Inibaru.id - Bayangan tentang datangnya Ramadan kerap menghadirkan perasaan campur aduk. Di satu sisi, bulan suci untuk umat Islam ini disambut dengan sukacita, tapi di sisi lain, ada tanggung jawab besar bagi setiap muslim untuk menjalankan ibadah puasa selama sebulan penuh sembari tetap beraktivitas seperti biasa.
Karena itu, masyarakat pun berupaya menjaga daya tahan tubuh agar mampu menunaikan ibadah secara optimal. Di Desa Kriyan, Kecamatan Kalinyamatan, Kabupaten Jepara, sebagai bentuk kesiapan, masyarakat setempat biasanya menyambut Ramadan dengan Pesta Baratan.
Rangkaian ritual yang biasa diselenggarakan pada penghujung Syakban, bulan terakhir sebelum Ramadan dalam penanggalan Hijriah ini digelar bersanding dengan tradisi Bodho Puli. Tujuannya adalah untuk memanjatkan doa keselamatan dan tirakat sebagai ikhtiar untuk mendekatkan diri kepada sang Maha Kuasa.
Salah satu agenda menarik yang dinantikan dalam event tahunan ini adalah Tari Sufi Kolosal yang digelar pada Jumat terakhir Syakban. Tahun ini, kegiatan bertajuk “Tari Sufi Kolosal 1447 Hijriah: Sambut Ramadan dengan Cinta” itu jatuh akhir pekan lalu, tepatnya pada Jumat, 13 Februari 2026.
Ditarikan Puluhan Santri
Seperti tahun-tahun sebelumnya, tarian sufi yang dilakukan bersama-sama ini digelar di pelataran Masjid Al-Makmur di Desa Kriyan. Sekitar pukul 16.30 WIB, puluhan santri dari Pondok Pesantren Nailun Najah As-Salafy tampak mulai berjalan memasuki pelataran masjid untuk memulai tarian.
Lokasi pesantren hanyalah sepelemparan batu saja dari masjid. Setibanya di pelataran, para penari yang terdiri atas 38 santri anak-anak hingga dewasa itu pun segera membentuk barisan rapi di tengah halaman. Mereka mengenakan jubah putih dan peci tinggi khas penari sufi.
Tarian yang rutin digelar lima tahun terakhir ini diawali dengan kedua tangan menyilang merangkul pundak, lalu wajah menengadah ke atas. Saat gema selawat dilantunkan, penari memejamkan mata dengan bibir khusyuk merapal doa, mengirim wasilah kepada sanad para wali dan Nabi Muhammad.
Gerakan berputar dilakukan serempak, berlawanan arah jarum jam. Tangan kanan diangkat menengadah ke atas, sementara tangan kiri diarahkan ke bawah. Posisi tersebut melambangkan menerima rahmat Allah dari atas dan menebarkan kebaikan kepada sesama manusia.
Makna Tari Sufi
Pengasuh Pondok Pesantren Nailun Najah As-Salafy, Gus Muhammad mengatakan, makna dari tari sufi adalah upaya menebar cinta. Tangan ke bawah sebagai simbol menyebarkan kebaikan, sedangkan tangan kanan yang ke atas adalah perlambang rahmat yang kita terima.
"Gerakan itu adalah ajaran Islam yang mengharuskan kita menyebarkan kebaikan yang kita dapatkan. Setelah kita menerima rahmat dan anugerah dari Allah, jangan sampai tangan kita menggenggamnya sendiri,” ujarnya seusai acara.
Sementara itu, dia melanjutkan, kostum yang dikenakan adalah busana sufi yang menjadi perlambang kain kafan dan peci tinggi (sikke) sebagai simbol batu nisan untuk mengingatkan kita tentang kematian atau dikenal sebagai zikrul maut.
"Kostum penari sufi yang seperti itu adalah pengingat, bahwa setiap manusia pada akhirnya akan kembali kepada sang Pencipta," sebutnya. "Jadi, ini bukan sekadar hiburan, tapi juga sarana edukasi dan syiar, agar masyarakat menyambut Ramadan dengan penuh kebahagiaan, cinta, tapi tetap mengingat mati."
Atraksi Seni dan Zikir
Gus Muhammad mengatakan, inspirasi tari sufi sering dikaitkan dengan keteladanan Abu Bakar Ash-Shiddiq, sahabat Rasulullah yang dikenal karena keteguhan imannya. Kisah itu berawal dari sebuah peristiwa ketika seorang lelaki datang kepada Nabi Muhammad untuk bertanya tentang hari kiamat.
“Berputarnya para penari sufi bukan sekadar gerakan fisik, karena ada zikir yang harus dibaca hingga khatam dalam setiap putaran, yang terinspirasi dari Abu Bakar Ash-Shiddiq," terangnya.
Untuk yang belum tahu, tari sufi dipercaya berakar dari tradisi Timur Tengah yang dikenal dengan sebutan Sema, ritual dalam Tarekat Maulawiyah yang didirikan oleh penyair sufi legendaris Jalaluddin Rumi. Tarian ini tercipta sebagai wujud cinta dan duka mendalam atas kematian Syamsuddin al-Tabrizi, guru spiritual Rumi.
Gerakan berputar adalah ekspresi kerinduan dan duka Rumi, yang merupakan metafora perjalanan jiwa menuju cinta Ilahi. Perpaduan antara atraksi seni yang rancak dan zikir yang menggetarkan hati inilah yang menurut Gus Muhammad paling cocok ditampilkan untuk menyambut Ramadan.
“Semangat Tari Sufi Kolosal ini sesuai dengan pesan dalam Kitab Durrotun Nashihin yang mengatakan bahwa barang siapa bergembira atas kehadiran bulan Ramadan, Allah mengharamkan jasadnya dari api neraka,” tandasnya.
Di antara orang-orang yang antusias menonton, para penari sufi terus berputar sembari berzikir, menyongsong kedatangan Ramadan yang sudah di depan mata dengan penuh penuh sukacita. Kalau di tempatmu, adakah ritual serupa untuk menyambut Ramadan? (Alfia Ainun Nikmah/E10)
