Lebih Dekat dengan Asem Kawak, Komunitas Penjual Barang Antik yang Kerap Ganti Nama dan Lokasi

Lebih Dekat dengan Asem Kawak, Komunitas Penjual Barang Antik yang Kerap Ganti Nama dan Lokasi
Beberapa contoh barang antik yang dijual oleh pedagang di Asem Kawak. (Inibaru.id/Bayu N)

Setelah berganti nama beberapa kali, kini komunitas pedagang barang antik menamai dirinya sebagai Asem Kawak atau Antikan Semarang Kawasan Kota Lama. Di gedung GIK yang berada di belakang Gereja Blenduk ini, berbagai barang antik dari pelbagai penjuru Indonesia dijual.

Inibaru.id - Di salah satu sudut Kota Lama Semarang, tepatnya di dalam gedung Galeri Industri Kreatif (GIK), deretan lapak dagang berbaris rapi. Pelbagai barang antik tampak memenuhi sudut tempat ini. Sebagian disimpan di balik etalase kaca, sebagian digantung, beberapa lagi ditata rapi di meja atau pun di lantai.

Masyarakat sekitar biasa menyebutnya sebagai Pasar Klitikan. Meski demikian, tempat ini punya nama khusus, lo, yakni Asem Kawak (Antikan Semarang Kawasan Kota Lama) yang merupakan nama dari komunitas tempat para pedagang barang antik berkumpul.

Sebelum menjadi Asem Kawak. komunitas dagang barang antik sempat bernama Kokakola dan Padangrani. (Inibaru.id/ Bayu N)
Sebelum menjadi Asem Kawak. komunitas dagang barang antik sempat bernama Kokakola dan Padangrani. (Inibaru.id/ Bayu N)

Dalam perjalanannya sejak 2011 hingga sekarang, komunitas ini mengalami beberapa kali pergantian nama.

"Awalnya dinamai Komunitas Klithikan Kota Lama (Kokakola), terus berganti lagi jadi Paguyuban Pedagang Barang Seni (Padangrani) pada tahun 2014," ungkap Untoro Subchi, salah seorang pedagang Asem Kawak belum lama ini. 

Ternyata nggak cuma namanya yang beberapa kali mengalami pergantian, Millens. Lokasi dagang komunitas yang terdiri dari sekitar 30 pedagang ini juga beberapa kali mesti pindah. Kini, mereka ditempatkan di GIK oleh Pemerintah Kota Semarang dua tahun lalu.   

Tampak luar pintu GIK, tempat para pedagang barang antik Asem Kawak kini menggelar lapaknya. (Inibaru.id/Bayu N)
Tampak luar pintu GIK, tempat para pedagang barang antik Asem Kawak kini menggelar lapaknya. (Inibaru.id/Bayu N)

"Sempat di Kedungmundu, Gajahmada, sama di Perbalan,” kata Untoro di sela-sela menunggu pelanggan datang.

Menurut Untoro, pemberian lokasi dagang yang tetap ini cukup menguntungkan karena masyarakat jadi tahu harus ke mana apabila ingin mencari barang antik. Dirinya juga bersyukur karena nggak perlu takut kehujanan dan kepanasan seperti ketika menggelar lapak di sepanjang jalan taman Srigunting.

Hasil Berburu Bertahun-tahun

Di Asem Kawak, kamu bisa menemukan pelbagai barang antik, lo. Uang lawas, keramik, pedang, patung, bahkan hingga foto, kamera lawas, dan kaset pita ada di sini. Tiap pedagang memiliki koleksinya masing-masing.

Koleksi barang antik yang dijual di Asem Kawak biasanya merupakan hasil berburu selama bertahun-tahun. (Inibaru.id/Bayu N)
Koleksi barang antik yang dijual di Asem Kawak biasanya merupakan hasil berburu selama bertahun-tahun. (Inibaru.id/Bayu N)

Gondrong, salah satu pedagang di Asem Kawak mengaku bahwa dagangannya merupakan hasil dari berburu selama bertahun-tahun.

"Ada banyak banget barang antik (di Asem Kawak). Dari penjuru Indonesia ada, makanya banyak juga orang dari luar kota yang nyari barang antik di sini,” ucap lelaki yang suka mengumpulkan kaset pita itu.

Gondrong juga menambahkan kalau dalam proses berburunya ini, dirinya sampai harus menyambangi pasar-pasar klitikan lain yang ada di luar kota. Semuanya untuk dijual lagi.

Meski punya berbagai barang antik, para pedagang Asem Kawak biasanya mengutamakan bisnis. (Inibaru.id/Bayu N)
Meski punya berbagai barang antik, para pedagang Asem Kawak biasanya mengutamakan bisnis. (Inibaru.id/Bayu N)

"Dijual lagi soalnya saya nggak suka mengoleksi barang. Pokoknya buat bisnis,” katanya terkekeh. 

Menurut saya, keberadaan pasar barang antik ini melengkapi citra kuno Kota Lama. Vibe vintage-nya dapat banget deh!

Eh, kamu sudah pernah ke pasar barang antik ini belum, Millens? (Bayu N/E05)