BerandaHits
Rabu, 1 Jul 2025 11:00

Eropa Dihantam Gelombang Panas, Suhu Tembus Lebih dari 40 Derajat Celsius!

Gelombang panas sedang menerjang eropa pada musim panas 2025. (Weather Radar)

Jika di Indonesia, musim kemarau terasa lebih basah dari biasanya, di Eropa, musim panas terasa sangat menyengat dengan suhu udara menembus 30-an sampai 40-an derajat Celsius!

Inibaru.id – Rekan saya warga asli Frankfurt, Jerman, bernama Sarah baru saja melahirkan pada Rabu (25/6/2025) lalu. Tapi, hingga Senin (30/6), kondisi tubuhnya belum benar-benar pulih pasca-persalinan karena suhu udara di kota tempat tinggalnya belakangan sangat panas.

Yang jadi masalah, di rumahnya nggak ada AC. Alasannya, biasanya suhu udara saat musim panas nggak bikin Sarah dan suaminya, Andy, kepanasan sebelumnya. Tapi, khusus untuk musim panas 2025, mereka merasa kewalahan dengan hal ini.

"Suhunya mencapai 37-38 derajat Celsius, rasanya kayak dipanggang. Beli kipas angin pun tetap terasa panas. Makanya aku mengalami dehidrasi dan nggak pulih-pulih," ucapnya via pesan WhatsApp pada Senin (30/6).

Suhu udara yang kian nggak bersahabat memang sedang melanda Eropa. Nggak cuma dikeluhkan Sarah dan keluarganya di Jerman, warga Spanyol hingga Balkan juga merasakan gelombang panas ekstrem.

Kota El Granado di selatan Spanyol bahkan mencatat suhu 46 derajat Celsius pada Sabtu (28/6), sebuah angka yang menjadi rekor tertinggi untuk bulan Juni, menurut badan meteorologi nasional negara tersebut.

Di Barcelona, kabar duka datang dari seorang penyapu jalan yang meninggal dunia setelah menyelesaikan shiftnya pada hari yang terik. Pemerintah setempat masih menyelidiki penyebab pasti kematiannya, meski banyak menduga hal ini karena heatstroke. Di banyak rumah sakit, lonjakan pasien dengan gejala serupa pun mulai bermunculan.

Sejumlah pakar menyebut gelombang panas ekstrem dipengaruhi perubahan iklim. (AP/Luca Bruno)

Bukan hanya Spanyol yang kepanasan. Peringatan merah akibat cuaca panas ekstrem juga dikeluarkan di Portugal, Italia, dan Kroasia. Sementara negara lain seperti Prancis, Belgia, Austria, hingga Serbia tak luput dari peringatan level sedang hingga tinggi. Kondisi ini menjadikan bulan Juni 2025 berpotensi menjadi salah satu bulan terpanas dalam sejarah Eropa modern.

“Korban paling rentan biasanya adalah lansia, pasien dengan penyakit kronis, dan mereka yang hidup di jalan,” ungkap Mario Guarino, Wakil Presiden Perhimpunan Medis Gawat Darurat Italia, kepada AFP, Minggu (29/6).

Mengantisipasi gelombang panas ini, sejumlah kota di Italia melakukan langkah cepat. Napoli menyiapkan unit khusus di rumah sakit untuk menangani korban heatstroke. Bologna membuka tujuh pusat perlindungan berpendingin ruangan dan Roma menggratiskan akses kolam renang bagi warga berusia 70 tahun ke atas.

Langkah serupa diambil di Portugal. Seorang apoteker di Lisbon menyebut pihak Dinas Kesehatan setempat terus memperingatkan warga agar tidak keluar rumah di siang hari. “Sudah ada beberapa kasus heatstroke dan luka bakar,” jelasnya.

Dampak gelombang panas terasa hingga negara-negara Balkan. Slovenia dan Makedonia Utara mencatat suhu tertinggi untuk bulan Juni, masing-masing 42 derajat Celsius. Yang lebih mengerikan, prakiraan cuaca menyebut suhu akan terus melonjak di Prancis, Italia, Jerman, bahkan Inggris, dengan London diperkirakan mencapai 35 derajat pada awal pekan depan.

Fenomena gelombang panas ini disebabkan oleh sistem tekanan tinggi yang membuat udara panas dari atmosfer bagian atas turun ke permukaan bumi, memanas, dan menahan radiasi matahari. Nggak adanya awan sebagaimana langit pada musim panas pada umumnya, bikin negara-negara di Eropa pun nggak lagi punya pelindung dari teriknya sinar matahari.

Para peneliti dari World Weather Attribution menyatakan bahwa kondisi ini nggak bisa dilepaskan dari krisis iklim. Mereka menyebut gelombang panas yang disertai suhu di atas 28 derajat selama tiga hari berturut-turut kini 10 kali lebih mungkin terjadi dibandingkan era pra-industri alias sekitar 1,5 abad yang lalu.

Peringatan ini bukan cuma untuk Eropa. Seluruh negara di dunia harus mulai bersiap. Ketika cuaca ekstrem mulai jadi hal biasa, artinya perubahan iklim bukan lagi ancaman masa depan tapi sejak hari ini. (Arie Widodo/E07)

Tags:

ARTIKEL TERKAIT

Riset CISDI: Satu Dekade Berlalu, Harga Rokok Tetap Murah, Reformasi Cukai Diperlukan

17 Apr 2026

Sisi Positif Mitos Genderuwo; Cara Leluhur Jaga Pohon Raksasa Biar Sumber Air Tetap Awet

20 Apr 2026

Sumanto Dorong Desa Gempolan Jadi 'Surga' Durian: Jangan Cuma Tanam, Harus Inovasi!

20 Apr 2026

Jung Jawa, Jejak Kapal Raksasa Penguasa Laut Nusantara

21 Apr 2026

Spot Favorit Bali, Wajib Masuk Daftar Itinerary Liburan Keluarga

22 Apr 2026

Pilihan Penginapan Nyaman di Bandung untuk Liburan Singkat yang Maksimal

22 Apr 2026

Pendaftaran Beasiswa OSC 2026 Dibuka, Sediakan 140 Beasiswa S1

22 Apr 2026

7 Pemikiran Kartini yang Masih Relevan Sampai Saat Ini

23 Apr 2026

Adon-Adon Coro: Minuman Hangat Khas Jepara Favorit Kartini

23 Apr 2026

Kini Jadi Ancaman, Plastik Ternyata Pernah Jadi Solusi Menyelamatkan Bumi

24 Apr 2026

Sosialisasi Mitigasi Gunung Slamet, Pemprov Jateng Tekankan Keselamatan Warga

24 Apr 2026

Kasus Daycare Jogja: Tentang Kepercayaan, Pengasuhan, dan Sistem yang Belum Utuh

27 Apr 2026

Gunung Ungaran: Jejak Tiga Generasi yang Tumbuh dari Runtuhan

28 Apr 2026

Saat Video Kekerasan Anak Viral, Apa yang Seharusnya Kita Lakukan?

28 Apr 2026

Ilmu Tebang Bambu Leluhur, Tradisi Canggih yang Terbukti oleh Sains

30 Apr 2026

Lima Kasus HAM yang Pernah Terjadi di Indonesia, Ada yang Belum Selesai!

10 Des 2019

Sebelum Menikah, Coba deh Hitung Wetonmu dan Pasangan, Cocok Nggak?

24 Jun 2020

Terkuak, Ini Penyebab Mitos Orang Jawa dan Sunda Nggak Boleh Menikah

28 Jun 2020

Cek Daftar Kata Ini Sebelum Beli Baju di Online Shop

30 Mei 2018

Macan Akar a.k.a Kucing Hutan kok Dipiara

7 Des 2017

Inibaru Media adalah perusahaan digital yang fokus memopulerkan potensi kekayaan lokal dan pop culture di Indonesia, khususnya Jawa Tengah. Menyajikan warna-warni Indonesia baru untuk generasi millenial.

A Group Member of

Ikuti kamu di: