BerandaHits
Sabtu, 12 Des 2025 18:25

Tanpa Keseimbangan Hulu-Hilir, Banjir Permanen Hantui Pantura Jateng

Ketua Ikatan Ahli Perencanaan (IAP) Jawa Tengah (Jateng) Arif Gandapurnama mengingatkan kondisi kritis DAS Tuntang dan Babon yang berpotensi menyebabkan banjir besar. (Inibaru.id/ Sundara)

Banjir permanen berpotensi hantui pantura Jawa Tengah. Kondisi kritis sepanjang DAS Tuntang dan Babon seharusnya menjadi alarm bagi semua pihak untuk meningkatkan kewaspadaan serta menjaga keseimbangan ekosistem di hulu dan hilir.

Inibaru.id – Masyarakat yang tinggal di permukiman sekitar Daerah Aliran Sungai (DAS) Tuntang dan Babon di Jawa Tengah harus bersiap menghadapi ujian berat. Perubahan iklim ekstrem dan alih fungsi lahan telah meningkatkan ancaman banjir besar di sepanjang sungai tersebut.

Peringatan ini datang dari ahli yang mengamati perubahan drastis di hulu hingga hilir sungai yang membelah Kota Semarang dan sekitarnya ini.

Ketua Ikatan Ahli Perencanaan (IAP) Jawa Tengah (Jateng), Arif Gandapurnama, menuturkan bahwa perubahan iklim saat ini terjadi dengan intensitas yang sangat tinggi. Pola cuaca yang dulu bisa diprediksi melalui La Niña dan El Niño kini nggak lagi valid.

"Saat ini kita sedang menghadapi dua siklus La Niña yang cukup parah, yang memicu terbentuknya siklon-siklon. Akibatnya, curah hujan bisa sangat tinggi," kata Arif seusai kick-off penyusunan kajian Risiko dan Dampak Perubahan Iklim (CRIA) Jawa Tengah di Kota Semarang, Kamis (11/12/2025).

Seharusnya, dia menambahkan, curah hujan tinggi itu bisa diantisipasi dengan pengelolaan lahan yang baik, mulai dari hutan di hulu hingga infrastruktur di pesisir. Namun, kenyataannya ekosistem di wilayah-wilayah itu nggak seimbang. Bahkan, wilayah hulu semakin terbuka dan nggak memperhatikan aspek perubahan iklim.

"Kondisi ini membuat wilayah sepanjang DAS berisiko terdampak banjir besar, mengingat keadaan DAS Tuntang dan Babon saat ini sudah berada pada level kritis," tuturnya. "Akan ada genangan permanen. Area yang sebelum ini terdampak banjir pasang surut bisa tergenang secara permanen dan lebih parah."

Kota Pesisir Perlu Waspada 

Wilayah-wilayah di pesisir Jateng seperti Brebes, Pemalang, Kendal, dan Demak perlu waspada. Kota-kota ini membutuhkan kehati-hatian ekstra dalam pengelolaan DAS. Daerah-daerah tersebut memiliki risiko tergenang secara permanen dengan ketinggian genangan yang semakin meningkat.

Arif menekankan pentingnya pemerintah memiliki data yang akurat terkait risiko banjir. Selama ini, banjir sering diperlakukan sebagai siklus tahunan sehingga persiapan baru dilakukan ketika ancaman sudah terlihat.

"Kita harus memiliki data dasar. Misalnya, jika banjir akan separah ini, orang-orang harus dipindahkan dari area berbahaya, memiliki stok logistik, dan ada informasi jelas tentang apa yang boleh dan dilarang. Semua informasi itu harus dibangun dari data yang lebih baik," tegasnya.

Lebih jauh, dia mendorong pemerintah untuk menegakkan hukum secara tegas terkait masalah tata ruang. Pengelolaan wilayah hulu dan hilir sepanjang DAS harus disesuaikan dengan kondisi ekosistemnya.

Bencana banjir yang beberapa waktu lalu nyaris melumpuhkan sejumlah titik di Kota Semarang selama lebih dari seminggu menjadi peringatan serius bagi semua pihak. Arif menegaskan bahwa cuaca atau intensitas hujan tidak bisa disalahkan sebagai faktor tunggal.

"Alam itu kita. Perubahan iklim sebenarnya terjadi karena kita sebagai makhluk karbon yang mengeluarkan emisi. Walaupun prosesnya berlangsung dalam kurun waktu panjang, kita justru mempercepatnya. Satu dan lain hal, sebenarnya kita semua penyebab masalah ini," tukasnya.

Ya, krisis perubahan iklim sudah sangat terasa. Bencana yang terjadi di Sumatra bisa menjadi pengingat bagi semua pihak tentang pentingnya menjaga keseimbangan wilayah hulu dan hilir, Gez! (Sundara/E10)

Tags:

ARTIKEL TERKAIT

Kok Bisa Sih Cadangan Minyak Indonesia Cuma 20 Hari?

6 Mar 2026

'Bom Nuklir' dan 'Perdamaian' yang Viral di Tengah Eskalasi Konfik Timur Tengah

6 Mar 2026

Saking Bekunya Musim Dingin, Warga Laut Baltik Berseluncur dari Satu Pulau ke Pulau Lain

6 Mar 2026

Bukan Emas Lagi; MUI Jateng Ubah Patokan Nisab Zakat Profesi

6 Mar 2026

Duduk Perkara Kasus Pengeroyokan Mahasiswa Undip versi Polrestabes Semarang

6 Mar 2026

Oksigen Banyak dari Laut, Terus Kenapa Masih Ribut Soal Hutan?

6 Mar 2026

Tiket Mudik Ludes 400 Ribu! Cek Tanggal Favorit dan Kereta Pilihan di Daop 4 Semarang Ini

6 Mar 2026

Wisata Alam Kalikesek Semakin Ramai, Warga Desa Sriwulan Dapat THR

7 Mar 2026

Masjid Fujikawaguchiko, Tempat Salat dengan Latar Spektakuler Gunung Fuji di Jepang

7 Mar 2026

Sahur Tanpa Nasi Cuma Makan Lauk, Beneran Bikin Kuat Puasa Seharian?

7 Mar 2026

Ikan Air Tawar vs Ikan Laut: Siapa yang Paling Tahan Lawan Pemanasan Global?

7 Mar 2026

Aman Nggak Ya Mudik dengan Mobil Listrik?

8 Mar 2026

Membedah Mitos Minum Air Hangat Bisa Turunkan Berat Badan

8 Mar 2026

Restorative Justice Akhiri Kasus Pengeroyokan Mahasiswa Undip Semarang

8 Mar 2026

Berburu Baju Bekas sekaligus Bantu Korban Kekerasan di Bazar Preloved Sintas

8 Mar 2026

Sarung Tangan Karet Bekas Ternyata Bisa Jadi 'Penyedot' Polusi

8 Mar 2026

Srikandi Ojol Jateng Kini Punya Aplikasi Khusus Anti-Pelecehan

8 Mar 2026

Musim Mudik, Pengendara Diimbau Istirahat di Rest Area Maksimal 30 Menit

9 Mar 2026

Menilik Keseruan Momen Membeli Kebutuhan Lebaran

9 Mar 2026

PDAM Semarang Gelar 'Operasi Ketupat', 14 Ribu Penunggak Jadi Sasaran

9 Mar 2026

Inibaru Media adalah perusahaan digital yang fokus memopulerkan potensi kekayaan lokal dan pop culture di Indonesia, khususnya Jawa Tengah. Menyajikan warna-warni Indonesia baru untuk generasi millenial.

A Group Member of

Ikuti kamu di: