BerandaHits
Senin, 22 Des 2019 10:00

Sukses dengan Program Kampung ASI, Jati Kulon Kini Jadi Percontohan Desa

Desa Jati Kulon Kudus yang kini jadi kampung ASI. (Inibaru.id/ Zulfa Anisah)

Prihatin melihat warganya kerap izin kerja karena anak sakit, Sugeng nggak tinggal diam. Dia yakin, dengan mendorong pemberian ASI eksklusif, bayi di desanya bisa menjadi lebih kebal. Kini, angka cakupan ASI di desanya mencapai 100 persen dan menjadi percontohan bagi desa lain.

Inibaru.id - Jati Kulon, desa yang terletak di perbatasan antara Kabupaten Demak dengan Kudus ini menjadi sentra berbagai industri. Sugeng Prasetyo, Kepala Desa Jati Kulon menyebut desa di bawah kepemimpinannya ini dengan desa 1001 Inovasi, dengan program unggulan di antaranya Kampung Ijo, Kampung perubahan Iklim, dan Kampung ASI.

Salah satu yang menarik perhatian saya adalah Kampung ASI. Dibanding berbagai program yang Sugeng luncurkan, Kampung ASI nggak terdengar begitu seksi. Namun, bagi seorang perempuan seperti saya, Kampung ASI nampak jadi angin segar bagi perempuan yang hendak menyusui anaknya.

Sugeng, lelaki yang memasuki usia lanjut ini berani mengambil langkah untuk mendukung pemberian ASI bagi bayi di desanya. Langkah ini dia ambil mengingat banyaknya pekerja yang meminta izin ke kantor kelurahan setiap harinya karena anak sakit.

“Banyak! Sehari bisa 2-3. Anaknya gemuk tapi sering sakit,” kenang Sugeng.

Sugeng saat melayani warga. (Inibaru.id/ Zulfa Anisah)

Pada 2016, angka pemberian ASI hanya mencapai angka 15 persen. Ketidaktahuan masyarakat yang rerata merupakan buruh pabrik bahwa pemberian ASI bisa dilakukan kapan saja dan di mana saja menjadi satu faktor. Selain itu istri Sugeng, Eruni pengin mengubah pandangan masyarakat yang memandang bayi yang diberi susu formula lebih prestise daripada bayi ASI.

“Saya melihat orang tua yang bangga karena anak diberi susu formula, padahal mereka tidak tahu dampaknya,” kata Eruni.

Jadi Peraturan Desa

Melihat situasi tersebut dia nggak segan bertukar gagasan dengan putri keduanya, Erlita, yang saat itu juga tengah memberi anaknya ASI eksklusif. Dia melihat cucunya nggak gampang sakit. Dari situlah dia menginisiasi kampung ASI.

“Saya melihat cucu saya jarang sakit, sedikit demi sedikit anak saya menjelaskan pada saya tentang manfaat ASI,” kenang Sugeng.

Mulai saat itu, Sugeng beserta istrinya, Eruni ketua PKK Desa Jati Kulon mensosialisasikan kepada masyarakat. Meski nggak langsung diterima oleh masyarakat, keputusan Sugeng yang berani ini disambut baik oleh Puskesmas Kecamatan Jati yang bersedia memfasilitasi desanya untuk mewujudkan Kampung ASI.

Berbagai berkas pendukung Gerakan Ibu Sayang Bayi. (Inibaru.id/ Zulfa Anisah)

Pada awal 2017, Jati Kulon berhasil membentuk Kader Gerakan Ibu Sayang Bayi (Gersasi) di 29 RT yang dituangkan dalam SK bernomor 441/12/2017. Kader inilah yang ditugaskan untuk mematau kesehatan dan memberikan penyuluhan terhadap ibu hamil hingga menyusui.

Dalam menyukseskan programnya ini, Sugeng nggak main-main lo. Dia bahkan meminta persetujuan calon pengantin agar memberikan ASI pada anaknya kelak dengan menandatangani surat pernyataan.

“Kalau gak mau tanda tangan ya nggak bisa nikah, karena itu syaratnya,” kata Sugeng terkekeh.

Yup, meski terkesan memaksa, namun Sugeng optimis hal ini merupakan hal baik yang harus terus dia lakukan. Dengan bantuan puluhan kader yang tersebar di setiap RT, Sugeng mampu mendorong pemberian ASI.

Baca Juga: Sugeng Prasetyo, Inisiator di Balik Kesuksesan Kampung ASI Desa Jati Kulon Kudus

Kini, dua tahun program ini berjalan, Puskesmas Kecamatan Jati menyatakan bahwa desa ini kini punya tingkat pemberian ASI 100 persen pada Oktober 2019 lalu. Wah, salut!

Sugeng menyadari hal ini bukanlah hal yang mudah. Nggak semua ibu juga bisa menyusui anaknya karena indikasi medis. Pasangan muda yang tengah menyusui dan pindah ke daerah lain juga nggak bisa terus dipantau. Tapi paling nggak dia telah membuat perubahan berarti di desanya.

Jadi, nggak salah kalau program ini menjadi percontohan bagi dua desa lain di Kecamatan Jati, yaitu Desa Pasuruhan Lor dan Pasuruhan Kidul. Semoga program ini sukses ya, Millens! (Zulfa Anisah/E05)

Tags:

ARTIKEL TERKAIT

Lezatnya Mi Ayam Ceker Pak Kawit yang Melegenda di Pusat Kota Semarang

16 Jan 2026

Rupiah Masuk Daftar 5 Besar Mata Uang Terlemah di Dunia

16 Jan 2026

Kembali Didera Banjir, Warga Desa Wonorejo Memilih Bertahan di Rumah

16 Jan 2026

Bertahan dalam Banjir; dari Alasan Merawat Ternak hingga Menjaga Anggota Keluarga

16 Jan 2026

Yuk, Intip Tradisi Leluhur 'Nabung' Air Hujan yang Mulai Terlupakan

16 Jan 2026

Jateng Nol Desa Sangat Tertinggal, Kini Ribuan Berstatus Mandiri dan Maju!

16 Jan 2026

Viral Buku 'Broken Strings, Begini Tanggapan Orang Tua yang Memiliki Anak Remaja

17 Jan 2026

Lebih dari Merajut Kerukunan, Tradisi Nyadran Perdamaian di Temanggung Digelar Demi Menjaga Alam

17 Jan 2026

Perselingkuhan dan Judol, Pemicu Ribuan Istri Gugat Cerai Suami di Semarang

17 Jan 2026

Perbarui Eksonim, Indonesia Revisi Penulisan Nama Sejumlah Negara Asing

17 Jan 2026

Begini Pola Pelaku Child Grooming di DIY Menguasai Korbannya

17 Jan 2026

Menyisir Jejak Pangeran Samudra, Bangsawan Majapahit yang Abadi di Puncak Kemukus

17 Jan 2026

Trik Menyimpan Pisang Biar Nggak Cepat Membusuk

18 Jan 2026

Enak dan Mengenyangkan, Begini Cerita Warung Pecel dan Brongkos Mbok Teguh Pakis, Magelang

18 Jan 2026

Ratusan Ribu Keluarga Belum Punya Rumah, Apa Rencana Pemkot Semarang?

18 Jan 2026

Ketika Wayang Klithik Menolak jadi 'Artefak' Budaya

18 Jan 2026

Gawat! Dijajah Spesies Asing, Jumlah Serangga Lokal Anjlok

18 Jan 2026

Parenting Tipe C, Gaya Asuh Fleksibel yang Bikin Anak dan Orang Tua Lebih Bahagia

18 Jan 2026

Di Korea Selatan, Siswa Pelaku Bullying Dipersulit Masuk Universitas

19 Jan 2026

Melegenda di Muntilan, Begini Kelezatan Bubur Mbah Gamping

19 Jan 2026

Inibaru Media adalah perusahaan digital yang fokus memopulerkan potensi kekayaan lokal dan pop culture di Indonesia, khususnya Jawa Tengah. Menyajikan warna-warni Indonesia baru untuk generasi millenial.

A Group Member of

Ikuti kamu di: