BerandaHits
Minggu, 20 Apr 2024 16:15

Mungkinkah Pekerja dengan Gaji Pas-Pasan Menerapkan Slow Living?

Mungkinkah Pekerja dengan Gaji Pas-Pasan Menerapkan Slow Living?

Meski degan gaji ngepas, kamu juga bisa mempraktikkan slow living. (Freepik)

Kita mungkin kerap menyaksikan salah seorang publik figur menerapkan gaya hidup slow living. Kira-kira bisakah pekerja biasa mengadopsinya?

Inibaru.id - Pernah nggak sih kepikiran bisakah pekerja biasa menerapkan slow living? Tentu saja, pekerja dengan gaji pas-pasan pun bisa mempraktikkan gaya hidup yang sedang tren ini. Slow living bukan hanya tentang seberapa banyak uang yang kamu miliki, melainkan tentang bagaimana memanfaatkan waktu dan sumber daya dengan lebih bijaksana, sederhana, dan bermakna.

Pertama-tama, penting untuk memahami bahwa slow living bukanlah tentang menghabiskan banyak uang atau memiliki barang-barang mewah. Sebaliknya, itu adalah tentang menghargai hal-hal sederhana dalam hidup dan fokus pada kualitas daripada kuantitas. Orang dengan gaji pas-pasan dapat mempraktikkan gaya hidup ini dengan memprioritaskan hal-hal yang benar-benar penting bagi mereka.

Salah satu kunci dari slow living adalah mengurangi kecepatan dan menemukan keseimbangan dalam kehidupan sehari-hari. Ini bisa berarti mengurangi konsumsi barang-barang yang tidak perlu, memilih untuk membuat sendiri daripada membeli, atau menghabiskan lebih banyak waktu di luar ruangan dan bersama keluarga dan teman-teman.

Orang dengan gaji pas-pasan juga dapat mempraktikkan slow living dengan cara mengatur ulang prioritas keuangan mereka. Ini bisa berarti membuat anggaran yang lebih ketat, mengurangi pengeluaran yang nggak perlu, dan mengalokasikan uang untuk hal-hal yang benar-benar penting dan memberi kebahagiaan, seperti liburan sederhana, kegiatan rekreasi, atau pengembangan pribadi.

Selain itu, slow living juga melibatkan mengurangi stres dan meningkatkan kesejahteraan mental dan emosional. Orang dengan gaji pas-pasan dapat mencapai ini dengan cara mengurangi tekanan kerja, mengatur batas-batas yang sehat antara pekerjaan dan kehidupan pribadi, dan menghabiskan lebih banyak waktu untuk relaksasi dan perawatan diri.

Slow living membuat hidup lebih tenang. (via technostyle)

Penting untuk diingat bahwa slow living adalah tentang membuat pilihan yang paling sesuai dengan kebutuhan dan nilai-nilai pribadi Anda. Meskipun mungkin ada tantangan tersendiri bagi mereka yang memiliki keterbatasan finansial, gaya hidup ini tetap dapat dicapai dengan kesadaran, kesabaran, dan kreativitas. Dengan mengurangi kecepatan, menghargai momen-momen kecil, dan fokus pada hal-hal yang benar-benar penting, siapa pun, termasuk pekerja dengan gaji pas-pasan, dapat menemukan kebahagiaan dan keseimbangan dalam kehidupan mereka.

Lalu, bagaimana kita menerapkan gaya hidup ini tanpa menguras kantong?

1. Membuat Anggaran dan Mengelola Keuangan dengan Bijaksana

- Prioritaskan pengeluaran dengan menentukan apa yang benar-benar penting dan alokasikan uang untuk hal-hal tersebut.

- Hindari utang yang nggak perlu. Kamu sebaiknya belajar untuk hidup sesuai dengan kemampuan finansial yang kamu miliki.

- Buat rencana keuangan jangka panjang misalnya dengan membuka tabungan untuk masa depan.

2. Memprioritaskan Kesehatan Mental dan Emosional

Yoga bisa menjadi cara merilekskan diri. (Shutterstock)

- Atur batas waktu kerja. Jangan lupa untuk memisahkan waktu kerja dan waktu istirahat dengan jelas. Jangan membawa pekerjaan ke rumah.

- Temukan cara untuk merilekskan diri. Temukan aktivitas yang membantu rileks dan atur waktu untuk melakukannya, seperti meditasi, yoga, atau olahraga.

- Hindari stres. Terapkan praktik manajemen stres seperti perencanaan yang baik, mengatur waktu dengan bijaksana, dan belajar untuk mengatakan "Tidak".

3. Meminimalisir Konsumsi

- Hindari konsumsi yang berlebihan. Pertimbangkan kembali setiap pembelian dan tanyakan pada diri sendiri apakah itu benar-benar dibutuhkan.

- Beralih ke gaya hidup sederhana. Fokus pada kualitas daripada kuantitas, dan nikmati momen-momen sederhana dalam hidup.

- Kembangkan keterampilan DIY. Belajar membuat hal-hal sendiri daripada membeli, seperti memasak, menjahit, atau merawat tanaman.

4. Menghargai Hubungan dan Komunitas

- Habiskan waktu dengan orang yang kamu cintai. Jadwalkan waktu untuk berkumpul bersama keluarga dan teman-teman.

- Bergabung dengan komunitas. Temukan komunitas yang memiliki minat dan nilai yang sama denganmu, dan terlibatlah dalam kegiatan yang membangun.

- Bersikap lelah dan menghargai diri sendiri. Berikan diri kamu waktu untuk istirahat dan pemulihan, dan jangan merasa bersalah saat melakukannya.

5. Memanfaatkan Waktu dengan Bijaksana

- Fokus pada kualitas waktu luang. Daripada mencoba melakukan terlalu banyak hal, pilihlah beberapa kegiatan yang benar-benar memberimu kebahagiaan dan kepuasan.

- Nikmati Alam. Manfaatkan waktu luangmu di alam, berjalan-jalan di taman atau berkemah di luar ruangan.

- Lakukan digital detox. Sempatkan waktu untuk nggak menggunakan teknologi, seperti mematikan ponsel selama beberapa jam atau hari.

6. Bertumbuh dan Berkembang

- Investasikan diri pada pengembangan diri. Manfaatkan waktu luangmu untuk belajar hal-hal baru, mengembangkan keterampilan, atau mengejar hobi.

- Menciptakan tujuan pribadi yang berarti. Tentukan apa yang benar-benar ingin kamu capai dalam hidup dan buatlah rencana untuk mencapainya.

- Berbagi dengan orang lain. Jadilah sukarelawan atau bantu orang lain, karena memberikan juga dapat memberi kebahagiaan.

Dengan mempraktikkan prinsip-prinsip slow living ini, pekerja dengan gaji pas-pasan dapat menciptakan kehidupan yang lebih sederhana, lebih berarti, dan lebih memuaskan tanpa harus menghabiskan banyak uang.

Jadi, percaya kan dengan gaji mepet kamu bisa tetap bikin hidupmu berkualitas. (Siti Zumrokhatun/E05)

Tags:

ARTIKEL TERKAIT

Iri dan Dengki, Perasaan Manusiawi yang Harus Dikendalikan

27 Mar 2025

Respons Perubahan Iklim, Ilmuwan Berhasil Hitung Jumlah Pohon di Tiongkok

27 Mar 2025

Memahami Perasaan Robot yang Dikhianati Manusia dalam Film 'Companion'

27 Mar 2025

Roti Jala: Warisan Kuliner yang Mencerminkan Kehidupan Nelayan Melayu

27 Mar 2025

Jelang Lebaran 2025 Harga Mawar Belum Seharum Tahun Lalu, Petani Sumowono: Tetap Alhamdulillah

27 Mar 2025

Lestari Moerdijat: Literasi Masyarakat Meningkat, tapi Masih Perlu Dorongan Lebih

27 Mar 2025

Hitung-Hitung 'Angpao' Lebaran, Berapa Banyak THR Anak dan Keponakan?

28 Mar 2025

Setengah Abad Tahu Campur Pak Min Manjakan Lidah Warga Salatiga

28 Mar 2025

Asal Usul Dewi Sri, Putri Raja Kahyangan yang Diturunkan ke Bumi Menjadi Benih Padi

28 Mar 2025

Cara Menghentikan Notifikasi Pesan WhatsApp dari Nomor Nggak Dikenal

28 Mar 2025

Hindari Ketagihan Gula dengan Tips Berikut Ini!

28 Mar 2025

Cerita Gudang Seng, Lokasi Populer di Wonogiri yang Nggak Masuk Peta Administrasi

28 Mar 2025

Tren Busana Lebaran 2025: Kombinasi Elegan dan Nyaman

29 Mar 2025

AMSI Kecam Ekskalasi Kekerasan terhadap Media dan Jurnalis

29 Mar 2025

Berhubungan dengan Kentongan, Sejarah Nama Kecamatan Tuntang di Semarang

29 Mar 2025

Mengajari Anak Etika Bertamu; Bekal Penting Menjelang Lebaran

29 Mar 2025

Ramadan Tetap Puasa Penuh meski Harus Lakoni Mudik Lebaran

29 Mar 2025

Lebih dari Harum, Aroma Kopi Juga Bermanfaat untuk Kesehatan

29 Mar 2025

Disuguhi Keindahan Sakura, Berikut Jadwal Festival Musim Semi Korea

29 Mar 2025

Fix! Lebaran Jatuh pada Senin, 31 Maret 2025

29 Mar 2025