Inibaru.id - Cerita Nara, teman saya asal Gyeongju yang baru melahirkan anak pertamanya di usia 36 tahun, rasanya bukan kisah yang berdiri sendiri. Di Korea Selatan, keputusan untuk punya anak sering kali berada di persimpangan antara rasa bahagia yang besar dan kecemasan finansial yang tak kalah besar. Anak dipandang sebagai berkah, sekaligus “kutukan” ekonomi yang nyata.
Perempuan yang pernah beraktivitas di Indonesia itu sudah menikah lebih dari 5 tahun. Tapi, baru sekarang dia benar-benar merasa siap memiliki anak secara finansial. Hal inilah yang dia yakini juga jadi alasan sebagian besar teman-temannya masih belum seberani dia memiliki keturunan.
“Sebagian besar temanku masih single di usia segini. Banyak yang khawatir menikah, apalagi memiliki anak, bakal membuat keuangan jadi lebih sulit. Aku bisa mengerti alasan mereka memilih seperti itu,” ucapnya di pesan Instagram pada Senin (12/1/2026).
Pandangan Nara terkait memiliki anak bisa memberikan dilema tersendiri di Korea ini tercermin dalam sebuah survei terbaru yang dilakukan Korea Institute for Health and Social Affairs dan dirilis oleh Korea JoongAng Daily pada Minggu (11/1).
Survei tersebut melibatkan 2.500 responden berusia 20–49 tahun dari lima negara: Korea Selatan, Jerman, Jepang, Prancis, dan Swedia. Hasilnya cukup menarik. Orang Korea justru paling percaya bahwa memiliki anak akan menambah kebahagiaan hidup, namun di saat yang sama juga bikin kekhawatiran paling besar soal beban biaya.
Sebanyak 74,3 persen responden Korea menyebut kelahiran anak membawa kegembiraan dan kepuasan hidup yang lebih besar. Angka ini tertinggi dibandingkan negara lain dalam survei tersebut. Artinya, secara emosional dan kultural, anak masih ditempatkan sebagai sumber makna hidup yang penting. Ini selaras dengan banyak cerita personal, termasuk Nara, yang mengaku bahagia sekaligus terharu setelah menjadi seorang ibu.
Namun, sisi lain dari cerita ini jauh lebih gelap. Saat ditanya soal dampak negatif memiliki anak, 92,7 persen responden Korea menyebut meningkatnya beban finansial. Lagi-lagi, ini menjadi angka tertinggi di antara negara pembanding. Biaya persalinan, pengasuhan, pendidikan, hingga les dan bimbingan belajar saat anak mulai memasuki usia sekolah menjadi bayangan panjang yang menghantui calon orang tua.
Kontradiksi ini juga terlihat dari niat memiliki anak. Meski Korea Selatan mencatat persentase tertinggi terkait keinginan menikah di kalangan responden yang belum menikah (52,9 persen), niat memiliki anak justru lebih rendah. Hanya 31,2 persen responden Korea yang menyatakan ingin punya anak, kalah dari Swedia, Prancis, dan Jerman. Bahkan, bagi mereka yang ingin punya anak pun, rata-rata jumlah anak yang direncanakan paling sedikit, yakni 1,74 anak saja.
Fenomena ini membantu menjelaskan mengapa Korea Selatan terus bergulat dengan tingkat kelahiran yang sangat rendah. Anak memang dianggap membawa kebahagiaan, tetapi kebahagiaan itu terasa mahal, terlalu mahal untuk banyak generasi muda yang hidup di tengah biaya perumahan tinggi, persaingan kerja ketat, dan tuntutan pendidikan yang nyaris tanpa akhir.
Tim peneliti menyebut bahwa persepsi tentang beban finansial sangat mungkin berkaitan erat dengan rendahnya tingkat fertilitas di Korea. Artinya, masalahnya bukan semata soal keengganan emosional atau perubahan nilai keluarga, melainkan soal rasa aman. Selama memiliki anak identik dengan tekanan ekonomi jangka panjang, banyak pasangan akan terus menunda atau bahkan mengurungkan niat.
Cerita Nara, survei ini, dan realitas sosial Korea Selatan bertemu di satu titik yang sama: anak masih dirayakan dalam hati, tetapi ditimbang ulang dalam hal keuangan. Kesannya jadi mirip dengan lirik lagu Kunto Aji berjudul Saudade yang “biarlah aku dikutuk, dan engkau yang dirayakan” itu, ya, Gez? (Arie Widodo/E07)
