BerandaInspirasi Indonesia
Jumat, 26 Agu 2021 10:03

Pengrajin Wayang Gen-Z, Ekky Prananda: Saya Menonton, Membuat, dan Melestarikan

Ekky dengan dua wayang buatannya di tangan. (Inibaru.id/Kharisma Ghana Tawakal)

Sering diajak menonton pergelaran wayang sejak balita, Ekky Prananda sudah bisa membuat wayang sendiri saat duduk di bangku kelas 4 SD. Kini, lelaki berusia 23 tahun itu dikenal sebagai pengrajin wayang gen-z yang karya-karyanya sangat diminati para kolektor dalam negeri dan mancanegara.

Inibaru.id – Seberharga apa pun sebuah warisan budaya akan sia-sia ketika mulai dilupakan. Nggak terkecuali wayang. Kendati UNESCO menyebutnya sebagai warisan budaya tak benda Indonesia, predikat tersebut bakal muspra saat nggak ada lagi generasi yang melestarikannya.

Namun, agaknya kita bisa sedikit lega. Di tengah sebagian besar orang yang mulai abai dengan dunia pewayangan lantaran dianggap usang dan kurang menghibur, rupanya masih ada anak muda yang tertarik pada seni pertunjukan klasik tersebut, salah seorang di antaranya Putranda Ekky Prananda.

Nggak sekadar gemar menonton pergelaran wayang, Ekky, sapaan akrabnya, kini juga dikenal sebagai pengrajin "boneka" dua dimensi yang dipercaya sudah dimainkan masyarakat Jawa sejak abad ke-4 tersebut. Dia bahkan telah mulai membuatnya sejak duduk di kelas 4 sekolah dasar.

“Bapak dan simbah (kakek) sering ngajak nonton wayang sejak saya TK, terus kepengin punya wayang sendiri," tutur pemuda yang masih berstatus mahasiswa semester akhir di Universitas Negeri Semarang tersebut, Minggu (22/8/2021). "Mau beli, boros. Jadilah saya coba bikin pakai kertas karton."

Berawal dari situ, Ekky mulai rajin membuat wayang sendiri. Kala itu, dia belum berpikir tentang pakem-pakem yang harus dipenuhi dalam pembuatan wayang; semuanya kreasi sendiri. Pembuatan wayang yang sesuai standar pakem pedalangan baru dia lakukan saat remaja.

"Pas SMA mulai mengikuti pakem. Bentuk dan bahan wayang seusai pakem. Yang saya kreasikan model motif sandangannya saja,” terang lelaki 23 tahun tersebut.

Wayang di Mana-Mana

Beberapa wayang buatan Ekky yang tertancap dikelir. (Inibaru.id/ Kharisma Ghana Tawakal)

Di rumahnya yang berlokasi di daerah Pudakpayung, Kota Semarang, kentara sekali kalau Ekky dan keluarganya sangat menyukai kesenian Jawa, khususnya pewayangan. Paling kentara tentu saja pakeliran (panggung) lengkap dengan kelir dan gawangan yang terbentang pada salah satu sisi di bagian depan rumahnya.

Pakeliran dengan banyak ukiran ini agaknya juga berfungsi sebagai dekorasi rumah. Laiknya sebuah pementasan, sejumlah wayang juga tampak "berdiri" di atas tancepan. Wayang-wayang hasil kreasi Ekky ini sengaja dipajang di situ, karena bagian rumah tersebut memang berfungsi sebagai sanggar.

Di rumah Ekky, wayang bisa kamu temukan di banyak sudut di rumahnya. Sejak kecil dia hidup di keluarga yang menggemari budaya Jawa, khususnya wayang. Pada satu sisi, ini menyenangkan. Namun, dia merasa situasi tersebut membuatnya agak jauh dari teman sepermainan.

Dicengin (diolok) karena suka wayang nggak pernah, tapi waktu SMP dan SMA saya nggak begitu nyambung kalau ngobrol dengan teman," kenangnya. "Saya aktif di (perkumpulan seni budaya) Sobokartti juga. Jadi, (sama teman) ya ngobrol masalah tugas saja.”

Ekky mengaku sejak dulu nggak terlalu ambil pusing dengan anggapan miring yang mungkin dilontarkan orang karena dia memilih mencintai wayang. Lelaki 23 tahun itu justru bangga disebut demikian karena menurutnya, menjadi pengrajin wayang berarti turut berperan dalam pelestarian budaya Indonesia.

Dalam pandangannya, generasi muda seharusnya turut serta dalam melestarikan warisan budaya ini, bukan malah antipati dan menganggap wayang sebagai budaya "cap orang tua". Menurutnya, keliru kalau menganggap wayang sebagai sesuatu yang kuno.

“Cerita wayang selalu mengikuti perkembangan zaman dan relate dengan kehidupan sehari-hari,” simpul mahasiswa Pendidikan Bahasa Jawa tersebut.

Belasan Tahun Mengukir Wayang

Wayang-wayang buatan Ekky ditempat diletakkan diwadahnya. (Inibaru.id/Kharisma Ghana Tawakal)

Tanpa terasa Ekky sudah belasan tahun menjadi pengrajin wayang. Selama melakoni "pekerjaan" itu, dia telah melalui banyak hal. Sebagai pembelajar, lelaki berkulit cerah inimengaku mendapatkan begitu banyak ilmu baru yang membentuknya menjadi sosok yang sekarang.

Mulai dari membuat wayang dengan bahan dasar kertas karton, dia beralih ke kardus, lalu fiber. Kini, dia sudah membuat wayang dengan kulit asli. Ekky memilih memakai kulit kerbau sebagai bahan utama pembuatan wayang untuk mendapatkan hasil yang terbaik.

“Sekarang selalu pakai pakem pedalangan, jadi bahannya ya kulit kerbau. Ini biasa untuk dalang dan kolektor. (Wayang) berbahan kertas masih bikin, tapi hanya untuk pajangan. Yang pesan biasanya instansi,” jelas Ekky sembari memperlihatkan beberapa wayang bikinan tangannya.

Dalam menciptakan wayang, Ekky nggak suka nanggung. Pemilihan bahan hingga motif wayang betul-betul dia pikirkan dengan saksama. Jika kebanyakan pengrajin saat membuat wayang umumnya hanya membedakan warna dasar pakaiannya, nggak demikian dengan Ekky.

"Semua wayang yang saya bikin digambar dengan motif yang berbeda," terangnya, yang sekaligus menjawab kenapa wayangnya sangat diburu para dalang dan kolektor wayang dari mancanegara.

Ekky mengaku senang lantaran banyak pihak yang mengapresiasi karya-karyanya tersebut. Kendati pernah beberapa kali bertemu kolektor "unik" yang banyak bertanya dan terkesan mengkritik karyanya, dia justru menganggapnya sebagai suatu apresiasi.

“Kalau ketemu pembeli model kolektor, mereka memang suka nritik (detail) di wayangnya, entah itu ukiran, motif, dan gapit (penjepit) yang terpasang,” pungkasnya, lalu tertawa lepas..

Tetap semangat, Ekky! Karya seni nggak akan mati, seniman juga bakal terus dikenang selama karya-karyanya banyak yang menikmati. (Kharisma Ghana Tawakal/E03)

Tags:

ARTIKEL TERKAIT

Riset CISDI: Satu Dekade Berlalu, Harga Rokok Tetap Murah, Reformasi Cukai Diperlukan

17 Apr 2026

Sisi Positif Mitos Genderuwo; Cara Leluhur Jaga Pohon Raksasa Biar Sumber Air Tetap Awet

20 Apr 2026

Sumanto Dorong Desa Gempolan Jadi 'Surga' Durian: Jangan Cuma Tanam, Harus Inovasi!

20 Apr 2026

Jung Jawa, Jejak Kapal Raksasa Penguasa Laut Nusantara

21 Apr 2026

Spot Favorit Bali, Wajib Masuk Daftar Itinerary Liburan Keluarga

22 Apr 2026

Pilihan Penginapan Nyaman di Bandung untuk Liburan Singkat yang Maksimal

22 Apr 2026

Pendaftaran Beasiswa OSC 2026 Dibuka, Sediakan 140 Beasiswa S1

22 Apr 2026

7 Pemikiran Kartini yang Masih Relevan Sampai Saat Ini

23 Apr 2026

Adon-Adon Coro: Minuman Hangat Khas Jepara Favorit Kartini

23 Apr 2026

Kini Jadi Ancaman, Plastik Ternyata Pernah Jadi Solusi Menyelamatkan Bumi

24 Apr 2026

Sosialisasi Mitigasi Gunung Slamet, Pemprov Jateng Tekankan Keselamatan Warga

24 Apr 2026

Kasus Daycare Jogja: Tentang Kepercayaan, Pengasuhan, dan Sistem yang Belum Utuh

27 Apr 2026

Gunung Ungaran: Jejak Tiga Generasi yang Tumbuh dari Runtuhan

28 Apr 2026

Saat Video Kekerasan Anak Viral, Apa yang Seharusnya Kita Lakukan?

28 Apr 2026

Ilmu Tebang Bambu Leluhur, Tradisi Canggih yang Terbukti oleh Sains

30 Apr 2026

Lima Kasus HAM yang Pernah Terjadi di Indonesia, Ada yang Belum Selesai!

10 Des 2019

Sebelum Menikah, Coba deh Hitung Wetonmu dan Pasangan, Cocok Nggak?

24 Jun 2020

Terkuak, Ini Penyebab Mitos Orang Jawa dan Sunda Nggak Boleh Menikah

28 Jun 2020

Cek Daftar Kata Ini Sebelum Beli Baju di Online Shop

30 Mei 2018

Macan Akar a.k.a Kucing Hutan kok Dipiara

7 Des 2017

Inibaru Media adalah perusahaan digital yang fokus memopulerkan potensi kekayaan lokal dan pop culture di Indonesia, khususnya Jawa Tengah. Menyajikan warna-warni Indonesia baru untuk generasi millenial.

A Group Member of

Ikuti kamu di: