BerandaHits
Jumat, 12 Agu 2021 18:15

Orang Indonesia yang Angkat Senjata untuk Bangsa Lain, Siapa Saja?

Irawan Soejono (nomor dua) ikut berperang melawan Jerman bersama Belanda. (Mareonline.nl via Malangnews)

Beberapa orang ini merasa terpanggil untuk ikut berjuang di negeri asing. Padahal, mereka adalah orang Indonesia yang punya perjuangannya sendiri untuk merdeka dan mempertahankan kemerdekaan. Siapa saja ya mereka?

Inibaru.id – Sejumlah pemuda Indonesia juga ikut terseret dalam perang yang banyak terjadi di berbagai belahan dunia. Mereka menjadi tentara, pilot pesawat tempur, hingga tenaga medis di Perang Sipil di Spanyol sampai Perang Pasifik. Hal ini mereka lakukan lantaran nggak bisa pulang ke Indonesia. Ada pula yang angkat senjata untuk bangsa lain karena sukarela.

Hm, siapa saja pemuda-pemuda itu?

Henry Hoo

Henry Hoo lahir di Surabaya pada 1912 dengan nama lahir Hoo Chi Sui. Dia tergabung dalam International Volunteer Brigade sebagai pesawat tempur. Mereka memihak kaum republik dan melawan kaum fasis dalam Guerrea Civil atau Perang Saudara Spanyol (1936-1938), Millens.

Henry merantau pada 1935 saat Perang Saudara di Spanyol pecah. Dia berada di antara sekian orang Tionghoa asal Hindia Belanda yang mendaftar sebagai sukarelawan kontrak. Eh, kisah Henry ini pernah dimuat dalam harian Sin Po pada 1938. Pesawatnya pernah menjatuhkan pesawat Jerman yang menjadi pendukung kaum fasis Spanyol pimpinan Francisco Franco.

Setelah kontraknya usai, Henry "melipir" ke Zhonghua Minguo Kongjun (Angkatan Udara Republik Tiongkok) pada 1937 untuk melawan Jepang. Henry nggak sendiri, ada pemuda Hindia Belanda lain seperti Nio Thiam Seng (Bandung), Tan Tin Ho (Batavia), dan Tan Gie Gan (Surakarta) yang juga ikut serta.

Tio Oen Bik

dr Tio Oen Bik menjadi tenaga medis dalam Perang Saudara Spanyol. (Spandestrijdes via Lenteradiatasbukit.blogspot)

Jika Henry Hoo menjadi pilot pesawat tempur dalam Perang Saudara Spanyol, maka dr Tio Oen Bik berada di garda tenaga medis. Pemuda yang lahir pada 1906 itu pernah menimba ilmu kedokteran di Nederlansdsch Indische Artsen School pada media 1920-an. Setelah lulus dari sekolah kedokteran pribumi, dia melanjutkan studinya ke Amsterdam, Belanda. Di sana, dia mendirikan Sarekat Peranakan Tionghoa Indonesia.

Gregor Benton dalam Chinese Migrants and Internationalism: Forgotten Histories 1917-1945 mencatat bahwa Tio nggak ikut pulang ke Hindia Belanda bersama teman-temannya pada masa pergerakan. Dia lebih memilih bergabung dengan pihak republik Spanyol melawan fasis. Dia merawat korban perang, baik dari sipil maupun militer.

Ternyata, nggak hanya Tio yang punya andil di negeri asing. Begitulah yang diutarakan Iwan Santosa (Tionghoa dalam Sejarah Kemiliteran). Beberapa dokter dan staf medis Rumah Sakit Jang Seng Ie (Rumah Sakit Husada Jakarta Pusat) juga ikut dikirim dalam Perang Sino-Jepang di Tiongkok. Mereka berangkat dengan biaya sumbangan para tokoh anti-Jepang.

Abdul Halim Perdanakusuma

Abdul Halim Perdanakusuma. (tni.au.mil.id via IDNTimes)

Halim lahir di Sampang, Madura, tepatnya pada 18 November 1922. Dia meniti karier di Koninklijke Marine atau Angkatan Laut Belanda di Modderlust, Surabaya. Dalam perang Pasisfik melawan Jepang, Halim yang berperan sebagai operator torpedo ini nyaris tewas. Kapalnya tenggelam karena serangan Jepang di dekat pantai Cilacap.

Dia akhirnya ikut rombongan serdadu Belanda yang menyelamatkan diri ke India. Bakat lukis yang dimilikinya berhasil menarik perhatian Panglima Komando Armada Asia Tenggara Lord Louis Mountbatten. Sang Panglima memasukkannya ke RCAF (Angkatan Udara Kanada) dan dilanjutkan RAF (Angkatan Udara Inggris). Dia lulus sebagai navigator bomber dengan pangkat letnan.

Halim mendapat julukan The Black Mascot ketika di RAF oleh rekan-rekannya. Bisa dibilang juga bahwa pengalaman tempurnya lumayan. Halim pernah melakukan misi pemboman ke wilayah Prancis (yang dikuasai Jerman) dan Jerman.Sampai akhir Perang Dunia II, Halim tercatat sebagai navigator bomber pesawat Avro Lancaster atau B-24 Liberator.

Sayangnya, Halim mengalami nasib yang tragis setelah pesawat Avro Anson yang dinaikinya bersama Iswahyudi jatuh di Malaya (Malaysia) pada 14 Desember 1947. Mengenai sebabnya, hingga kini masih misterius.

Irawan Soejono

Makam Irawan Soejono. (GNFI via Yukepo)

Sejak muda, Irawan Soejono telah mengenyam bangku sekolah di Belanda. Maklum, dia adalah putra bangsawan. Saat Belanda diinvasi Jerman, ayahnya merupakan pejabat menteri di kabinet Belanda di London, Inggris. Meski begitu, dia memilih menetap di Belanda agar dapat bergabung dengan para pelajar Indonesia yang melawan Jerman.

Irawan bahkan tercatat menjabat sebagai direksi surat kabar bawah tanah De Bevrijding. Bersamanya ada para pelajar Perhimpunan Indonesia seperti Pamuntjak, Alex Ticoalu, Suripno, IA Mochtar, Rozai Kusumasubrata, dan FKN Harahap.

Sayangnya, peran Irawan diketahui sehingga ditembak oleh serdadu Jerman. Mengetahui sepak terjang Irawan dalam melawan Jerman, Pemerintah Kota Amsterdam mengabadikannya sebagai nama jalan, Irawan Soejonostraat.

Bukan cuma Irawan, para anggota Perhimpunan Indonesia juga terpanggil melawan kekejaman Jerman. Dalam Perjuangan Revolusi, Soebadio Sastrosatomo menyebut bahwa mereka bahkan ikut mengangkat senjata. Nama-nama yang disebutkan antara lain, Anak Agung Made Djelantik, LN Palar, Sumitro, Zairin Zain, Jusuf Muda Dalam, Suripno, dan Kusna Puradiredja. Mereka kompak mendirikan Barisan Mahasiswa Indonesia dan melakukan sabotase hingga menyelamatkan orang-orang Yahudi yang akan dimusnahkan anak buah Adolf Hitler.

Selain nama-nama yang telah disebutkan di atas, masih ada tokoh lain yang ikut bergerilya bersama negara asing seperti And Abdul Aziz, Adolf Gustaaf Lembong, dan R. Sudirmo Bunder.

Eh, ada tokoh lain yang kamu tahu nggak, Millens? (His/IB21/E07)

Tags:

ARTIKEL TERKAIT

Riset CISDI: Satu Dekade Berlalu, Harga Rokok Tetap Murah, Reformasi Cukai Diperlukan

17 Apr 2026

Sisi Positif Mitos Genderuwo; Cara Leluhur Jaga Pohon Raksasa Biar Sumber Air Tetap Awet

20 Apr 2026

Sumanto Dorong Desa Gempolan Jadi 'Surga' Durian: Jangan Cuma Tanam, Harus Inovasi!

20 Apr 2026

Jung Jawa, Jejak Kapal Raksasa Penguasa Laut Nusantara

21 Apr 2026

Spot Favorit Bali, Wajib Masuk Daftar Itinerary Liburan Keluarga

22 Apr 2026

Pilihan Penginapan Nyaman di Bandung untuk Liburan Singkat yang Maksimal

22 Apr 2026

Pendaftaran Beasiswa OSC 2026 Dibuka, Sediakan 140 Beasiswa S1

22 Apr 2026

7 Pemikiran Kartini yang Masih Relevan Sampai Saat Ini

23 Apr 2026

Adon-Adon Coro: Minuman Hangat Khas Jepara Favorit Kartini

23 Apr 2026

Kini Jadi Ancaman, Plastik Ternyata Pernah Jadi Solusi Menyelamatkan Bumi

24 Apr 2026

Sosialisasi Mitigasi Gunung Slamet, Pemprov Jateng Tekankan Keselamatan Warga

24 Apr 2026

Kasus Daycare Jogja: Tentang Kepercayaan, Pengasuhan, dan Sistem yang Belum Utuh

27 Apr 2026

Gunung Ungaran: Jejak Tiga Generasi yang Tumbuh dari Runtuhan

28 Apr 2026

Saat Video Kekerasan Anak Viral, Apa yang Seharusnya Kita Lakukan?

28 Apr 2026

Ilmu Tebang Bambu Leluhur, Tradisi Canggih yang Terbukti oleh Sains

30 Apr 2026

Lima Kasus HAM yang Pernah Terjadi di Indonesia, Ada yang Belum Selesai!

10 Des 2019

Sebelum Menikah, Coba deh Hitung Wetonmu dan Pasangan, Cocok Nggak?

24 Jun 2020

Terkuak, Ini Penyebab Mitos Orang Jawa dan Sunda Nggak Boleh Menikah

28 Jun 2020

Cek Daftar Kata Ini Sebelum Beli Baju di Online Shop

30 Mei 2018

Macan Akar a.k.a Kucing Hutan kok Dipiara

7 Des 2017

Inibaru Media adalah perusahaan digital yang fokus memopulerkan potensi kekayaan lokal dan pop culture di Indonesia, khususnya Jawa Tengah. Menyajikan warna-warni Indonesia baru untuk generasi millenial.

A Group Member of

Ikuti kamu di: