BerandaHits
Kamis, 13 Apr 2022 16:25

Sebelum Heboh Klitih, Jogja Punya Dua Geng Legendaris Q-zruh dan Joxzin

Joxzin, salah satu dari dua geng legendaris di Jogja. (Twitter/brigade_joxzin)

Sebelum kini dihebohkan dengan klitih, Jogja juga sempat dikenal dengan adanya dua geng legendaris Q-zruh dan Joxzin. Mereka berusaha untuk berebut pengaruh di Kota Pelajar di dekade 80-an dan 90-an.

Inibaru.id – Kasus klitih Jogja membuat banyak orang mengira banyak geng-geng anak muda di sana. Sebelum dihebohkan dengan fenomena klitih yang meresahkan warga ini, di Jogja ada dua geng lawas legendaris bernama Joxzin dan Q-zruh.

Saking berpengaruhnya dua geng ini di masa Orde Baru, gaung namanya sampai terdengar di luar Jogja. Mereka dikenal saling bermusuhan dan berusaha untuk mendominasi sejumlah wilayah di sana. Nggak heran kalau anggota kedua geng ini terlibat dalam aksi tawuran. Bahkan, dalam skala lebih besar, anggota kedua geng tersebut terafiliasi dengan partai politik masing-masing sehingga membuat perseteruan pun semakin panas.

Oya, Millens, nama setiap geng ini punya makna. Q-zruh bisa kamu baca sebagai ‘kisruh’. Meski begitu, nama ini adalah singkatan dari ‘Qita Zuka Ribut untuk Hiburan’. Geng ini berdiri pada Juli 1983 dan dikenal menguasai bagian utara Yogyakarta seperti Jalan Magelang, Jalan Urip Sumoharjo, serta wilayah Terban.

Q-zruh juga terafiliasi dengan Partai Demokrasi Indonesia di masa Orde Baru. Bahkan, petinggi geng ini ada yang jadi anggota satgas PDI. Oleh karena inilah, identitas geng ini mirip dengan PDI, yakni merah dan putih.

Sementara itu, Joxzin adalah singkatan dari Joxo Zinthing. Meski begitu, ada versi lain dari singkatan ini, yakni Pojox Benzin. Geng ini berdiri pada 1985, Millens. Wilayah kekuasaan geng ini ada di selatan Jogja layaknya di kawasan Kauman, Karangkajen, dan Kotagede.

Geng ini punya afiliasi dengan Partai Persatuan Pembangunan (PPP). Maklum, wilayah kekuasaannya adalah basis pemilih PPP di DIY. Hal ini membuat identitas geng ini juga berwarna hijau.

Kasus klitih semakin bikin warga Jogja takut keluar malam. (Instagram @magelang_raya)

Sebenarnya sih ya, masih ada satu lagi geng legendaris di Yogya, yakni TRB atau juga dikenal dengan Trah Butek. Wilayah kekuasaannya ada di tengah-tengah Yogyakarta, yakni Taman Sari dan Ngasem. Cukup kecil dibandingkan dengan kekuasaan dua geng yang kita bahas sebelumnya.

Menariknya, pada dekade 80-an atau 90-an atau di masa geng-geng legendaris ini berjaya, makna klitih sangat berbeda dengan sekarang. Bukannya identik dengan kekerasan jalanan dengan korban berupa rakyat biasa yang diserang secara acak, klitih pada zaman dulu sebenarnya berarti orang-orang yang sedang suntuk dan bingung mau melakukan apa dan akhirnya pergi keluar jalan-jalan santai sembari mencari barang bekas di Pasar Klitikan.

Nah, yang melakukan aksi klitih ini adalah anak muda pada malam hari. Mereka juga nggak melakukan tindakan kriminal apapun. Maklum, kan hanya jalan-jalan santai.

“Kalau dulu sebetulnya hanya aktivitas orang keluar malam mencari kegiatan untuk mengatasi kepenatan,” ungkap Sosiolog dari UGM Arie Sujito, Selasa (5/4/2022).

Sayangnya, makna klitih mulai bergeser pada 2011 sampai 2012. Pada waktu itu, beberapa kali terjadi kasus pembacokan di malam hari. Bahkan, sejak 2014, korban klitih semakin beragam karena nggak mengenal usia dan jenis kelamin. Anak-anak muda yang dulu nglitih untuk menghilangkan kepenatan kini justru melakukan aksi kriminal jalanan.

Duh, semoga saja kasus klitih di Yogyakarta bisa segera hilang, ya Millens. Biar semakin aman. (Kon, Kom/IB09/E05)

Tags:

ARTIKEL TERKAIT

Cantiknya Pemandangan Pantai Dasun Lasem, Kabupaten Rembang

3 Mar 2026

Saat Takjil War, Waspada dengan Sejumlah Pembungkus Takjil Nggak Sehat Ini

3 Mar 2026

OTT Edisi Ramadan, KPK Bawa Bupati Pekalongan Fadia Arafiq ke Jakarta

3 Mar 2026

Ketua BEM UGM Tiyo Ardianto, Jemaah Maiyah yang Lantang Kritik Program MBG

3 Mar 2026

Tren 'Grading Card', Autentifikasi Kartu Koleksi agar Nilai Jual Lebih Tinggi

3 Mar 2026

Mulai Maret Ini, Anak di Bawah 16 Tahun Dibatasi Main Medsos

3 Mar 2026

Kartu Mebel Jepara, 'Tiket Emas' biar UKM Ukir Naik Kelas

3 Mar 2026

Sejuk dan Alami, Begini Keindahan Air Terjun Kyai Buku Jepara

4 Mar 2026

Sepanjang 2025, Uang Hilang Setara Rp355 Miliar di Jepang Kembali ke Pemiliknya

4 Mar 2026

Opsi 'Sekolah Swasta Gratis' Akan Terintegrasi dengan SPMB 2026 di Kota Semarang

4 Mar 2026

Ponpes Raudhatul Qur'an; Cetak Ratusan Hafiz dengan Biaya Bulanan Murah Meriah

4 Mar 2026

Menguliti Asal Usul Nama Kurma

4 Mar 2026

Tragedi Cinta Mangir-Pembayun; Saat Asmara Jadi Senjata Penakluk Mataram

4 Mar 2026

Aneka Festival Musim Semi di Korea Selatan yang Bisa Kamu Datangi

5 Mar 2026

Benar Nggak Sih Sawit Bakal Menyelamatkan Indonesia dari Krisis Energi Global?

5 Mar 2026

Wajibkan Pencairan Maksimal H-7 Lebaran, Jateng Aktifkan Posko THR untuk Pengaduan

5 Mar 2026

Uji Coba Bus Listrik untuk Transportasi Publik yang Inklusif dan Ramah Lingkungan

5 Mar 2026

Kekerasan Seksual vs Main Hakim Sendiri; Undip Tegaskan Nggak Ada Toleransi!

5 Mar 2026

Siap-Siap Gerah! Kemarau 2026 Diprediksi Datang Lebih Cepat dan Lebih Kering

5 Mar 2026

Kok Bisa Sih Cadangan Minyak Indonesia Cuma 20 Hari?

6 Mar 2026

Inibaru Media adalah perusahaan digital yang fokus memopulerkan potensi kekayaan lokal dan pop culture di Indonesia, khususnya Jawa Tengah. Menyajikan warna-warni Indonesia baru untuk generasi millenial.

A Group Member of

Ikuti kamu di: