BerandaHits
Jumat, 1 Mei 2025 11:44

Seremoni May Day dan Catatan Kelam Dunia Kerja di Indonesia Hari-Hari Ini

Lebih dari 10.000 pekerja mengalami pemutusan hubungan kerja (PHK) massal setelah perusahaan tekstil raksasa Indonesia, di PT Sritex dinyatakan pailit. (Antara Foto/Mohammad Ayudha via Kompas)

Memperingati Hari Buruh yang juga dikenal sebagai May Day, berikut adalah catatan kelam dunia kerja di Indonesia hari-hari ini yang seharusnya kita pahami sebagai peringatan untuk kita semua.

Inibaru.id - Ratusan ribu buruh merayakan May Day hari ini, Kamis (1/5/2025). Sedari pagi, mereka telah berarak menuju halaman gedung pemerintahan dan parlemen di berbagai sudut di Indonesia. Suara mereka nyaring, berisik, dan melengking mengusik para penguasa dan tentu saja pengusaha.

Di antara mereka, ada Muhammad yang sejak pagi telah bersiap ke Monas. Dihubungi sekitar pukul 09.00 WIB, pekerja di sebuah pabrik garmen di Jawa Barat itu mengaku akan ikut turun ke jalan untuk memperingati Hari Buruh bersama kawan-kawannya.

"Setiap tahun, Hari Buruh memang selalu diperingati dengan cara yang sama. Kita diliburkan, lalu turun ke jalan. Tapi, ya beginilah, tiap kali demonstrasi tuntutan para buruh berganti, tapi jawaban para penguasa dan pengusaha ini sepertinya mirip-mirip saja," tuturnya via pesan pribadi di Instagram, Kamis (1/5/2025).

Apa yang dikatakan Muhammad nggak salah. Di Indonesia, kita punya daftar panjang suara sumbang dari tuntutan para buruh yang tampak diperhatikan, tapi menjadi semata aksi seremonial yang pada waktunya akan terlupakan dan tenggelam di lini masa, sementara para buruh tetap terluka dan diabaikan.

"Dengan upah jauh dari kata layak, eksploitasi, pelecehan, dan kekerasan yang mengintai, jaminan kerja nggak memadai, serta perlindungan kesehatan yang begitu minim, sebagian dari kami tetap bertahan demi bisa makan," keluhnya.

Lebih dari Seremonial

Lebih dari sekadar peringatan seremonial dengan spanduk dan demo besar-besaran, Muhammad menilai Hari Buruh adalah upaya untuk mengingatkan kita kembali akan ribuan kisah pilu pekerja yang terpinggirkan di negeri ini.

"Kenapa sepenting itu? Tentu saja karena suatu hari nanti anak kita juga akan menjadi para pekerja. Sebagai orang tua, yang saya lakukan adalah membuat jalan mereka lebih baik, mulus, dan nggak mengalami nasib pahit yang kami alami," jawabnya sebelum mengakhiri obrolan karena akan kembali menyerukan aksi.

Ya, May Day atau Hari Buruh yang diperingati setiap 1 Mei bukan cuma "perayaan" untuk pekerja, tapi juga anak muda seperti kita yang suatu hari akan menjadi bagian dari para pekerja yang melumasi roda ekonomi di negeri ini.

Kita tidak bisa menutup mata alias abai atas berbagai kisah pilu yang para buruh alami. Kamu mungkin ingat kisah Marsinah, seorang buruh pabrik di Sidoarjo yang menghilang selama tiga hari kemudian ditemukan terbunuh pada 8 Mei 1993. Bagaimana kelanjutan kasusnya?

Catatan Kelam di Dunia Kerja

Ilustrasi: Kasus pembunuhan Marsinah hanyalah satu dari daftar panjang catatan kelam di dunia kerja di Tanah Air. (Detik/Rifkianto Nugroho)

Marsinah hanyalah satu dari deretan catatan kelam di dunia kerja di Tanah Air. Berikut adalah rangkuman catatan dalam beberapa tahun terakhir yang patut jadi refleksi bersama:

1. PHK Massal: Ketika ribuan pekerja kehilangan pegangan hidup

Tahun 2024 ditandai dengan badai pemutusan hubungan kerja (PHK) yang menyapu berbagai sektor. Tercatat lebih dari 77.000 pekerja di-PHK; terbanyak di Jakarta, Jawa Tengah, dan Banten. Penyebabnya beragam: mulai dari digitalisasi, efisiensi, sampai penurunan permintaan global.

Contoh kasus:

  • PT Sritex, salah satu raksasa tekstil Indonesia menyatakan pailit dan mem-PHK lebih dari 10.000 karyawan.
  • PT Sepatu Bata dan PT Hung-A Indonesia juga melakukan PHK besar-besaran, menyisakan kekhawatiran soal nasib industri padat karya.

2. Pelecehan seksual masih menjadi "hantu" di tempat kerja

Masih banyak pekerja, khususnya perempuan dan komunitas rentan, yang menghadapi kekerasan dan pelecehan seksual. Survei IJRS tahun 2023 menyebut 70,81 persen responden pernah mengalami pelecehan.

Yang paling menyedihkan dari riset tersebut, sebagian besar korban nggak berani melaporkan kasus tersebut karena takut kehilangan pekerjaan atau dianggap mengada-ada.

3. Eksploitasi anak di dunia kerja

Hasil penelitian BPS pada 2023 menyebutkan, ada lebih dari satu juta anak yang bekerja di Indonesia. Sebagian dari mereka bekerja di sektor informal seperti pertanian dan industri rumahan; yang tentu saja tanpa perlindungan dan upah layak, serta mengorbankan pendidikan.

Sedikit informasi, KPAI mencatat ada 303 laporan eksploitasi anak hanya dalam dua tahun terakhir, termasuk anak-anak yang dipaksa bekerja di tambang atau jadi pekerja rumah tangga.

4. Penipuan berkedok 'Lowongan Kerja'

Di era digital, penipuan kerja makin licik. Banyak pencari kerja muda jadi korban lowongan palsu yang meminta biaya “administrasi” hingga data pribadi. Misalnya, modus “diundang interview” lalu ditipu secara massal pernah terjadi di Jakarta dan Bandung, dengan korban mencapai ratusan orang.

5. Pekerja migran dan jerat perdagangan orang

Sekitar 1.800 lebih pekerja migran Indonesia diduga menjadi korban tindak pidana perdagangan orang (TPPO) sejak 2019 hingga 2024. Mereka dieksploitasi di luar negeri, tanpa gaji layak, dokumen resmi, atau perlindungan hukum.

6. Ketimpangan dan minimnya perlindungan pekerja informal

Para pekerja di sektor informal seperti driver ojek online, kurir, dan freelancer masih berjuang untuk mendapatkan pengakuan hukum dan perlindungan sosial. Banyak dari mereka nggak punya asuransi, cuti, atau upah minimum yang jelas.

Catatan kelam di dunia kerja ini bukan sekadar pengingat luka, tapi juga ajakan. Kamu bisa mendorong perubahan lewat kesadaran kolektif; termasuk mendorong regulasi yang adil, menolak diskriminasi, mendukung ekonomi etis, dan berdiri bersama pekerja yang terpinggirkan.

Perlu kamu pahami bahwa seharusnya dunia kerja yang sehat dan mudah dijalani bukanlah bentuk privilese atau keistimewaan, tapi merupakan hak setiap orang dan takdir yang harus diperjuangkan. (Siti Khatijah/E07)

Tags:

ARTIKEL TERKAIT

Sritex Masuk Rencana Akuisisi Danantara, Ini Tujuan Pemerintah

18 Okt 2026

Warteg on Train, Inovasi Kuliner KAI yang Bikin Penumpang Penasaran

19 Okt 2026

Indonesia Women's League 2026 Resmi Dibuka, Sepak Bola Wanita Indonesia Siap Berkembang

21 Okt 2026

Ghost in the Cell Borong Dua Penghargaan di Sitges Film Festival 2026

22 Okt 2026

Jauh Sebelum Pajak Modern, Jawa Kuno Sudah Punya Sistem Pajak Tanah

23 Okt 2026

Pesawat N219 Buatan Indonesia Siap Terbang Desember 2026

24 Okt 2026

Progres Tol Semarang-Demak Capai 79,42 Persen, Ditarget Rampung 2027

26 Okt 2026

Dari Surabaya, Lahir Seruan Jihad yang menginspirasi Hari Santri Nasional

27 Okt 2026

Mengapa Salatiga Disebut Salah Satu Kota Tertua di Indonesia? Ini Sejarahnya

28 Okt 2026

Menjaga Napas Rawa Gambut yang Kian Rentan Terbakar

29 Okt 2026

Poke Wayang, Ketika Pikachu dan Wayang Kulit Bertemu dalam Satu Panggung

30 Okt 2026

Lima Kasus HAM yang Pernah Terjadi di Indonesia, Ada yang Belum Selesai!

10 Des 2019

Sebelum Menikah, Coba deh Hitung Wetonmu dan Pasangan, Cocok Nggak?

24 Jun 2020

Terkuak, Ini Penyebab Mitos Orang Jawa dan Sunda Nggak Boleh Menikah

28 Jun 2020

Cek Daftar Kata Ini Sebelum Beli Baju di Online Shop

30 Mei 2018

Macan Akar a.k.a Kucing Hutan kok Dipiara

7 Des 2017

Jarang Disadari, Begini Ciri-Ciri WhatsApp yang Disadap dan Cara Mencegahnya

1 Mar 2021

Kidung Rumekso Ing Wengi, Mantra Tolak Bala Warisan Sunan Kalijaga

15 Nov 2020

Terjawab Sudah Alasan Achmad Yurianto Diganti Reisa Broto Asmoro

10 Jun 2020

8 Tokoh Penting Kongres Pemuda II yang Lahirkan Sumpah Pemuda

28 Okt 2017

Inibaru Media adalah perusahaan digital yang fokus memopulerkan potensi kekayaan lokal dan pop culture di Indonesia, khususnya Jawa Tengah. Menyajikan warna-warni Indonesia baru untuk generasi millenial.

A Group Member of

Ikuti kamu di: