BerandaIndie Mania
Kamis, 28 Agu 2019 10:50

Resahkan Perilaku Masyarakat dalam Sikapi Kekerasan, Kronik Film Media Bahas Kekerasan Sebagai Seni

Pemutaran film Funny Games oleh Kronik Film Media. (Inibaru.id/ Audrian F)

Kronik Film Media merasa terjadi pergeseran sikap masyarakat dalam menyikapi kekerasan. Hal yang seharusnya terasa getir dan dianggap amoral justru makin lazim diekspos. Nah, dari keresahan itu, Kronik Film Media mencoba membahasnya dengan menggunakan objek dua film yang berjudul Reservoir Dogs karya Quentin Tarantino dan Funny Games oleh Michaelo Hanneke.

Inibaru.id - Film yang bercerita tentang kekerasan sepertinya sudah sangat lazim, ya. Meskipun sebagian besar masyarakat (hanya) memandang dan menilainya sebagai tema yang tercela dan amoral, tapi bagi para film maker tema kekerasan tetap dapat dikemas apik selayaknya sebuah seni. Nggak heran jika akhirnya film-film tersebut memiliki panonton.

Nah, rupanya laris manisnya film bertema kekerasan di tengah masyarakat cukup menarik bagi Kronik Film Media, salah satu Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) di Universitas Diponegoro (Undip) Semarang. UKM yang bergerak di dunia perfilman ini menggelar agenda rutin ”Kronik Nonton Bareng”. Adapun tema yang diangkat adalah “Kekerasan Sebagai Seni dalam Film”.

Acara yang dilaksanakan di Ruang UKM Kronik Media pada Jumat-Sabtu (23-24/8) malam tersebut tampaknya nggak terlalu menarik minat mahasiswa di luar anggota UKM. Pembahasan pun berlangsung padat.

Bagi Timothy Stevano, ketua Kronik Film Media, tema tersebut berangkat dari pertanyaan apakah kekerasan di dalam film berdampak pada kekerasan di dunia nyata.

Pembahasan mengenai kekerasan sebagai seni dalam sinema. (Inibaru.id/ Audrian F)

Dia berpendapat, kekerasan di masa kini dirasa seperti sesuatu yang biasa. Nggak punya kesan getir atau mencekam. Misalnya ada suatu peristiwa, orang-orang nggak hendak menolong tapi malah merekamnya. Ditambah lagi banyaknya video-video kekerasan berseliweran di sosial media. Bukannya dikecam, video semacam ini justru mendapat support seperti like atau re-tweet penonton. Timothy Stevano yang juga mahasiswa psikologi menengarai hal tersebut dipengaruhi apa yang orang tonton.

Maka, sebagai pembahasan, Kronik Media Film, menggunakan film Reservoir Dogs (1992) milik Quentin Tarantino dan Funny Games (2007) oleh Michael Hanneke.

Dalam film Reservoir Dogs, diceritakan ada sebuah tim yang dibentuk oleh bos mafia Joe Cabot (Lawrence Tierney) dan anaknya; Eddie Cabot (Chris Penn) untuk menjalankan misi perampokan bank. Tim bentukan tersebut berjumlah 6 orang.

Cerita didominasi pengkhianatan dalam kelompok tersebut saat menjalankan aksi perampokan. Di sini penonton harus terbelalak menyaksikan adegan yang terbilang sadis dan vulgar. Menembak dengan brutal dan memotong telinga misalnya. Pokoknya kekerasan di film ini benar-benar digambarkan secara gamblang tanpa tedheng aling-aling, Millens.

“Bagi Quentin Tarantino kekerasan adalah seni. Padahal kekerasan harusnya dipandang miris. Namun Quentin sebaliknya. Meski sempat menuai kritik dari kelompok antikekerasan di sana, tapi Quenting tidak menyerah dan akhirnya bisa besar seperti sekarang,” ujar Timothy.

Sementara Hanneke adalah antitesis bagi Quentin Tarantino. Dia heran kenapa film Quentin Tarantino yang menggambarkan kekerasan secara nggak bertanggung jawab disukai oleh banyak orang, seperti Pulp Fiction juga salah satunya. Maka untuk melawan itu, dia membuat film Funny Games.

Funny Games bercerita tentang sebuah keluarga yang diteror oleh dua orang pria. Film ini sebetulnya adalah re-make dari versi awalnya di tahun 1997. Sama-sama mengambil angle kekerasan seperti Tarantino, pengemasan cerita  dibuat beda oleh Hanneke.

“Kekerasan yang dihadirkan di Funny Games itu stres, depresi, dan nggak nyaman. Karena dia berusaha menyeret para penonton tentang bagaimana kekerasan yang sesungguhnya atau yang bertanggung jawab. Bahkan kalau mau dicermati, semua adegan kekerasan dibikin secara off screen. Atau disembunyikan,” pungkas Timothy

Timothy juga menambahkan kalau, yang mau ditekankan melalui dua pemutaran ini adalah, untuk mengetahui berbagai sudut pandang mengenai kekerasan.

“Intinya agar teman-teman Kronik kaya akan referensi film. Bukan bermaksud menggiring Tarantino yang bener atau Hanneke yang salah, seperti itu,” tandas Timothy.

Kalau Millens suka juga nggak nonton film bertema kekerasan? (Audrian F/E05)

 

Tags:

ARTIKEL TERKAIT

Riset CISDI: Satu Dekade Berlalu, Harga Rokok Tetap Murah, Reformasi Cukai Diperlukan

17 Apr 2026

Sisi Positif Mitos Genderuwo; Cara Leluhur Jaga Pohon Raksasa Biar Sumber Air Tetap Awet

20 Apr 2026

Sumanto Dorong Desa Gempolan Jadi 'Surga' Durian: Jangan Cuma Tanam, Harus Inovasi!

20 Apr 2026

Jung Jawa, Jejak Kapal Raksasa Penguasa Laut Nusantara

21 Apr 2026

Spot Favorit Bali, Wajib Masuk Daftar Itinerary Liburan Keluarga

22 Apr 2026

Pilihan Penginapan Nyaman di Bandung untuk Liburan Singkat yang Maksimal

22 Apr 2026

Pendaftaran Beasiswa OSC 2026 Dibuka, Sediakan 140 Beasiswa S1

22 Apr 2026

7 Pemikiran Kartini yang Masih Relevan Sampai Saat Ini

23 Apr 2026

Adon-Adon Coro: Minuman Hangat Khas Jepara Favorit Kartini

23 Apr 2026

Kini Jadi Ancaman, Plastik Ternyata Pernah Jadi Solusi Menyelamatkan Bumi

24 Apr 2026

Sosialisasi Mitigasi Gunung Slamet, Pemprov Jateng Tekankan Keselamatan Warga

24 Apr 2026

Kasus Daycare Jogja: Tentang Kepercayaan, Pengasuhan, dan Sistem yang Belum Utuh

27 Apr 2026

Gunung Ungaran: Jejak Tiga Generasi yang Tumbuh dari Runtuhan

28 Apr 2026

Saat Video Kekerasan Anak Viral, Apa yang Seharusnya Kita Lakukan?

28 Apr 2026

Ilmu Tebang Bambu Leluhur, Tradisi Canggih yang Terbukti oleh Sains

30 Apr 2026

Lima Kasus HAM yang Pernah Terjadi di Indonesia, Ada yang Belum Selesai!

10 Des 2019

Sebelum Menikah, Coba deh Hitung Wetonmu dan Pasangan, Cocok Nggak?

24 Jun 2020

Terkuak, Ini Penyebab Mitos Orang Jawa dan Sunda Nggak Boleh Menikah

28 Jun 2020

Cek Daftar Kata Ini Sebelum Beli Baju di Online Shop

30 Mei 2018

Macan Akar a.k.a Kucing Hutan kok Dipiara

7 Des 2017

Inibaru Media adalah perusahaan digital yang fokus memopulerkan potensi kekayaan lokal dan pop culture di Indonesia, khususnya Jawa Tengah. Menyajikan warna-warni Indonesia baru untuk generasi millenial.

A Group Member of

Ikuti kamu di: