BerandaInspirasi Indonesia
Sabtu, 4 Agu 2017 04:58

Ellyas Pical, Petinju Kelas Dunia Pertama Asal Indonesia

Ellyas Pical (Foto: https://www.cnnindonesia.com)

Generasi millenials masa kini mungkin tak begitu mengenal sosok petinju ini. Semenjak gantung sarung tinju pada 1989, namanya memang kian redup.

Inibaru.id - Sempat menjalani masa pensiun yang menyedihkan, pria berjuluk The Exocet ini menghembuskan napas terakhir pada 17 Februari 2017 lantaran serangan jantung. Ia adalah Ellyas Pical.

Namun demikian, sejarah tanah air telah mencatat namanya sebagai petinju kelas dunia pertama Indonesia. Bertinju mulai 1973, Elly merengkuh gelar Piala Presiden pada 1980. Namanya juga didengungkan di SEA Games 1981.

Jauh sebelum nama Elly hilang ditelan waktu, ia dikenal sebagai peraih titel dunia. Pria kelahiran Maluku, 24 maret 1960, ini pernah meraih sabuk juara super flyweight IBF pada 3 Mei 1985 dari petinju Korea Selatan, Chun Ju Do.

Catatan Elly selama bergelut di dunia tinju terbilang cukup mentereng, dengan 20 kali menang (11 di antaranya dengan KO), sekali seri, dan lima kali kalah.

Setelah kalah dari Juan Polo Perez pada Oktober 1989, Elly Pical mulai menepi dari ring tinju dan hanya tiga kali tampil pada pertandingan non-gelar, lalu pensiun.

Baca juga:
Laras Sekar, Model Belia Tanah Air yang Mendunia
Ronald-Annisa Raih Kemenangan di New Zealand Open Grand Prix Gold 2017

Dilansir dari Kompas.com, Elly menjadi petinju pertama dari Indonesia yang berhasil merebut gelar juara OPBF kelas super terbang di Korea Selatan. Saat itu 19 Mei 1984. Lawannya adalah petinju tuan rumah, Hee Yun Chun. Berangkat dari Sasana Garuda Jaya Jakarta, ia menang angka mutlak.

"Saya ingin jadi juara dunia," ungkap Elly.

Impian itu segera terwujud dalam waktu yang tak begitu lama. Pada 3 Mei 1985, The Exocet mengalahkan Chun Ju Do untuk gelar juara kelas superflyweight versi IBF di Istora Senayan, Jakarta.

Sempat kehilangan gelar juara setelah kalah dari petinju asal Republik Dominika, Cesar Polanco, Elly berhasil menang pada laga revans yang digelar di Jakarta pada 5 Juli 1986.

Hanya tiga ronde dengan durasi waktu 8,5 menit yang dibutuhkan Elly untuk menyabet kembali gelar juara IBF itu.

Pukulan keras, terutama pada lengan kirinya, inilah yang membuat Elly dijuluki The Exocet, merujuk rudal buatan Perancis yang digunakan Argentina pada Perang Malvinas.

Baca juga: 
Capaian Istimewa Timnas Voli Indonesia Jadi Bekal SEA Games

Beginilah Giroskop Militer Dari Serat Optik Buatan Anak Indonesia

Gagal

Dong Chun Lee sempat mencoba merebut gelar dari Elly, tapi gagal. Namun, pada 28 Februari 1987, ia kalah dari Khaosai Galaxy, seorang petinju juara dunia versi WBA asal Thailand. Gelar yang dimilikinya pun raib.

Chang Tae Il “mengembalikan” gelar Elly pada 17 Oktober 1987. Petinju asal Korea Selatan yang merupakan juara bertahan tinju dunia kelas super terbang IBF itu kalah melawan Elly yang konon hanya berlatih “ala kadarnya”.

Namun, pada 1989, Elly harus merelakan diri melepas gelarnya usai dikalahkan petinju asal Kolombia, Juan Polo Perez, di Virginia, AS.

Sejak kekalahan itu, prestasinya dalam ring tinju menurun. Elly sempat melakoni pertandingan non-gelar, tapi ia tak lagi bergas. Hingga akhirnya Elly pun memutuskan gantung sarung tinju.

Nama Elly sempat mencuat lantaran kasus transaksi narkoba di sebuah diskotik tempat ia bekerja. Sejak memutuskan pensiun, keuangan Elly memang terhitung tak begitu bagus. Ia sempat menjadi satpam dan petugas keamanan.

Elly divonis 7 bulan penjara. Setelah bebas, ia kemudian menjalani sebagai asisten Agum Gumelar yang menjadi Ketua KONI.

Lama tak terdengar namanya, publik tanah air tiba-tiba dikejutkan dengan kabar kurang menyenangkan dari sosok Elly. Ia dikabarkan terkena serangan jantung dan dirawat di rumah sakit. Tak berapa lama, Elly menghembuskan napas terakhirnya. (GIL/IB)

Tags:

ARTIKEL TERKAIT

Riset CISDI: Satu Dekade Berlalu, Harga Rokok Tetap Murah, Reformasi Cukai Diperlukan

17 Apr 2026

Sisi Positif Mitos Genderuwo; Cara Leluhur Jaga Pohon Raksasa Biar Sumber Air Tetap Awet

20 Apr 2026

Sumanto Dorong Desa Gempolan Jadi 'Surga' Durian: Jangan Cuma Tanam, Harus Inovasi!

20 Apr 2026

Jung Jawa, Jejak Kapal Raksasa Penguasa Laut Nusantara

21 Apr 2026

Spot Favorit Bali, Wajib Masuk Daftar Itinerary Liburan Keluarga

22 Apr 2026

Pilihan Penginapan Nyaman di Bandung untuk Liburan Singkat yang Maksimal

22 Apr 2026

Pendaftaran Beasiswa OSC 2026 Dibuka, Sediakan 140 Beasiswa S1

22 Apr 2026

7 Pemikiran Kartini yang Masih Relevan Sampai Saat Ini

23 Apr 2026

Adon-Adon Coro: Minuman Hangat Khas Jepara Favorit Kartini

23 Apr 2026

Kini Jadi Ancaman, Plastik Ternyata Pernah Jadi Solusi Menyelamatkan Bumi

24 Apr 2026

Sosialisasi Mitigasi Gunung Slamet, Pemprov Jateng Tekankan Keselamatan Warga

24 Apr 2026

Kasus Daycare Jogja: Tentang Kepercayaan, Pengasuhan, dan Sistem yang Belum Utuh

27 Apr 2026

Gunung Ungaran: Jejak Tiga Generasi yang Tumbuh dari Runtuhan

28 Apr 2026

Saat Video Kekerasan Anak Viral, Apa yang Seharusnya Kita Lakukan?

28 Apr 2026

Ilmu Tebang Bambu Leluhur, Tradisi Canggih yang Terbukti oleh Sains

30 Apr 2026

Lima Kasus HAM yang Pernah Terjadi di Indonesia, Ada yang Belum Selesai!

10 Des 2019

Sebelum Menikah, Coba deh Hitung Wetonmu dan Pasangan, Cocok Nggak?

24 Jun 2020

Terkuak, Ini Penyebab Mitos Orang Jawa dan Sunda Nggak Boleh Menikah

28 Jun 2020

Cek Daftar Kata Ini Sebelum Beli Baju di Online Shop

30 Mei 2018

Macan Akar a.k.a Kucing Hutan kok Dipiara

7 Des 2017

Inibaru Media adalah perusahaan digital yang fokus memopulerkan potensi kekayaan lokal dan pop culture di Indonesia, khususnya Jawa Tengah. Menyajikan warna-warni Indonesia baru untuk generasi millenial.

A Group Member of

Ikuti kamu di: