BerandaHits
Jumat, 5 Feb 2026 11:01

Uniknya 'No Color Rule', Fenomena Fesyen Jalanan Korea Selatan

'No Color Rule', aturan fesyen jalanan yang bikin warga Korea memakai pakaian dengan warna itu-itu saja. (Pexels/Huy Phan)

Jarang banget warga Korea memakai pakaian atau jaket dengan warna ngejreng di tempat umum. Alasannya, mereka menerapkan aturan fesyen jalanan yang nggak tertulis yang dikenal dengan istilah 'no color rule'.

Inibaru.id – Kalau kamu berkesempatan jalan-jalan di Seoul, Korea Selatan, coba deh perhatikan pakaian yang dikenakan warga Korea saat di keramaian atau transportasi umum. Pasti bakal mendapati satu fenomena unik, yakni kebanyakan warna pakaiannya hitam, putih, abu-abu, atau navy. Warna-warna ngejreng? Terkadang ada tapi sangat langka. Nah, fenomena fesyen yang cukup unik ini dikenal sebagai no color rule di sana, Gez.

Meski ada embel-embel “rule” pada istilah fesyen tersebut, ini sebenarnya bukan aturan tertulis. Tidak ada larangan memakai warna mencolok di sana. Tapi secara tidak langsung, gaya berpakaian monokrom sudah menjadi semacam kesepakatan sosial di Korea Selatan. Banyak pendatang asing atau turis yang kaget, karena di tengah industri hiburan Korea yang penuh warna, kehidupan sehari-harinya justru sangat kalem.

“Aku terbiasa memakai warna-warna cerah seperti pink atau hijau pandan di Indonesia karena memang suka aja. Di sana rasanya jadi kayak pusat perhatian karena beda sendiri,” ungkap warga Semarang yang baru saja menyelesaikan studi di Ewha Women University, Intan pada Selasa (3/2/2026).

“No color rule” berangkat dari satu prinsip sederhana, yakni tidak ingin terlihat terlalu menonjol. Dalam budaya Korea, keharmonisan sosial punya nilai tinggi. Terlalu berbeda bisa memicu rasa tidak nyaman, bukan hanya bagi orang yang melihat, tapi juga bagi yang dilihat. Maka, warna-warna netral dipilih karena aman, tidak mengundang komentar berlebihan, dan terasa “pas” di mana saja.

Menariknya, preferensi ini bukan cuma soal selera, tapi juga bisa dilihat dari data. Laporan logistik di Korea pernah menunjukkan bahwa mayoritas pakaian yang dikirim dan dibeli warga lokal berwarna hitam, putih, dan abu-abu. Artinya, pilihan monokrom ini benar-benar mendominasi lemari orang Korea, bukan sekadar tren musiman.

Fenomena 'no color rule' di Korea Selatan. (Wikipedia/LERK)

Ada juga faktor sejarah di baliknya. Korea dulu dikenal sebagai bangsa “berpakaian putih” karena hanbok tradisional banyak menggunakan warna tersebut. Putih dianggap melambangkan kesederhanaan dan kemurnian. Seiring waktu, makna itu melebar ke warna netral lain seperti hitam dan abu-abu, yang kini diasosiasikan dengan ketenangan, kerapian, dan elegan.

Di sisi lain, alasan praktis juga kuat. Pakaian monokrom gampang dipadu-padankan. Hitam cocok dengan apa saja, putih selalu aman, abu-abu jarang gagal. Bagi masyarakat urban yang hidup serba cepat, ini solusi efisien. Tidak perlu lama di depan lemari hanya untuk berpikir kombinasi warna baju mana yang serasi. Fokusnya bergeser ke potongan, bahan, dan siluet.

Musim dingin di Korea juga memperkuat “aturan tak tertulis” ini. Jaket dan mantel tebal harganya mahal dan bisa dipakai bertahun-tahun. Warna hitam jadi favorit karena tidak cepat terlihat kotor dan tetap relevan dari tahun ke tahun. Alhasil, pemandangan jalanan Seoul di musim dingin sering terlihat seperti lautan mantel gelap.

Meski begitu, bukan berarti warna cerah sepenuhnya dihindari. Banyak orang Korea menyimpannya untuk momen tertentu seperti kencan, liburan, atau acara spesial. Warna pakaian pun akhirnya jadi semacam simbol pernyataan, bukan pilihan harian.

Pada akhirnya, “no color rule” benar-benar diterapkan di fesyen jalanan Korea Selatan bukan karena warganya takut berekspresi. Ini tentang memilih kenyamanan sosial, efisiensi, dan harmoni. (Arie Widodo/E07)

Tags:

ARTIKEL TERKAIT

BRIN Kembali Temukan 18 Ikan Purba Coelacanth di Pulau Talise, Bukti Pentingnya Konservasi Laut Dalam

29 Jul 2026

Mengenal Londo Ireng, Tentara Afrika yang Direkrut Belanda ke Nusantara

30 Jul 2026

Kelapa Kopyor Mahal Bukan Tanpa Alasan, Ini Fakta Menariknya

31 Jul 2026

Jemparingan, Seni Panahan Khas Mataram yang Mengajarkan Fokus dan Keteguhan Hati

1 Agu 2026

Sejarah Marga Kolopaking, Trah Bangsawan Kebumen yang Berasal dari Kisah Kelapa Aking

3 Agu 2026

Berkolaborasi dengan China, Lampung Siap Luncurkan Satelit Lampung-1

4 Agu 2026

Naik Lima Kali Lipat, Biaya Lepas Status WNI Resmi Naik Jadi Rp5 Juta, Ini Alasannya

5 Agu 2026

Kemenkeu Ambil Alih 60% Saham KCIC untuk Restrukturisasi Utang Whoosh

6 Agu 2026

CoreWeave Investasi Miliaran Dolar AS, Bangun Tiga Pusat Data AI Pertama di Indonesia

7 Agu 2026

Wayang Beber, Wayang Tertua di Nusantara yang Masih Bertahan hingga Kini

8 Agu 2026

Desa Giyombong Pernah Jadi Ibu Kota Jawa Tengah pada 1948, Ini Kisahnya

10 Agu 2026

Tari Lengger Banyumas: Warisan Budaya Penuh Makna yang Tetap Menari Melintasi Zaman

11 Agu 2026

Lima Kasus HAM yang Pernah Terjadi di Indonesia, Ada yang Belum Selesai!

10 Des 2019

Sebelum Menikah, Coba deh Hitung Wetonmu dan Pasangan, Cocok Nggak?

24 Jun 2020

Terkuak, Ini Penyebab Mitos Orang Jawa dan Sunda Nggak Boleh Menikah

28 Jun 2020

Cek Daftar Kata Ini Sebelum Beli Baju di Online Shop

30 Mei 2018

Macan Akar a.k.a Kucing Hutan kok Dipiara

7 Des 2017

Jarang Disadari, Begini Ciri-Ciri WhatsApp yang Disadap dan Cara Mencegahnya

1 Mar 2021

Kidung Rumekso Ing Wengi, Mantra Tolak Bala Warisan Sunan Kalijaga

15 Nov 2020

Terjawab Sudah Alasan Achmad Yurianto Diganti Reisa Broto Asmoro

10 Jun 2020

Inibaru Media adalah perusahaan digital yang fokus memopulerkan potensi kekayaan lokal dan pop culture di Indonesia, khususnya Jawa Tengah. Menyajikan warna-warni Indonesia baru untuk generasi millenial.

A Group Member of

Ikuti kamu di: