BerandaFoto Esai
Senin, 14 Mar 2021 10:55

Menafkahi dari Balik Jeruji, Perjuangan Perempuan di Lapas Wanita Semarang

Menjadi narapidana nggak lantas membuat para perempuan ini terbebas dari keharusan menafkahi keluarganya. Bertepatan dengan pekan untuk perayaan Hari Perempuan Internasional, inilah perjuangan penghuni Lembaga Pemasyarakatan Perempuan (LPP) Kelas IIA Semarang mencari nafkah meski di balik teralis besi.<br>

Inibaru.id - Mesin jahit berderik nyaring. Mata Rohana menatap tajam pada kain yang tengah digarapnya. Serius sekali. Bahkan, dia nggak menyadari kehadiran saya yang cukup lama mengamati perempuan yang menghuni Lembaga Pemasyarakatan Perempuan (LPP) Kelas IIA Semarang karena kasus narkoba itu.

Saat "bekerja", Rohana memang selalu tampak serius. Mungkin, yang terngiang di kepalanya hanyalah bayang-bayang keluarganya di Jakarta yang menunggu kiriman uang darinya. Tiga anak Rohana saat ini mengeyam pendidikan di bangku sekolah dan tinggal bersama nenek mereka.

Suaminya entah ke mana. Perempuan asal Jakarta yang tersandung kasus narkoba itu pun harus berjuang keras untuk menafkahi keluarganya dari balik teralis besi.

“Kalau rindu, jangan ditanya!" seru Rohana dengan logat Betawi-nya yang kental di sela masa rehatnya. Matanya mendung. "Jelas rindulah sama anak-anak gue di Jakarta,” tegasnya sekali lagi. Dia tampak menahan tangis.

Baru saya sadari, perjuangan para perempuan ini rupanya memang nggak kaleng-kaleng. Agaknya, mereka berada di titik ketika persekusi masyarakat nggak lagi menjadi masalah besar, karena masalah menghidupi keluarga dari balik jeruji lapas jauh lebih berat.

Menatap Masa Depan

Cherry, seorang narapidana warga negara asing, mengaku sebetulnya masih nggak terima dirinya bisa dibui. Namun, nasi sudah menjadi bubur. Mau nggak mau, perempuan kelahiran Filipina itu harus berdamai, melanjutkan hidup, dan berusaha menatap masa depan.

Nggak tahu kalau koper yang dibawanya ke Boyolali berisi narkotika, dia diciduk pihak berwajib dan kini terpaksa menghabiskan seumur hidupnya di balik jeruji besi. Sisi baiknya, kini perempuan yang sebelumnya berprofesi sebagai penjaga toko komputer itu mengaku banyak berubah.

Laiknya Rohana, di Lapas Wanita Semarang Cherry juga banyak menghabiskan waktu untuk belajar menjahit. Hingga kini, sudah banyak produk yang diciptakannya.

“Anne Avantie (perancang busana kenamaan Indonesia asal Semarang) sering menjahitkan busananya di sini," tutur perempuan 35 tahun tersebut. "Beliau bahkan sangat percaya pada saya.”

Rasa percaya diri terlihat jelas di mata Cherry. Sungguh melegakan melihatnya! Dalam bayangan saya sebelumnya, penghuni lapas adalah orang-orang depresi yang telah kehilangan asa. Namun, rupanya saya keliru.

Binar asa itu juga terlihat di mata Jessica, penghuni lain di lapas yang berada Jalan Mgr Sugiyopranoto, Kelurahan Bulustalan, Kecamatan Semarang Selatan, Kota Semarang, tersebut. Kepada saya, dia mengaku bimbang dengan beban moral yang bakal disandangnya saat bebas nanti. Namun, Jessica tetap optimistis segalanya akan berjalan baik.

“Semua orang punya masa lalu. Semua orang bisa membuat kesalahan," ungkap perempuan yang menyandang gelar sarjana yang juga terjerat kasus narkoba tersebut.

Dia memang mengalami dilema. Namun, hal tersebut nggak lantas membuatnya takut untuk bergaul dengan masyarakat ketika sudah bebas nanti.

"Saya akan buktikan kepada masyarakat saat keluar nanti. Saya akan buktikan sudah jadi orang yang lebih baik dibanding masa kelam saya,” akunya.

Upaya untuk Kembali Bermasyarakat

Stigma buruk masyarakat memang acap membuat para mantan narapidana gentar saat bebas dan harus kembali bermasyarakat. Masa hukuman yang lama juga nggak jarang membuat mereka takut bersosialisasi.

Hal ini disadari betul oleh para pengelola lapas. Kepala LPP Kelas IIA Semarang Kristiana Hambawani mengungkapkan, pelbagai program yang dibuat di tempatnya adalah upaya mereka agar para penghuni lapas nggak gentar saat harus kembali bermasyarakat. Menurutnya, hal ini diperlukan agar ketika mereka bebas, mereka dapat hidup normal, bahkan lebih layak dibanding sebelumnya.

“Kami membina mereka dengan berbagai program, seperti wawasan kebangsaan, pendidikan kemandirian, dan pendidikan agama,” ujarnya.

Selain teori, lanjut Kristiana, lapas perempuan ini juga menyediakan ruang bagi para narapidana untuk bekerja, dengan sejumlah profesi dan keahlian seperti menjahit, membatik, memasak, dan salon kecantikan.

"Mereka bakal dapat keuntungan 35 persen untuk setiap produk yang terjual,” tutur Kristiana sembari menunjukkan aktivitas warga binaan serta karya-karya mereka.

Ah, hati saya lumer! Kita memang nggak bakal bisa melihat hati seseorang dan menyaksikan gimana perjuangannya kecuali berdekatan dan berkenalan sendiri dengan mereka. Jadi, kamu nggak perlu menghakimi mereka, ya.

Hidup ini memang dipenuhi dualisme. Di tempat yang katanya penuh kubangan ini, sejatinya kita bakal tetap menemukan bunga teratai molek yang mekar. Teruslah berjuang untuk hidup yang lebih baik ya, Buibuk! (Triawanda Tirta Aditya/E03)

Tiga warga binaan di Lapas Wanita Semarang menunjukkan hasil karya mereka.<br>
Suasana ruang menjahit di Lapas Wanita Semarang. Dengan penuh ketekunan mereka bekerja.<br>
Inilah sosok Cherry, warga binaan asal Filipina yang tersangkut kasus narkotika.<br>
Salah satu kegiatan produktif dari para warga binaan.<br>
Ternyata di dalam lapas juga terdapat salon. Karyawanya juga para warga binaan.<br>
Salah satu warga binaan yang sedang membuat kerupuk.<br>
Kegiatan membatik yang dilakukan warga binaan.<br>
Narapidana asal Inggris yang kini pintar membatik.<br>
Pihak lapas menyediakan fasilitas wartel untuk berkomunikasi dengan keluarga mereka.<br>

Tags:

ARTIKEL TERKAIT

Harga Pertamax Berpeluang Turun Bulan Depan, Ini Penjelasan Menteri ESDM

21 Jul 2026

Kepala Badan Gizi Nasional Nanik S Deyang Mengundurkan Diri, Fokus Jalani Pengobatan Jantung

22 Jul 2026

Populasi Macan Tutul Jawa di Gunung Ungaran Tinggal 4–7 Ekor, Konservasi Dinilai Kian Mendesak

22 Jul 2026

China Klaim Berhasil Komersialkan Chip Otak, Babak Baru Persaingan dengan Neuralin

23 Jul 2026

Penanda Perbatasan Baru DIY Segera Dibangun, Desain "Cahaya Pradipta" Terinspirasi Cahaya Matahari di Gunungkidul

24 Jul 2026

Sering Dianggap Sama, Ternyata Putu Bambu dan Putu Ayu Punya Banyak Perbedaan

25 Jul 2026

Dijuluki Little Tiongkok, Lasem Simpan Jejak Akulturasi Budaya yang Masih Terjaga

27 Jul 2026

KAI Siapkan Nusantara Explorer, Kereta Sleeper Mewah Bernuansa Budaya Indonesia

28 Jul 2026

BRIN Kembali Temukan 18 Ikan Purba Coelacanth di Pulau Talise, Bukti Pentingnya Konservasi Laut Dalam

29 Jul 2026

Mengenal Londo Ireng, Tentara Afrika yang Direkrut Belanda ke Nusantara

30 Jul 2026

Kelapa Kopyor Mahal Bukan Tanpa Alasan, Ini Fakta Menariknya

31 Jul 2026

Jemparingan, Seni Panahan Khas Mataram yang Mengajarkan Fokus dan Keteguhan Hati

1 Agu 2026

Lima Kasus HAM yang Pernah Terjadi di Indonesia, Ada yang Belum Selesai!

10 Des 2019

Sebelum Menikah, Coba deh Hitung Wetonmu dan Pasangan, Cocok Nggak?

24 Jun 2020

Terkuak, Ini Penyebab Mitos Orang Jawa dan Sunda Nggak Boleh Menikah

28 Jun 2020

Cek Daftar Kata Ini Sebelum Beli Baju di Online Shop

30 Mei 2018

Macan Akar a.k.a Kucing Hutan kok Dipiara

7 Des 2017

Jarang Disadari, Begini Ciri-Ciri WhatsApp yang Disadap dan Cara Mencegahnya

1 Mar 2021

Kidung Rumekso Ing Wengi, Mantra Tolak Bala Warisan Sunan Kalijaga

15 Nov 2020

Terjawab Sudah Alasan Achmad Yurianto Diganti Reisa Broto Asmoro

10 Jun 2020

Inibaru Media adalah perusahaan digital yang fokus memopulerkan potensi kekayaan lokal dan pop culture di Indonesia, khususnya Jawa Tengah. Menyajikan warna-warni Indonesia baru untuk generasi millenial.

A Group Member of

Ikuti kamu di: