BerandaHits
Jumat, 11 Sep 2025 15:22

Beras Fortifikasi; Inovasi Pangan untuk Melawan Malnutrisi

Tampilan beras fortifikasi yang nggak jauh berbeda dengan beras pada umumnya. (Ffinetwork)

Nggak sekadar nasi, beras fortifikasi adalah inovasi pangan yang menghasilkan karbohidrat yang diperkaya vitamin dan mineral untuk mencegah anemia, stunting, dan masalah malnutrisi yang masih terjadi di Indonesia.

Inibaru.id - Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI) baru-baru ini menyampaikan bahwa kekosongan stok beras premium dan medium di toko ritel membuat beras fortifikasi beredar luas di pasaran. Ketua YLKI Niti Emiliana mengatakan, banyak konsumen beras terkecoh dengan hal ini.

"Beras fortifikasi harganya terlewat mahal, jauh lebih mahal daripada beras premium dan medium," sebutnya, Minggu (7/9/2025).

Niti mencatat, harga beras fortifikasi berkisar antara Rp90 ribu hingga 130 ribu per 5 kilogram. Ini lebih mahal dari beras premium dengan ukuran yang sama yang hanya Rp60 ribuan saja. Menurutnya, hal ini membuat masyarakat terbebani.

"Eskalasi harga beras di retail modern ini sangat memberatkan konsumen dan tidak sesuai dengan daya beli konsumen. Mereka juga terkecoh oleh beras khusus terfortifikasi yang harganya jauh lebih mahal iini," ucapnya.

Mengenal Beras Fortifikasi

Menurut keterangan Ketua YLKI, beras fortifikasi termasuk beras khusus, jadi nggak memiliki aturan tetap harga eceran tertinggi (HET). Di kalangan konsumen di Tanah Air, beras ini juga belum terlalu dikenal oleh masyarakat.

Namun, hal ini sepertinya nggak berlaku untuk Nina Hamid. Perempuan yang berdomisili di Tangerang itu mengatakan telah mengonsumsinya sejak tiga bulan terakhir. Harganya memang lebih mahal, tapi menurutnya kualitas yang diberikan cukup masuk akal.

"Kami sekeluarga memang nggak mengonsumsi terlalu banyak karbohidrat, jadi beras fortifikasi sesuai. Rasa dan teksturnya nggak jauh berbeda. Cuma harganya saja yang bikin mengerutkan dahi," kelakar perempuan 32 tahun itu.

Menurut Nina, beras fortifikasi yang beredar di pasaran sebetulnya mudah dikenali. Jadi, nggak tepat kalau disebut keberadaannya mengecoh konsumen. Dia mengatakan, pada bagian bawah kemasan biasanya sudah ada keterangan bahwa beras ini mengandung zat tambahan seperti asam folat dan berbagai vitamin.

Lebih dari Sekadar Nasi Putih

Mengapa beras fortifikasi muncul? Sebagaimana kita ketahui, hampir tiap hari masyarakat di Indonesia mengonsumsi nasi sebagai karbohidrat utamanya. Sayangnya, meski perut kenyang, belum tentu semua kebutuhan gizi tubuh terpenuhi oleh beras yang beredar di pasaran.

Di sinilah muncul inovasi bernama beras fortifikasi, yaitu beras yang diperkaya dengan vitamin dan mineral tambahan untuk menjawab persoalan malnutrisi. Menurut Kementerian Kesehatan RI, fortifikasi pangan adalah proses menambahkan zat gizi mikro ke dalam makanan pokok.

Tampilan beras analog di India yang akan dicampurkan menjadi beras fortifikasi. (Thehindu/V Raju)

Tujuannya, untuk meningkatkan kualitas nutrisi masyarakat. Sebagaimana dikatakan Nina, beras fortifikasi umumnya mengandung nutrisi tambahan berupa asam folat, vitamin B1, B3, B12, dan zat besi. Nutrisi ini penting untuk mencegah anemia, stunting, dan berbagai masalah kesehatan lain.

Sebelum beras, fortifikasi pangan sebetulnya sudah sering dilakukan, misalnya tepung terigu yang diberi zat besi atau garam dengan yodium-nya. Nah, dalam beberapa tahun terakhir Indonesia juga serius mendorong fortifikasi beras lewat program bantuan pangan untuk kelompok rentan.

Baik untuk Ibu Hamil

Sebagaimana kita tahu, tantangan besar di Indonesia saat ini adalah tingginya angka anemia pada ibu hamil dan remaja putri. Data Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) 2018 mencatat, sekitar 48,9 persen ibu hamil mengalami anemia.

Maka, pemerintah berharap bisa mengurangi defisiensi zat gizi mikro secara lebih luas melalui nasi yang dikonsumsi hampir semua lapisan masyarakat setiap hari. Caranya adalah dengan memproduksi beras fortifikasi.

Beras fortifikasi dibuat dengan "mengoplos" beras biasa dengan butiran beras sintesis (beras analog) yang telah diperkaya vitamin dan mineral. Beras analog terbuat dari tepung beras, vitamin, dan mineral, lalu dibentuk seperti beras pada umumnya.

Dengan perbandingan 100:1, keberadaan beras sintetis itu hampir nggak kentara setelah menjadi nasi. Selain baik untuk nutrisi ibu hamil, beras fortifikasi juga diklaim mampu mengurangi risiko stunting, meningkatkan konsentrasi, dan menunjang imunitas tubuh.

Efektif Mengurangi Defisiensi Gizi

Penelitian yang dilakukan oleh World Food Programme (WFP) menunjukkan bahwa fortifikasi beras terbukti efektif mengurangi defisiensi gizi pada masyarakat di berbagai negara Asia dan Afrika. Di Indonesia, pemerintah telah mendistribusikan beras fortifikasi melalui beberapa program bantuan.

Dimulai sejak 2023, bahkan sebelumnya, beberapa daerah di Indonesia telah menjadi pilot project untuk program ini, termasuk di dalamnya Kota Bogor dan Surabaya, dengan konsumen utama para keluarga penerima manfaat.

Meski manfaatnya kentara, bukan berarti penerapan beras fortifikasi di Indonesia nggak menghadapi kendala. Beberapa tantangan besar penerapan beras ini di masyarakat adalah biaya produksinya yang relatif lebih tinggi, kesadaran masyarakat rendah, dan distribusi yang belum merata.

Namun, jika program ini terus berjalan konsisten, bukan nggak mungkin beras fortifikasi menjadi salah satu solusi kunci untuk memutus rantai malnutrisi di Indonesia. Jadi, jika kamu pengin mulai menerapkan gaya hidup dengan nutrisi sehat, nggak ada salahnya memulai dengan beras fortifikasi ini, Gez! (Siti Khatijah/E10)

Tags:

ARTIKEL TERKAIT

Sisi Positif Mitos Genderuwo; Cara Leluhur Jaga Pohon Raksasa Biar Sumber Air Tetap Awet

20 Apr 2026

Sumanto Dorong Desa Gempolan Jadi 'Surga' Durian: Jangan Cuma Tanam, Harus Inovasi!

20 Apr 2026

Jung Jawa, Jejak Kapal Raksasa Penguasa Laut Nusantara

21 Apr 2026

Spot Favorit Bali, Wajib Masuk Daftar Itinerary Liburan Keluarga

22 Apr 2026

Pilihan Penginapan Nyaman di Bandung untuk Liburan Singkat yang Maksimal

22 Apr 2026

Pendaftaran Beasiswa OSC 2026 Dibuka, Sediakan 140 Beasiswa S1

22 Apr 2026

7 Pemikiran Kartini yang Masih Relevan Sampai Saat Ini

23 Apr 2026

Adon-Adon Coro: Minuman Hangat Khas Jepara Favorit Kartini

23 Apr 2026

Kini Jadi Ancaman, Plastik Ternyata Pernah Jadi Solusi Menyelamatkan Bumi

24 Apr 2026

Sosialisasi Mitigasi Gunung Slamet, Pemprov Jateng Tekankan Keselamatan Warga

24 Apr 2026

Kasus Daycare Jogja: Tentang Kepercayaan, Pengasuhan, dan Sistem yang Belum Utuh

27 Apr 2026

Gunung Ungaran: Jejak Tiga Generasi yang Tumbuh dari Runtuhan

28 Apr 2026

Saat Video Kekerasan Anak Viral, Apa yang Seharusnya Kita Lakukan?

28 Apr 2026

Ilmu Tebang Bambu Leluhur, Tradisi Canggih yang Terbukti oleh Sains

30 Apr 2026

Belajar dari Burung Dodo: Ketika Dunia Berubah, Bertahan Saja Tidak Cukup

1 Mei 2026

Lima Kasus HAM yang Pernah Terjadi di Indonesia, Ada yang Belum Selesai!

10 Des 2019

Sebelum Menikah, Coba deh Hitung Wetonmu dan Pasangan, Cocok Nggak?

24 Jun 2020

Terkuak, Ini Penyebab Mitos Orang Jawa dan Sunda Nggak Boleh Menikah

28 Jun 2020

Cek Daftar Kata Ini Sebelum Beli Baju di Online Shop

30 Mei 2018

Macan Akar a.k.a Kucing Hutan kok Dipiara

7 Des 2017

Inibaru Media adalah perusahaan digital yang fokus memopulerkan potensi kekayaan lokal dan pop culture di Indonesia, khususnya Jawa Tengah. Menyajikan warna-warni Indonesia baru untuk generasi millenial.

A Group Member of

Ikuti kamu di: