BerandaTradisinesia
Kamis, 18 Feb 2026 15:01

Tari Sufi Kolosal, Ritual Tahunan Desa Kriyan untuk Sambut Bulan Suci Ramadan

Suasana tari sufi kolosal di pelataran masjid (Inibaru.id/ Alfia Ainun Nikmah)

Dikelilingi ratusan warga yang memadati pelatararan Masjid Al Makmur Kriyan, puluhan santri Pondok Pesantren Nailun Najah As-Salaf berputar kencang sembari berzikir dalam Tari Sufi Kolosal, ritual tahunan untuk menyambut bulan suci Ramadan di Desa Kriyan Jepara.

Inibaru.id - Bayangan tentang datangnya Ramadan kerap menghadirkan perasaan campur aduk. Di satu sisi, bulan suci untuk umat Islam ini disambut dengan sukacita, tapi di sisi lain, ada tanggung jawab besar bagi setiap muslim untuk menjalankan ibadah puasa selama sebulan penuh sembari tetap beraktivitas seperti biasa.

Karena itu, masyarakat pun berupaya menjaga daya tahan tubuh agar mampu menunaikan ibadah secara optimal. Di Desa Kriyan, Kecamatan Kalinyamatan, Kabupaten Jepara, sebagai bentuk kesiapan, masyarakat setempat biasanya menyambut Ramadan dengan Pesta Baratan.

Rangkaian ritual yang biasa diselenggarakan pada penghujung Syakban, bulan terakhir sebelum Ramadan dalam penanggalan Hijriah ini digelar bersanding dengan tradisi Bodho Puli. Tujuannya adalah untuk memanjatkan doa keselamatan dan tirakat sebagai ikhtiar untuk mendekatkan diri kepada sang Maha Kuasa.

Salah satu agenda menarik yang dinantikan dalam event tahunan ini adalah Tari Sufi Kolosal yang digelar pada Jumat terakhir Syakban. Tahun ini, kegiatan bertajuk “Tari Sufi Kolosal 1447 Hijriah: Sambut Ramadan dengan Cinta” itu jatuh akhir pekan lalu, tepatnya pada Jumat, 13 Februari 2026.

Ditarikan Puluhan Santri

Antusias masyarakat sekitar dalam menonton tari sufi kolosal (Inibaru.Id/Alfia Ainun Nikmah)

Seperti tahun-tahun sebelumnya, tarian sufi yang dilakukan bersama-sama ini digelar di pelataran Masjid Al-Makmur di Desa Kriyan. Sekitar pukul 16.30 WIB, puluhan santri dari Pondok Pesantren Nailun Najah As-Salafy tampak mulai berjalan memasuki pelataran masjid untuk memulai tarian.

Lokasi pesantren hanyalah sepelemparan batu saja dari masjid. Setibanya di pelataran, para penari yang terdiri atas 38 santri anak-anak hingga dewasa itu pun segera membentuk barisan rapi di tengah halaman. Mereka mengenakan jubah putih dan peci tinggi khas penari sufi.

Tarian yang rutin digelar lima tahun terakhir ini diawali dengan kedua tangan menyilang merangkul pundak, lalu wajah menengadah ke atas. Saat gema selawat dilantunkan, penari memejamkan mata dengan bibir khusyuk merapal doa, mengirim wasilah kepada sanad para wali dan Nabi Muhammad.

Gerakan berputar dilakukan serempak, berlawanan arah jarum jam. Tangan kanan diangkat menengadah ke atas, sementara tangan kiri diarahkan ke bawah. Posisi tersebut melambangkan menerima rahmat Allah dari atas dan menebarkan kebaikan kepada sesama manusia.

Makna Tari Sufi

Para penari sufi khusyuk melantunkan shalawat selama menari. (Inibaru.id/ Alfia Ainun Nikmah)

Pengasuh Pondok Pesantren Nailun Najah As-Salafy, Gus Muhammad mengatakan, makna dari tari sufi adalah upaya menebar cinta. Tangan ke bawah sebagai simbol menyebarkan kebaikan, sedangkan tangan kanan yang ke atas adalah perlambang rahmat yang kita terima.

"Gerakan itu adalah ajaran Islam yang mengharuskan kita menyebarkan kebaikan yang kita dapatkan. Setelah kita menerima rahmat dan anugerah dari Allah, jangan sampai tangan kita menggenggamnya sendiri,” ujarnya seusai acara.

Sementara itu, dia melanjutkan, kostum yang dikenakan adalah busana sufi yang menjadi perlambang kain kafan dan peci tinggi (sikke) sebagai simbol batu nisan untuk mengingatkan kita tentang kematian atau dikenal sebagai zikrul maut.

"Kostum penari sufi yang seperti itu adalah pengingat, bahwa setiap manusia pada akhirnya akan kembali kepada sang Pencipta," sebutnya. "Jadi, ini bukan sekadar hiburan, tapi juga sarana edukasi dan syiar, agar masyarakat menyambut Ramadan dengan penuh kebahagiaan, cinta, tapi tetap mengingat mati."

Atraksi Seni dan Zikir

Para penari cilik dengan jubah warna warni (Inibaru.id/ Alfia Ainun Nikmah)

Gus Muhammad mengatakan, inspirasi tari sufi sering dikaitkan dengan keteladanan Abu Bakar Ash-Shiddiq, sahabat Rasulullah yang dikenal karena keteguhan imannya. Kisah itu berawal dari sebuah peristiwa ketika seorang lelaki datang kepada Nabi Muhammad untuk bertanya tentang hari kiamat.

“Berputarnya para penari sufi bukan sekadar gerakan fisik, karena ada zikir yang harus dibaca hingga khatam dalam setiap putaran, yang terinspirasi dari Abu Bakar Ash-Shiddiq," terangnya.

Untuk yang belum tahu, tari sufi dipercaya berakar dari tradisi Timur Tengah yang dikenal dengan sebutan Sema, ritual dalam Tarekat Maulawiyah yang didirikan oleh penyair sufi legendaris Jalaluddin Rumi. Tarian ini tercipta sebagai wujud cinta dan duka mendalam atas kematian Syamsuddin al-Tabrizi, guru spiritual Rumi.

Gerakan berputar adalah ekspresi kerinduan dan duka Rumi, yang merupakan metafora perjalanan jiwa menuju cinta Ilahi. Perpaduan antara atraksi seni yang rancak dan zikir yang menggetarkan hati inilah yang menurut Gus Muhammad paling cocok ditampilkan untuk menyambut Ramadan.

“Semangat Tari Sufi Kolosal ini sesuai dengan pesan dalam Kitab Durrotun Nashihin yang mengatakan bahwa barang siapa bergembira atas kehadiran bulan Ramadan, Allah mengharamkan jasadnya dari api neraka,” tandasnya.

Di antara orang-orang yang antusias menonton, para penari sufi terus berputar sembari berzikir, menyongsong kedatangan Ramadan yang sudah di depan mata dengan penuh penuh sukacita. Kalau di tempatmu, adakah ritual serupa untuk menyambut Ramadan? (Alfia Ainun Nikmah/E10)

Tags:

ARTIKEL TERKAIT

Mengapa Kebo Bule Selalu Hadir dalam Kirab Malam 1 Suro? Begini Sejarah dan Maknanya

21 Jun 2026

Melihat yang Luput: Dari Kudus, Festival Film Anak Bangsa Menyalakan Ruang Bagi Cerita-Cerita Kecil

22 Jun 2026

Kenali Ciri-Ciri Petugas Sensus Ekonomi 2026 Asli, Jangan Sampai Tertipu Oknum Mengatasnamakan BPS

23 Jun 2026

B50 Siap Beredar Juli 2026, Pemerintah Optimistis Tak Perlu Lagi Impor Solar

24 Jun 2026

Mendag Tegaskan NIB untuk Penjual Online Bukan untuk Pungutan Pajak

25 Jun 2026

5 Alasan Penting Mengapa Anda Harus Mengunjungi Dunia Fantasi Ancol Tahun Ini

25 Jun 2026

Dasun di Lasem, Galangan Kapal yang Pernah Menopang Armada Majapahit hingga Demak

26 Jun 2026

Pertamina: Harga BBM Berpotensi Turun Bertahap Mulai Juli

27 Jun 2026

Barikan Sitinggil, Cara Warga Kriyan Merawat Jejak Ratu Kalinyamat Lewat Doa dan Kebersamaan

28 Jun 2026

Masyarakat Bisa Pilih Logo HUT Ke-81 RI, Pemerintah Buka Polling hingga 28 Juni

29 Jun 2026

Perusahaan Kereta Asal Swiss Lirik Indonesia sebagai Basis Produksi untuk Pasar Asia

30 Jun 2026

Harga Pertamax Turbo, Dexlite, dan Pertamina DEX Turun Mulai 1 Juli 2026, Pertamax Tetap

1 Jul 2026

DJP Siap Terapkan Pajak E-Commerce Mulai 1 Juli 2026

1 Jul 2026

Mulai 1 Juli 2027, Empat Marketplace Resmi Pungut Pajak Pedagang Online

2 Jul 2026

Tabung CNG 3 Kg Segera Diuji, Diklaim Lebih Aman dari LPG

3 Jul 2026

Pemerintah Siapkan 39 Bandara Baru, Total Bandar Udara di Indonesia Bakal Jadi 296

4 Jul 2026

Lima Kasus HAM yang Pernah Terjadi di Indonesia, Ada yang Belum Selesai!

10 Des 2019

Sebelum Menikah, Coba deh Hitung Wetonmu dan Pasangan, Cocok Nggak?

24 Jun 2020

Terkuak, Ini Penyebab Mitos Orang Jawa dan Sunda Nggak Boleh Menikah

28 Jun 2020

Cek Daftar Kata Ini Sebelum Beli Baju di Online Shop

30 Mei 2018

Inibaru Media adalah perusahaan digital yang fokus memopulerkan potensi kekayaan lokal dan pop culture di Indonesia, khususnya Jawa Tengah. Menyajikan warna-warni Indonesia baru untuk generasi millenial.

A Group Member of

Ikuti kamu di: