Sosok Wayang di Lembaran Kulit, Cara Kumoro Lestarikan Budaya Jawa

Melukis bisa dilakukan dengan alas apa saja. Namun, lelaki asal Kendal ini memilih kulit kambing sebagai kanvasnya. Sosok wayang menjadi objeknya.

Inibaru.id - Demi memenuhi titah sang guru Rsi Durna, Bima terjun ke samudera tiada batas tanpa menyandang senjata apa pun kecuali yang melekat pada tubuhnya. Ayahanda Gatotkaca itu kemudian bertarung dengan seekor naga. Tubuhnya dililit dengan kencang, tapi para akhirnya Bima menang duel setelah mampu menggorok tenggorokan ular raksasa tersebut.

Gambaran pertarungan tokoh wayang Bima dalam mencari jati diri ini dilukis dengan apik oleh Kumoro Raharjo. Bukan di atas kanvas, dia menggambarnya di atas selembar kulit kambing. Pelukis asal Kendal tersebut meyakini, penggalan kisah epik itu bakal tampak lebih hidup saat dilukis di atas kulit. 

Dalam melukis, Kumoro memang tampak selalu mencurahkan segalanya. Darah seni yang mengalir dari mendiang sang ayah agaknya yang menjadikannya demikian. Tiap kali melukis, pandangannya selalu fokus pada "kanvas", mengabaikan siapa pun, bahkan kendati banyak tamu yang datang ke rumahnya.

“Seni itu butuh konsentrasi tingkat tinggi. Hati dan pikiran harus nyambung,” ujar lelaki yang sudah mulai melukis sejak duduk di bangku SD tersebut, Rabu (18/8/2021).

Bertempat di rumahnya, Kumoro biasanya bakal membiarkan para tamunya melihat-lihat galerinya tanpa perlu dia temani. Sementara, dia akan terus asyik mengulas kuas di teras hingga dirasa cukup dan butuh meregangkan otot atau mengeluk punggung.

Untuk menyelesaikan satu lukisan yang kebanyakan merupakan tokoh wayang atau penggalan kisah pewayangan ini Kumoro membutuhkan waktu yang lumayan lama. Sekitar sepekan. Itu pun tergantung seberapa besar lukisan yang dipesan pelangganya.

Melestarikan Budaya Jawa

Menjalani profesi sebagai pelukis dalam sedekade terakhir, Kumoro sengaja memilih dunia pewayangan sebagai tema lukisannya karena menyukai cerita dan tokoh-tokoh di dalamnya yang menurutnya penuh filosofi. Selain itu, dia juga punya misi untuk melestarikan budaya Jawa, khususnya untuk anak muda.

“Anak muda sekarang banyak yang nggak tahu. Jadi, sembari menyalurkan hobi, saya mencoba menghidupkan kesenian wayang,” ujar lelaki yang tinggal di Desa Margomulyo, Kecamatan Pegandon, Kabupaten Kendal, tersebut.

Yang menarik, selama melukis wayang, Kumoro hanya memilih sosok-sosok yang memiliki karakter baik atau punya kisah positif, di antaranya Bima, Nakula, Sadewa, Semar, dan Krisna. Karakter-karakter itu dianggapnya punya kisah inspiratif yang bisa dijadikan anutan generasi muda.

Lukisan-lukisan itu nantinya nggak cuma dipajang di rumahnya, tapi juga dijual. Biasanya, para pembeli bakal langsung datang ke galerinya untuk melihat-lihat sebelum memutuskan membeli yang mana. Selain itu, Kumoro juga menjajakan lukisannya di media sosial untuk menjangkau pembeli lebih luas.

Nggak hanya membeli lukisan yang sudah jadi, para pelanggan juga nggak sedikit yang rekues untuk dibuatkan lukisan sosok tertentu. Kumoro mengaku bakal dengan senang hati menerima permintaan itu.

Salah satu permintaan itu datang dari Sujarno yang nggak lain merupakan kawan SD Kumoro. Hari itu dia sengaja datang ke kediaman Kumoro untuk melihat-lihat sekaligus memesan lukisan tokoh Bima berukuran satu meter persegi.

“Iya, permintaan khusus. Karakter Bima berukuran semeter, Harganya Rp 500 ribu,” ujar lelaki yang saat ini menjabat sebagai Kepala Desa Margomulyo tersebut setelah puas melihat-lihat galeri. "Bakat seni Mas Kumoro ini menarik. Berkarakter!" lanjutnya.

Sujarno berharap, kemampuan seni yang dimiliki Kumoro ke depan bakal bisa menjangkau pasar yang jauh lebih luas, baik tingkat nasional maupun internasional. Dia juga mendoakan yang terbaik untuk masa depan sobat SD-nya tersebut.

"Di tengah pandemi, banyak pekerja seni kehilangan pekerjaannya. Jadi, semoga kisah Kumoro bisa jadi pelecut semangat mereka. Pasti ada jalan!" tegasnya. 

Menilik pertarungan Bima di lautan yang dilukis Kumoro, pandemi ini ibarat naga yang melilit tubuh Bima. Kendati tampak mustahil bagi kakak dari Arjuna itu untuk menang, Bima tetap bertahan. Maka, bertahanlah, para seniman. Hari yang cerah menanti di depan! (Triawanda Tirta Aditya/E03)