Inibaru.id - Kalau kamu pernah makan di restoran Korea, pasti sadar kalau sumpitnya beda dari sumpit pada umumnya yaitu tipis, pipih, dan terbuat dari logam. Buat yang belum terbiasa, rasanya bisa sedikit “menantang” karena lebih licin dibanding sumpit kayu. Tapi ternyata, di balik bentuknya itu, ada sejarah panjang yang membentuk identitas makan orang Korea sampai hari ini.
Jejak Awal Sumpit Logam di Korea
Sumpit sendiri sudah digunakan di Asia Timur sejak ribuan tahun lalu. Awalnya terbuat dari tulang atau kayu. Versi logamnya juga bukan hal baru. Di Tiongkok, sumpit perunggu sudah ditemukan dari ribuan tahun silam.
Di Korea, bukti tertua penggunaan sumpit logam ditemukan di makam Raja Muryeong pada era Baekje (abad ke-6). Sumpit tersebut berbahan perunggu, bentuknya pipih, bahkan dilengkapi cincin kecil di ujungnya untuk mengikat sepasang sumpit agar tidak terpisah. Dari sini bisa terlihat bahwa sumpit logam bukan sekadar alat makan, tapi juga simbol status.
Dari Istana ke Meja Rumah Biasa
Pada masa Dinasti Joseon (1392–1910), penggunaan sumpit erat kaitannya dengan struktur sosial yang kaku. Di periode awal, sumpit, terutama yang terbuat dari logam seperti perak atau kuningan, lebih sering digunakan kalangan kerajaan dan bangsawan. Rakyat biasa cenderung makan nasi berkuah dengan sendok atau tangan.
Di lingkungan istana, sumpit punya fungsi khusus. Sumpit perak misalnya, dipercaya bisa mendeteksi racun. Meski secara ilmiah hanya bereaksi terhadap zat tertentu, kepercayaan itu membuat sumpit logam identik dengan keamanan dan kemewahan.
Memasuki akhir era Joseon, sistem kelas mulai melonggar. Ragam makanan pun makin berkembang, termasuk hadirnya kimchi dan berbagai lauk pendamping atau banchan. Karena menu semakin beragam, kebutuhan akan alat makan yang bisa menjepit berbagai tekstur makanan pun meningkat. Sejak saat itu, sumpit makin luas digunakan oleh masyarakat umum.
Era Industri dan Lahirnya Sumpit Stainless Steel
Bentuk sumpit logam pipih yang kita kenal sekarang baru benar-benar populer pada era 1960-an. Saat itu, Korea Selatan tengah giat melakukan industrialisasi pasca-Perang Korea. Produksi baja dan stainless steel berkembang pesat.
Pemerintahan Park Chung-hee bahkan melarang penggunaan sumpit kayu sekali pakai di restoran demi kebijakan lingkungan. Stainless steel pun jadi pilihan utama. Bentuk pipih dipilih bukan tanpa alasan karena model ini paling mudah dan efisien diproduksi secara massal dari lembaran baja. Sejak saat itu, sumpit logam pipih menjadi “standar nasional”.
Kenapa Masih Dipakai Sampai Sekarang?
Jawabannya ada pada budaya makan Korea sendiri. Satu set menu biasanya terdiri atas nasi, sup, dan aneka banchan dalam jumlah banyak, mulai dari sayuran berbumbu, seafood fermentasi, hingga daging panggang.
Sumpit logam yang tipis dan kuat memudahkan kita mengambil makanan dalam porsi kecil dengan presisi. Lebih dari itu, dibandingkan sumpit kayu atau plastik yang bisa aus atau berubah bentuk, logam lebih tahan lama dan higienis.
Jadi, sumpit logam di Korea bukan sekadar soal material. Ini adalah hasil perjalanan sejarah, perubahan sosial, hingga perkembangan industri. Dari meja istana sampai restoran modern, sumpit pipih itu tetap setia menemani budaya makan yang khas dan kaya rasa.
Kamu sendiri, apakah cukup sering memakai sumpit khas Korea ini, Gez saat makan? (Arie Widodo/E07)
