Inibaru.id — Kalau biasanya naik gunung identik dengan perjalanan jauh, bangun dini hari, dan logistik ribet, di Korea Selatan ceritanya bisa sangat berbeda. Di Seoul, kamu bahkan bisa naik subway lalu langsung ketemu gerbang pendakian gunung. Fenomena inilah yang belakangan dikenal dengan sebutan K-hiking, tren mendaki gunung di Korea yang makin digandrungi warga lokal sampai turis mancanegara.
Bayangkan saja: turun dari stasiun, disambut pemandangan pegunungan hijau (atau bersalju saat musim dingin), lalu tinggal jalan sedikit sudah sampai di jalur pendakian. Salah satu contoh paling populer adalah kawasan Bukhansan National Park, yang jaraknya cuma hitungan menit jalan kaki dari transportasi umum. Praktis, murah, dan tetap dapat sensasi petualangan.
Yang bikin K-hiking terasa “naik level” adalah fasilitasnya. Di beberapa titik kota, Seoul punya Seoul Hiking Tourism Center, semacam basecamp modern buat pendaki. Di sini pengunjung bisa ganti baju, menyimpan barang di loker, bahkan menyewa perlengkapan lengkap mulai dari sepatu gunung, jaket outdoor, sampai crampon buat jalur es. Harganya pun ramah kantong, jauh dari kesan mahal ala toko outdoor.
Buat pemula, ini jelas surga. Nggak perlu investasi alat mahal dulu, tapi tetap bisa naik gunung dengan aman dan nyaman. Petugasnya juga siap membantu memilih rute sesuai kemampuan, lengkap dengan peta dan penjelasan jalur. Mau santai atau agak menantang, tinggal pilih.
Soal trek, gunung-gunung di sekitar Seoul terkenal rapi dan terawat. Banyak jalur sudah dilengkapi tangga kayu, pagar pengaman, papan penunjuk arah, sampai bangku istirahat. Bahkan di beberapa titik ada area piknik kecil, sesuatu yang jarang ditemukan di jalur pendakian negara lain. Hiking di sini bukan sekadar menantang fisik, tapi juga bikin nyaman.
Menariknya lagi, meski berada di alam terbuka, sinyal ponsel tetap kencang. Ada pendaki yang bisa langsung upload foto puncak gunung ke media sosial tanpa drama mencari jaringan dulu. Perpaduan alam dan teknologi ini jadi ciri khas K-hiking yang bikin banyak turis terkesima.
Fenomena ini juga mencerminkan gaya hidup orang Korea yang gemar aktivitas luar ruang tapi pengin segalanya tetap praktis. Di tengah kota super sibuk, mereka masih bisa “kabur sebentar” ke alam tanpa harus cuti panjang. Pagi naik subway, siang sudah di puncak gunung, sore balik ngopi di kafe.
Buat wisatawan asing, K-hiking terasa seperti pengalaman unik: petualangan alam rasa urban lifestyle. Tidak heran kalau jumlah turis yang menjajal hiking di Korea terus meningkat setiap tahun.
Singkatnya, K-hiking bukan cuma soal mendaki gunung. Ini tentang bagaimana Seoul berhasil menyatukan kota modern dengan alam terbuka secara mulus. Dan setelah melihat betapa gampangnya akses dan fasilitasnya, wajar kalau tren ini makin booming, Gez! (Arie Widodo/E07)
