BerandaInspirasi Indonesia
Minggu, 21 Apr 2018 12:00

Edisi Spesial Kartini: Meneladani Dokter Asri, Pemerhati Anak Sindrom Down

Dokter Asri di kliniknya. (Inibaru.id/Mayang Istnaini)

Seringnya dipandang sebelah mata, down syndrome justru menjadi fokus dokter anak yang ramah ini. Yuk, belajar dari Dokter Asri.

Inibaru.id – Penelitian terhadap anak-anak penderita sindrom down (down syndrome) mengantarkan perempuan ini meraih gelar doktor di Universitas Negeri Semarang (Unnes). Nggak kurang dari delapan tahun waktu yang dibutuhkannya untuk itu. Dia adalah Dr dr Asri Purwanti SP A(K) M Pd. Familiar dengan nama itu?

Nggak banyak yang kenal sosok karismatik ini selain dia adalah kakak dari Menteri Keuangan RI Sri Mulyani. Namun, di antara para pemerhati anak, terkhusus yang berhubungan dengan sindrom down, namanya tidaklah asing. Dia memang begitu mencintai anak-anak. Menurutnya, anak adalah pemimpin bangsa di masa depan yang harus "disiapkan" sejak dini.

Pemikiran itu pula yang mengantarkan dr Asri hingga akhirnya mantap memilih program dokter anak dan menjalani profesi itu pada 1984 lalu. Perempuan asli Semarang ini beranggapan, untuk menjadi calon pemimpin bangsa, seorang anak harusnya memiliki fisik yang kuat, mental yang hebat, hubungan sosial yang baik, dan spiritual yang kuat.

"Aspek-aspek itulah yang lebih mudah 'diintervensi' dokter anak sebagai pendamping peran orang tua," kata dr Asri saat ditemui Inibaru.id di kliniknya, Jumat (20/4/2018).

Baca juga:
Edisi Spesial Kartini: Krisseptiana Banyak Perjuangkan Perempuan lewat Kebijakan
Edisi Spesial Kartini: Anne Avantie, Masyhur Berkat Fokus pada Kebaya

Dia berharap, "intervensi" itu akan menjadikan generasi muda, terutama pemuda Indonesia, lebih andal dan siap bersaing. Di ranah itulah Asri mencoba berkomitmen. Tujuan profesi dan dirinya adalah untuk terus meningkatkan kualitas generasi muda Tanah Air sejak dini.

Yeah, tentu saja kolaborasi lintas departemen pemerintah seperti departemen agama, sosial, dan kesehatan, juga punya peran penting ya, Millens.

Dokter yang membuka klinik di Jalan Cempedak 1 Nomor 11 A Kelurahan Lamper Lor, Kecamatan Semarang Selatan, Kota Semarang, Jawa Tengah, ini pun mengaku siap aktif menangani permasalahan-permasalahan anak dan selalu bersedia mendampingi orang tua yang punya masalah dalam tumbuh kembang anaknya.

Perlu kamu tahu, angka kematian bayi di Indonesia memang menurun. Namun begitu, negeri ini masih punya masalah pelik berkaitan dengan infeksi, gizi buruk, dan penyakit menular. Inilah yang menjadi pekerjaan rumah dokter yang juga praktik di sejumlah rumah sakit bergengsi di Semarang tersebut.

"Pekerjaan rumah dokter anak dan petinggi kesehatan adalah membawa anak Indonesia melewati masalah tersebut. Jadi, masalahnya nggak berhenti pada capaian angka kematian yang menurun, tapi kualitas hidup anak ikut meningkat," terangnya.

Sindrom Down 

Disertasi bertajuk Model Pengembangan Manajemen Pelayanan Komprehensif Transdisiplin pada Anak Sindroma Down mengantarkan dr Asri meraih gelar doktor pada 2014 silam. Gelar ini penting. Namun, bagi Asri bukan itu yang paling penting, melainkan apa yang harus dilakukannya dengan hasil disertasi tersebut.

Putri dari pasangan Prof Satmoko dan Prof Retno Sri Ningsih (mantan guru besar Unnes) itu berpendapat, selalu ada yang bisa dikembangkan dalam diri anak penderita sindrom down. Yang diperlukan, lanjutnya, hanyalah membantu anak untuk beraktivitas secara normal dan maksimal, serta memberi ruang bagi mereka.

Oya, sindrom down adalah kelainan genetik pada kromosom 21 yang mengakibatkan pembuahan yang tidak sempurna pada janin. Kelainan ini menyebabkan gangguan pada beberapa aspek tubuh penderita. Namun, kendati mengalami keterbatasan, penderita sindrom down umumnya punya kelebihan dalam hal lain, misal bidang seni atau olahraga.

"Mereka juga kebanyakan selalu riang karena nggak berpikir macam-macam," jelasnya.

Baca juga:
Edisi Spesial Kartini: Triyaningsih Begitu Bangga Nyanyikan "Indonesia Raya"
Edisi Spesial Kartini: Menjadi Sosok Perempuan Masa Kini Ala Rerie

Penting bagi Asri untuk mengatakan kepada masyarakat bahwa anak sindrom down sepatutnya diberi ruang di tengah masyarakat. Dia berharap, mereka sebaiknya jangan memandang mereka remeh.

“Penderita sindrom down sama kok dengan anak lain, meski memang ada keterbatasan. Jadi, perlakukan meraka sama seperti anak lain agar setiap anak belajar berbagi empati dan terbiasa berinteraksi,” ujarnya, "Nggak perlu diisolasi."

Untuk "mengampanyekan" ini, perempuan yang juga menjadi dosen di Fakultas Kedokteran Universitas Diponegoro (Undip) Semarang itu juga selalu memberi pengertian pada orang tua anak dengan sindrom down agar nggak takut menghadapi kelainan anaknya.

"Saya selalu siap menjadi pendengar bagi orang tua pasien yang ingin berkeluh kesah tanpa membedakan," akunya.

Asri menambahkan, orang tua, terkhusus para ibu, adalah kunci dalam tumbuh kembang anak. Menurut dia, seorang ibu yang kuat dan hebat akan melahirkan anak yang kuat dan hebat pula.

“Perempuan harus perkasa, karena kita punya tugas utama sebagai seorang ibu. Jangan malas dan harus tetap berjuang!” tegasnya. 

Nah Millens, catat dan teladani inspirasi dari dr Asri yuk! (Mayang Istnaini/E03)

Tags:

ARTIKEL TERKAIT

Mengenal Kalender Aboge, Sistem Penanggalan Jawa-Islam yang Masih Bertahan hingga Kini

17 Jul 2026

OSC Award 2026 Umumkan 116 Penerima Beasiswa S1 Penuh, Pendaftar Tembus 7.600 Peserta

17 Jul 2026

Ragam Upacara Adat Jawa dari Kehamilan hingga Kematian, Sarat Makna dan Nilai Kehidupan

18 Jul 2026

Harga Pertamax Berpeluang Turun Bulan Depan, Ini Penjelasan Menteri ESDM

21 Jul 2026

Kepala Badan Gizi Nasional Nanik S Deyang Mengundurkan Diri, Fokus Jalani Pengobatan Jantung

22 Jul 2026

Populasi Macan Tutul Jawa di Gunung Ungaran Tinggal 4–7 Ekor, Konservasi Dinilai Kian Mendesak

22 Jul 2026

China Klaim Berhasil Komersialkan Chip Otak, Babak Baru Persaingan dengan Neuralin

23 Jul 2026

Penanda Perbatasan Baru DIY Segera Dibangun, Desain "Cahaya Pradipta" Terinspirasi Cahaya Matahari di Gunungkidul

24 Jul 2026

Sering Dianggap Sama, Ternyata Putu Bambu dan Putu Ayu Punya Banyak Perbedaan

25 Jul 2026

Dijuluki Little Tiongkok, Lasem Simpan Jejak Akulturasi Budaya yang Masih Terjaga

27 Jul 2026

KAI Siapkan Nusantara Explorer, Kereta Sleeper Mewah Bernuansa Budaya Indonesia

28 Jul 2026

BRIN Kembali Temukan 18 Ikan Purba Coelacanth di Pulau Talise, Bukti Pentingnya Konservasi Laut Dalam

29 Jul 2026

Mengenal Londo Ireng, Tentara Afrika yang Direkrut Belanda ke Nusantara

30 Jul 2026

Lima Kasus HAM yang Pernah Terjadi di Indonesia, Ada yang Belum Selesai!

10 Des 2019

Sebelum Menikah, Coba deh Hitung Wetonmu dan Pasangan, Cocok Nggak?

24 Jun 2020

Terkuak, Ini Penyebab Mitos Orang Jawa dan Sunda Nggak Boleh Menikah

28 Jun 2020

Cek Daftar Kata Ini Sebelum Beli Baju di Online Shop

30 Mei 2018

Macan Akar a.k.a Kucing Hutan kok Dipiara

7 Des 2017

Jarang Disadari, Begini Ciri-Ciri WhatsApp yang Disadap dan Cara Mencegahnya

1 Mar 2021

Kidung Rumekso Ing Wengi, Mantra Tolak Bala Warisan Sunan Kalijaga

15 Nov 2020

Inibaru Media adalah perusahaan digital yang fokus memopulerkan potensi kekayaan lokal dan pop culture di Indonesia, khususnya Jawa Tengah. Menyajikan warna-warni Indonesia baru untuk generasi millenial.

A Group Member of

Ikuti kamu di: