BerandaInspirasi Indonesia
Kamis, 31 Jan 2018 07:08

Angkie Yudistia dan Pelajaran tentang Kekuatan dari Keterbatasan

Angkie Yudistia (Kompas.com)

Angkie Yudistia menyandang tunarungu dan sempat terpuruk. Ketika bangkit, apa yang dilakukannya jadi inspirasi baik bagi penyandang disabilitas maupun yang tidak.

Inibaru.id –  Di dunia ini tentu nggak ada manusia yang ingin terlahir atau hidup dengan keterbatasan fisik atau fungsi indera. Nah, meski terlahir sempurna seorang Angkie Yudistia pada akhirnya harus hidup sebagai penyandang disabilitas. Semuanya bermula saat usianya 10 tahun, dia mengalami demam tinggi. Akibat kesalahan obat antibiotik yang diminum, dirinya harus kehilangan pendengaran. Dia pun mesti menerima kenyataan bahwa dia menjadi tunarungu.

Akibat keterbatasannya itu, Angkie sempat merasa minder. Saat teman-temannya menikmati masa puber, dia merasa berbeda dengan yang lainnya. Nggak hanya itu saja, perempuan kelahiran 5 Juni 1987 itu juga sempat mengalami bullying (perundungan) dari teman-temannya. Itu membuatnya semakin kurang percaya diri. Selalu merasa stres dengan keadaannya, suatu ketika Angkie sampai ke titik balik untuk menerima keterbatasan pendengarannya.

Mengutip Kompas.com (4/3/2017), Angkie mulai sadar, bila ia tidak pernah menerima dirinya sendiri, sampai kapan pun nggak akan bisa menikmati hidupnya. Dukungan orang tuanya juga membuat Angkie bangkit kembali untuk menjalani kehidupannya. Perlahan-lahan, perempuan kelahiran Medan itu dapat mengatasi mental block terhadap diri sendiri. Angkie juga teringat ucapan seorang dokter spesialis THT (telinga, hidung, dan tenggorokan) yang mengatakan bahwa kesembuhannya ada di tangan Tuhan.

Dia pun akhirnya bisa bangkit dan mulai mengejar ketertinggalannya. Agar dapat mengikuti pelajaran di sekolah umum, dia harus belajar lebih giat lagi dan memanggil guru privat. Dia belajar dua kali lipat lebih keras dari teman-temannya sampai lulus. Lulus SMA, Angkie juga sempat dilema. Pasalnya seorang dokter sempat menyarankan untuk nggak melanjutkan kuliah karena stres yang dialaminya bisa memperparah  pendengarannya. Namun dia ngotot untuk tetap kuliah dan mengambil Jurusan Periklanan di London School of Public Relations (LSPR), Jakarta.

Baca juga:
Sekolah Inklusif dan Keikhlasan Membimbing Mereka "Yang Terbuang"
Heni Sri Sundani, Mantan TKI yang Peduli Pendidikan Anak-Anak Petani

Setelah lulus sarjana, dia memutuskan meneruskan studinya ke jenjang S-2. Dia ambil bidang Marketing Komunikasi. Perempuan yang pernah menjadi finalis Abang-None Jakarta itu menyadari, dengan keterbatasannya dan hanya mengandalkan gelar sarjana saja, kesempatannya untuk bisa bekerja bisa hilang karena banyak orang lain yang lebih hebat darinya.

Pernah diberhentikan secara sepihak oleh perusahaan tempatnya bekerja dengan alasan yang nggak jelas, Angkie kemudian memilih menjadi social entrepreneur dengan mendirikan Thisable Enterprise. Ini adalah perusahaan yang dimanfaatkannya untuk mendukung para penyandang disabilitas agar dapat mandiri secara finansial.

Thisable sendiri terilhami setelah Angkie pulang dari International Visitor Leadership Program di Amerika Serikat. Dia belajar dari sebuah korporat di Ohio, AS, yang membuka kelas pelatihan khusus untuk disabilitas. Perusahaan itu akan menampung penyandang disabilitas yang telah usai pelatihan atau jika perencanaan bisnis seseorang bagus dan tidak ingin jadi pegawai, akan diberi modal. Korporat  itu independen dan nggak melibatkan banyak birokrasi.

Nah, melalui Thisable dia ingin para penyandang disabilitas di Indonesia bisa memiliki kesempatan yang sama dengan orang lain, dalam kehidupan pribadi dan profesional. Ya, ibu satu anak itu sadar, orang dengan disabilitas kerap sulit mendapat pekerjaan. Sangat sedikit perusahaan yang mau memperkerjakan mereka. Mendirikan Thisable benar-benar dari nol, Angkie sempat bingung cara menjualnya meski punya produk yang sudah bagus. Beruntung dia nggak sendirian dan punya rekan yang selalu membantunya.

Dilansir dari Astralife.co.id (11/1/2017), Thisable memiliki beberapa program, seperti CSR Program & CSR Funding; Social Enterprise; Social Marketing Communication; Learning Center; dan Micro Entreprise. Selain itu, Thisable juga membantu penyandang disabilitas dalam memasarkan karya mereka, salah satunya produk kecantikan. Angkie menggunakan nama merek Thisable Beauty Care yang menyediakan lulur, body scrub, bath salts, serta sabun berbahan alami.

Nggak hanya mengajak penyandang disabilitas untuk memproduksi sesuatu dan menjualnya, perempuan yang pernah terpilih sebagai The Most Fearless Female Cosmopolitan 2008 itu juga mendorong para penyandang disabilitas untuk menjual jasa. Untuk itu dia sudah menjalin kerja sama dengan PT Gojek Indonesia untuk memperkerjakan orang-orang dengan disabilitas di Go-Auto hingga Go-Glam.

Selain mendirikan perusahaan Thisable Enterprise yang beriorientasi sosial untuk membantu para penyandang disabilitas, Angkie yang terinspirasi dari Hellen Keller juga menerbitkan dua bukunya yang berjudul Perempuan Tuna Rungu Tanpa Batas dan Setinggi Langit. Buku tersebut berisi suara Angkie kepada masyarakat bahwa kaum disabilitas ada di sekitar kita dan berharap mereka diberi kesempatan yang sama dalam berkarya, baik dalam segi pendidikan dan ketenagakerjaan.

Baca juga:
Teater Boneka Ria Papermoon Mendunia
Adamas Belva dan Universitas Raksasa Bernama Ruangguru

Berkat semua usahanya tersebut, Angkie memperoleh beragam pengakuan dan penghargaan dari berbagai institusi.

Well, sosok angkie dan segudang prestasinya itu menunjukkan bahwa setiap orang, bahkan yang punya cacat fisik sekalipun bisa jadi luar biasa. Berkat perannya melalui Thisable, nggak mengherankan pula jika dia dianggap sebagai pahlawan bagi para penyandang disabilitas.

Memang sih hidup itu sulit, tapi bukan berarti kamu nggak bisa. Don’t give up, itu kuncinya. Lihatlah Angkie, dengan keterbatasannya, dia nggak pernah putus asa. (ALE/SA)

Tags:

ARTIKEL TERKAIT

Mengulik Filosofis Naga Jawa dalam Kosmologi Masyarakat Jawa Kuno

2 Jun 2026

Prabowo Copot Dadan Hindayana dari Kepala BGN, Nanik S Deyang Ditunjuk sebagai Pengganti

3 Jun 2026

Dolar Tembus Rp18.000, Apa Dampaknya bagi Masyarakat dan Apa yang Perlu Dilakukan?

4 Jun 2026

Membaca Duduk Perkara Kasus MBG: Berikut Dugaan Penyimpangan yang Sedang Diusut

4 Jun 2026

Bancakan, Tradisi Makan Bersama Masyarakat Jawa yang Sarat Makna Kebersamaan

5 Jun 2026

Grebeg Besar Keraton Solo, Tradisi Iduladha yang Menyatukan Syukur, Budaya, dan Harapan

5 Jun 2026

Mirip Orient Express, KAI Siapkan Kereta Wisata Premium Nusantara Explorer dari Jakarta hingga Banyuwangi

6 Jun 2026

Bediding Kembali Datang Saat Musim Kemarau, Dari Mana Asal Istilahnya?

7 Jun 2026

Akun Instagram Bisa Diretas Lewat Chatbot AI? Ini Penjelasannya

8 Jun 2026

Puluhan Rafflesia Bermekaran di Anambas, Peneliti Temukan Habitat Baru

9 Jun 2026

Berusia 67.800 Tahun, Cap Tangan di Pulau Muna Pecahkan Rekor Dunia

10 Jun 2026

Kuliner Indonesia Masuk 10 Besar Dunia Versi TasteAtlas 2026, Nasi Padang Jadi Salah Satu yang Tertinggi

11 Jun 2026

Majelis Masyayikh: Pengakuan terhadap Pesantren Harus Diikuti Dukungan Pendanaan

12 Jun 2026

Perkuat Posisi Tawar Industri Pers, Dewan Pers Himpun Masukan soal RUU Hak Cipta

12 Jun 2026

AMSI Soroti Ancaman FIMI, Bentuk Baru Manipulasi Informasi di Era AI

14 Jun 2026

Lima Kasus HAM yang Pernah Terjadi di Indonesia, Ada yang Belum Selesai!

10 Des 2019

Sebelum Menikah, Coba deh Hitung Wetonmu dan Pasangan, Cocok Nggak?

24 Jun 2020

Terkuak, Ini Penyebab Mitos Orang Jawa dan Sunda Nggak Boleh Menikah

28 Jun 2020

Cek Daftar Kata Ini Sebelum Beli Baju di Online Shop

30 Mei 2018

Macan Akar a.k.a Kucing Hutan kok Dipiara

7 Des 2017

Inibaru Media adalah perusahaan digital yang fokus memopulerkan potensi kekayaan lokal dan pop culture di Indonesia, khususnya Jawa Tengah. Menyajikan warna-warni Indonesia baru untuk generasi millenial.

A Group Member of

Ikuti kamu di: