BerandaTradisinesia
Selasa, 15 Jun 2026 17:15

9 Tradisi Malam Satu Suro di Berbagai Daerah yang Masih Dilestarikan hingga Kini

Kirab budaya, doa bersama, dan berbagai ritual adat masih menjadi bagian dari peringatan Malam Satu Suro di sejumlah daerah di Indonesia. (Indonesia Kaya)

Malam Satu Suro tidak hanya menjadi penanda tahun baru Jawa, tetapi juga dirayakan melalui berbagai tradisi yang sarat makna spiritual, refleksi diri, dan pelestarian budaya.

Inibaru.id - Bagi sebagian masyarakat Jawa, Malam Satu Suro bukan sekadar pergantian tahun dalam kalender Jawa. Malam ini dipandang sebagai waktu yang sakral untuk melakukan refleksi diri, memanjatkan doa, hingga menjalankan berbagai ritual yang diwariskan turun-temurun.

Satu Suro sendiri bertepatan dengan 1 Muharram dalam kalender Hijriah. Tradisi ini berakar dari penanggalan Jawa yang diperkenalkan Sultan Agung Hanyakrakusuma pada abad ke-17, ketika kalender Saka yang berbasis matahari dipadukan dengan sistem kalender Hijriah yang berbasis peredaran bulan.

Seiring waktu, Malam Satu Suro berkembang menjadi bagian penting dari budaya masyarakat Jawa. Meski sering dikaitkan dengan nuansa mistis, banyak tradisi yang sebenarnya sarat makna spiritual, mulai dari perenungan diri, penghormatan terhadap leluhur, hingga ungkapan syukur dan harapan untuk tahun yang baru.

Menariknya, setiap daerah memiliki cara tersendiri dalam memperingati Malam Satu Suro.

1. Tapa Bisu dan Mubeng Benteng di Yogyakarta

Salah satu tradisi paling terkenal berlangsung di lingkungan Keraton Yogyakarta melalui ritual Mubeng Benteng.

Dalam tradisi ini, para abdi dalem dan masyarakat berjalan mengelilingi benteng keraton tanpa mengucapkan sepatah kata pun. Ritual yang dikenal sebagai tapa bisu tersebut dilakukan sebagai bentuk introspeksi diri dan perenungan menjelang tahun baru Jawa.

Peserta biasanya berjalan tanpa alas kaki sambil membawa doa dan harapan bagi keselamatan diri maupun masyarakat.

2. Kirab Kebo Bule di Surakarta

Di Keraton Kasunanan Surakarta, Malam Satu Suro identik dengan kirab pusaka yang melibatkan kerbau bule keturunan Kiai Slamet.

Kerbau tersebut dipercaya memiliki nilai historis dan spiritual sehingga selalu menjadi pusat perhatian masyarakat saat kirab berlangsung. Selain kerbau bule, sejumlah pusaka keraton juga diarak sebagai simbol pelestarian warisan budaya dan kesinambungan tradisi.

3. Jamasan Pusaka di Berbagai Daerah

Tradisi lain yang banyak dilakukan saat bulan Suro adalah jamasan pusaka atau pencucian benda-benda pusaka.

Ritual ini dapat ditemukan di Solo, Magelang, Blitar, hingga sejumlah wilayah pesisir Jawa. Proses pencucian biasanya menggunakan bahan-bahan alami seperti abu, jeruk nipis, minyak, dan bunga harum.

Bagi masyarakat yang melaksanakannya, jamasan bukan sekadar membersihkan benda pusaka secara fisik, melainkan juga menjadi simbol penghormatan terhadap sejarah dan nilai-nilai leluhur.

4. Semedi di Gunung Lawu

Gunung Lawu menjadi salah satu tujuan spiritual yang ramai dikunjungi saat Malam Satu Suro.

Sebagian peziarah memilih menghabiskan malam di kawasan gunung untuk berdoa, bermeditasi, atau melakukan laku batin. Aktivitas tersebut diyakini sebagai sarana mencari ketenangan, memperkuat spiritualitas, sekaligus melakukan refleksi diri.

5. Kungkum di Semarang

Di Semarang, sebagian masyarakat masih menjalankan tradisi kungkum atau berendam di sumber air tertentu saat Malam Satu Suro.

Salah satu lokasi yang dikenal adalah kawasan Tugu Soeharto di Bendan Nduwur. Tradisi ini dipercaya sebagai simbol pembersihan diri sebelum memasuki tahun yang baru.

6. Upacara Adat di Temanggung

Masyarakat Desa Traji, Parakan, Temanggung, memiliki cara unik menyambut Satu Suro.

Warga berjalan menuju sendang sambil membawa gunungan hasil bumi. Setelah berbagai prosesi adat dilakukan, gunungan tersebut diperebutkan masyarakat sebagai simbol keberkahan dan harapan akan hasil panen yang melimpah.

7. Kirab dan Pembakaran Sangkala di Malang

Di Desa Wonosari, Kabupaten Malang, masyarakat menggelar kirab budaya dengan membawa gunungan serta sangkala, yakni patung raksasa yang melambangkan sifat buruk manusia.

Pada akhir prosesi, sangkala dibakar sebagai simbol harapan agar masyarakat terhindar dari sifat tamak, iri hati, dan berbagai perilaku negatif lainnya.

8. Tradisi Nganggung di Bangka

Tak hanya di Pulau Jawa, semangat menyambut tahun baru Islam juga terlihat di Bangka melalui tradisi Nganggung.

Masyarakat membawa dulang berisi makanan ke masjid untuk disantap bersama setelah doa bersama selesai. Tradisi ini mencerminkan nilai gotong royong dan kebersamaan yang masih kuat di tengah masyarakat.

9. Ngadulag dan Pawai Obor

Di sejumlah daerah Jawa Barat, masyarakat menyambut datangnya 1 Muharram melalui tradisi Ngadulag atau lomba menabuh bedug.

Sementara itu, pawai obor juga masih menjadi tradisi yang banyak dijumpai di berbagai daerah Indonesia. Selain meriah, kegiatan ini menjadi simbol penyambutan tahun baru Islam sekaligus sarana mempererat hubungan sosial antarwarga.

Meski bentuk perayaannya berbeda-beda, sebagian besar tradisi Malam Satu Suro memiliki pesan yang sama, yakni mengajak masyarakat melakukan refleksi diri, memperkuat hubungan dengan Sang Pencipta, serta menjaga harmoni dengan sesama dan alam.

Di tengah perubahan zaman, berbagai tradisi tersebut menunjukkan bahwa nilai-nilai budaya dan spiritual yang diwariskan leluhur masih terus hidup dan dirawat oleh masyarakat hingga sekarang.

Kalau di daerahmu, tradisi apa yang biasanya dilakukan saat Malam Satu Suro? (Ike/E01)

Tags:

ARTIKEL TERKAIT

Istana Kepresidenan Yogyakarta Kini Bisa Dikunjungi Gratis, Ini Syarat dan Cara Daftarnya

16 Jul 2026

Mengenal Kalender Aboge, Sistem Penanggalan Jawa-Islam yang Masih Bertahan hingga Kini

17 Jul 2026

OSC Award 2026 Umumkan 116 Penerima Beasiswa S1 Penuh, Pendaftar Tembus 7.600 Peserta

17 Jul 2026

Ragam Upacara Adat Jawa dari Kehamilan hingga Kematian, Sarat Makna dan Nilai Kehidupan

18 Jul 2026

Harga Pertamax Berpeluang Turun Bulan Depan, Ini Penjelasan Menteri ESDM

21 Jul 2026

Kepala Badan Gizi Nasional Nanik S Deyang Mengundurkan Diri, Fokus Jalani Pengobatan Jantung

22 Jul 2026

Populasi Macan Tutul Jawa di Gunung Ungaran Tinggal 4–7 Ekor, Konservasi Dinilai Kian Mendesak

22 Jul 2026

China Klaim Berhasil Komersialkan Chip Otak, Babak Baru Persaingan dengan Neuralin

23 Jul 2026

Penanda Perbatasan Baru DIY Segera Dibangun, Desain "Cahaya Pradipta" Terinspirasi Cahaya Matahari di Gunungkidul

24 Jul 2026

Sering Dianggap Sama, Ternyata Putu Bambu dan Putu Ayu Punya Banyak Perbedaan

25 Jul 2026

Dijuluki Little Tiongkok, Lasem Simpan Jejak Akulturasi Budaya yang Masih Terjaga

27 Jul 2026

KAI Siapkan Nusantara Explorer, Kereta Sleeper Mewah Bernuansa Budaya Indonesia

28 Jul 2026

BRIN Kembali Temukan 18 Ikan Purba Coelacanth di Pulau Talise, Bukti Pentingnya Konservasi Laut Dalam

29 Jul 2026

Lima Kasus HAM yang Pernah Terjadi di Indonesia, Ada yang Belum Selesai!

10 Des 2019

Sebelum Menikah, Coba deh Hitung Wetonmu dan Pasangan, Cocok Nggak?

24 Jun 2020

Terkuak, Ini Penyebab Mitos Orang Jawa dan Sunda Nggak Boleh Menikah

28 Jun 2020

Cek Daftar Kata Ini Sebelum Beli Baju di Online Shop

30 Mei 2018

Macan Akar a.k.a Kucing Hutan kok Dipiara

7 Des 2017

Jarang Disadari, Begini Ciri-Ciri WhatsApp yang Disadap dan Cara Mencegahnya

1 Mar 2021

Kidung Rumekso Ing Wengi, Mantra Tolak Bala Warisan Sunan Kalijaga

15 Nov 2020

Inibaru Media adalah perusahaan digital yang fokus memopulerkan potensi kekayaan lokal dan pop culture di Indonesia, khususnya Jawa Tengah. Menyajikan warna-warni Indonesia baru untuk generasi millenial.

A Group Member of

Ikuti kamu di: