsung mendaftarkan anaknya ke sekolah inklusif.  Ada juga yang atas keinginan si anaknya.

Adanya pendidikan inklusif diharapkan dapat mengakomodasi pendidikan bagi semua ABK yang selama ini belum terpenuhi layaknya anak-anak lain. Namun sayang jumlah sekolah inklusif belum terlalu banyak. Belum tentu semua daerah memilikinya, kalau ada itu juga terbatas jumlahnya terutama untuk tingkat SMP dan SMA.

Memangnya kenapa harus pendidikan inklusif? Asal tahu saja nih, pendidikan inklusif memiliki beberapa karakteristik yaitu merespons keragaman individu anak, memedulikan cara-cara untuk meruntuhkan hambatan-hambatan anak dalam belajar, mengarahkan anak untuk mendapat hasil belajar yang bermakna dalam hidupnya. Jadi semua anak akan diperlakukan sama sesuai dengan kebutuhannya.

Harus membuang jauh-jauh motivasi meraup materi menyebabkan hanya sedikit yayasan pendidikan dan juga guru yang mau terjun menangani anak-anak seperti ini.  Bahkan enam guru dan satu kepala sekolah yang mengelola SMP Harkit masih berstatus honor dengan nilai yang jauh dibanding guru di sekolah favorit. Meski begitu, semangat mendidik mereka patut diacungi jempol. Di tengah keterbatasan yang ada, mereka tetap ikhlas membimbing ABK.

Selain itu, prasarana sekolah juga masih minim. Tentu saja sekolah inklusif ini perlu mendapat perhatian dari banyak pihak. Sudah selayaknya pula dana-dana tanggung jawab sosial perusahaan (CSR) besar juga disalurkan ke sekolah inklusif seperti ini.  Sesuai namanya, semoga sekolah yang berada di bawah Yayasan Harapan kita ini bisa menjadi harapan bagi-bagi anak-anak yang terancam putus sekolah. (ALE/SA)

Tags:

ARTIKEL TERKAIT

Mengenal Kalender Aboge, Sistem Penanggalan Jawa-Islam yang Masih Bertahan hingga Kini

17 Jul 2026

OSC Award 2026 Umumkan 116 Penerima Beasiswa S1 Penuh, Pendaftar Tembus 7.600 Peserta

17 Jul 2026

Ragam Upacara Adat Jawa dari Kehamilan hingga Kematian, Sarat Makna dan Nilai Kehidupan

18 Jul 2026

Harga Pertamax Berpeluang Turun Bulan Depan, Ini Penjelasan Menteri ESDM

21 Jul 2026

Kepala Badan Gizi Nasional Nanik S Deyang Mengundurkan Diri, Fokus Jalani Pengobatan Jantung

22 Jul 2026

Populasi Macan Tutul Jawa di Gunung Ungaran Tinggal 4–7 Ekor, Konservasi Dinilai Kian Mendesak

22 Jul 2026

China Klaim Berhasil Komersialkan Chip Otak, Babak Baru Persaingan dengan Neuralin

23 Jul 2026

Penanda Perbatasan Baru DIY Segera Dibangun, Desain "Cahaya Pradipta" Terinspirasi Cahaya Matahari di Gunungkidul

24 Jul 2026

Sering Dianggap Sama, Ternyata Putu Bambu dan Putu Ayu Punya Banyak Perbedaan

25 Jul 2026

Dijuluki Little Tiongkok, Lasem Simpan Jejak Akulturasi Budaya yang Masih Terjaga

27 Jul 2026

KAI Siapkan Nusantara Explorer, Kereta Sleeper Mewah Bernuansa Budaya Indonesia

28 Jul 2026

BRIN Kembali Temukan 18 Ikan Purba Coelacanth di Pulau Talise, Bukti Pentingnya Konservasi Laut Dalam

29 Jul 2026

Mengenal Londo Ireng, Tentara Afrika yang Direkrut Belanda ke Nusantara

30 Jul 2026

Lima Kasus HAM yang Pernah Terjadi di Indonesia, Ada yang Belum Selesai!

10 Des 2019

Sebelum Menikah, Coba deh Hitung Wetonmu dan Pasangan, Cocok Nggak?

24 Jun 2020

Terkuak, Ini Penyebab Mitos Orang Jawa dan Sunda Nggak Boleh Menikah

28 Jun 2020

Cek Daftar Kata Ini Sebelum Beli Baju di Online Shop

30 Mei 2018

Macan Akar a.k.a Kucing Hutan kok Dipiara

7 Des 2017

Jarang Disadari, Begini Ciri-Ciri WhatsApp yang Disadap dan Cara Mencegahnya

1 Mar 2021

Kidung Rumekso Ing Wengi, Mantra Tolak Bala Warisan Sunan Kalijaga

15 Nov 2020

Inibaru Media adalah perusahaan digital yang fokus memopulerkan potensi kekayaan lokal dan pop culture di Indonesia, khususnya Jawa Tengah. Menyajikan warna-warni Indonesia baru untuk generasi millenial.

A Group Member of

Ikuti kamu di: