BerandaHits
Selasa, 16 Feb 2026 11:01

Menguak Sejarah Sumpit Logam Khas Korea

Sumpit logam khas Korea yang dipakai saat makan. (Kollectionk)

Bukannya dari bahan kayu atau bambu, di Korea Selatan, sumpit yang digunakan adalah sumpit logam. Ternyata, ada sejarah yang mendasari hal ini, Gez.

Inibaru.id - Kalau kamu pernah makan di restoran Korea, pasti sadar kalau sumpitnya beda dari sumpit pada umumnya yaitu tipis, pipih, dan terbuat dari logam. Buat yang belum terbiasa, rasanya bisa sedikit “menantang” karena lebih licin dibanding sumpit kayu. Tapi ternyata, di balik bentuknya itu, ada sejarah panjang yang membentuk identitas makan orang Korea sampai hari ini.

Jejak Awal Sumpit Logam di Korea

Sumpit sendiri sudah digunakan di Asia Timur sejak ribuan tahun lalu. Awalnya terbuat dari tulang atau kayu. Versi logamnya juga bukan hal baru. Di Tiongkok, sumpit perunggu sudah ditemukan dari ribuan tahun silam.

Di Korea, bukti tertua penggunaan sumpit logam ditemukan di makam Raja Muryeong pada era Baekje (abad ke-6). Sumpit tersebut berbahan perunggu, bentuknya pipih, bahkan dilengkapi cincin kecil di ujungnya untuk mengikat sepasang sumpit agar tidak terpisah. Dari sini bisa terlihat bahwa sumpit logam bukan sekadar alat makan, tapi juga simbol status.

Dari Istana ke Meja Rumah Biasa

Pada masa Dinasti Joseon (1392–1910), penggunaan sumpit erat kaitannya dengan struktur sosial yang kaku. Di periode awal, sumpit, terutama yang terbuat dari logam seperti perak atau kuningan, lebih sering digunakan kalangan kerajaan dan bangsawan. Rakyat biasa cenderung makan nasi berkuah dengan sendok atau tangan.

Di lingkungan istana, sumpit punya fungsi khusus. Sumpit perak misalnya, dipercaya bisa mendeteksi racun. Meski secara ilmiah hanya bereaksi terhadap zat tertentu, kepercayaan itu membuat sumpit logam identik dengan keamanan dan kemewahan.

Memasuki akhir era Joseon, sistem kelas mulai melonggar. Ragam makanan pun makin berkembang, termasuk hadirnya kimchi dan berbagai lauk pendamping atau banchan. Karena menu semakin beragam, kebutuhan akan alat makan yang bisa menjepit berbagai tekstur makanan pun meningkat. Sejak saat itu, sumpit makin luas digunakan oleh masyarakat umum.

Era Industri dan Lahirnya Sumpit Stainless Steel

Sumpit logam pipih mulai populer di Korea sejak 1960-an. (Era/Unsplash/Karamel)

Bentuk sumpit logam pipih yang kita kenal sekarang baru benar-benar populer pada era 1960-an. Saat itu, Korea Selatan tengah giat melakukan industrialisasi pasca-Perang Korea. Produksi baja dan stainless steel berkembang pesat.

Pemerintahan Park Chung-hee bahkan melarang penggunaan sumpit kayu sekali pakai di restoran demi kebijakan lingkungan. Stainless steel pun jadi pilihan utama. Bentuk pipih dipilih bukan tanpa alasan karena model ini paling mudah dan efisien diproduksi secara massal dari lembaran baja. Sejak saat itu, sumpit logam pipih menjadi “standar nasional”.

Kenapa Masih Dipakai Sampai Sekarang?

Jawabannya ada pada budaya makan Korea sendiri. Satu set menu biasanya terdiri atas nasi, sup, dan aneka banchan dalam jumlah banyak, mulai dari sayuran berbumbu, seafood fermentasi, hingga daging panggang.

Sumpit logam yang tipis dan kuat memudahkan kita mengambil makanan dalam porsi kecil dengan presisi. Lebih dari itu, dibandingkan sumpit kayu atau plastik yang bisa aus atau berubah bentuk, logam lebih tahan lama dan higienis.

Jadi, sumpit logam di Korea bukan sekadar soal material. Ini adalah hasil perjalanan sejarah, perubahan sosial, hingga perkembangan industri. Dari meja istana sampai restoran modern, sumpit pipih itu tetap setia menemani budaya makan yang khas dan kaya rasa.

Kamu sendiri, apakah cukup sering memakai sumpit khas Korea ini, Gez saat makan? (Arie Widodo/E07)

Tags:

ARTIKEL TERKAIT

Pemerintah Siapkan 39 Bandara Baru, Total Bandar Udara di Indonesia Bakal Jadi 296

4 Jul 2026

Belajar Langsung dari Mbah Atemo, Belasan Anak Muda Lestarikan Mainan Tradisional Berbahan Kertas Bekas

6 Jul 2026

Mengenal Bunga Edelweiss Jawa, Si "Bunga Abadi" yang Justru Terancam Punah

6 Jul 2026

Dikira Bahasa Gaul, "Anjir" Justru Kosakata Lama Nelayan Pantura

7 Jul 2026

Penelitian Terbaru Ungkap Fakta Baru Manusia Hobbit Flores

8 Jul 2026

Muhammadiyah Resmikan KucingMu, Kampanyekan Kepedulian terhadap Hewan

9 Jul 2026

Pemerintah Tetapkan 13 Juli sebagai Hari Kepercayaan, Ini Dasar Pertimbangannya

10 Jul 2026

BRIN Targetkan Luncurkan Satelit NEO-1 pada Januari 2027, Tonggak Kemandirian Teknologi Antariksa Indonesia

13 Jul 2026

Indonesia dan India Berkolaborasi Konservasi Candi Prambanan, Perkuat Pariwisata Budaya Kelas Dunia

14 Jul 2026

Warisan Sejarah Indonesia Kembali, Dua Arca Buddha Kuno Dipulangkan dari AS

14 Jul 2026

4 Kuliner Indonesia Masuk 10 Besar Makanan Berbahan Tepung Tapioka Terbaik 2026 Versi Taste Atlas

15 Jul 2026

Istana Kepresidenan Yogyakarta Kini Bisa Dikunjungi Gratis, Ini Syarat dan Cara Daftarnya

16 Jul 2026

Mengenal Kalender Aboge, Sistem Penanggalan Jawa-Islam yang Masih Bertahan hingga Kini

17 Jul 2026

OSC Award 2026 Umumkan 116 Penerima Beasiswa S1 Penuh, Pendaftar Tembus 7.600 Peserta

17 Jul 2026

Lima Kasus HAM yang Pernah Terjadi di Indonesia, Ada yang Belum Selesai!

10 Des 2019

Sebelum Menikah, Coba deh Hitung Wetonmu dan Pasangan, Cocok Nggak?

24 Jun 2020

Terkuak, Ini Penyebab Mitos Orang Jawa dan Sunda Nggak Boleh Menikah

28 Jun 2020

Cek Daftar Kata Ini Sebelum Beli Baju di Online Shop

30 Mei 2018

Macan Akar a.k.a Kucing Hutan kok Dipiara

7 Des 2017

Jarang Disadari, Begini Ciri-Ciri WhatsApp yang Disadap dan Cara Mencegahnya

1 Mar 2021

Inibaru Media adalah perusahaan digital yang fokus memopulerkan potensi kekayaan lokal dan pop culture di Indonesia, khususnya Jawa Tengah. Menyajikan warna-warni Indonesia baru untuk generasi millenial.

A Group Member of

Ikuti kamu di: