Inibaru.id – Kalau kamu berkesempatan jalan-jalan di Seoul, Korea Selatan, coba deh perhatikan pakaian yang dikenakan warga Korea saat di keramaian atau transportasi umum. Pasti bakal mendapati satu fenomena unik, yakni kebanyakan warna pakaiannya hitam, putih, abu-abu, atau navy. Warna-warna ngejreng? Terkadang ada tapi sangat langka. Nah, fenomena fesyen yang cukup unik ini dikenal sebagai no color rule di sana, Gez.
Meski ada embel-embel “rule” pada istilah fesyen tersebut, ini sebenarnya bukan aturan tertulis. Tidak ada larangan memakai warna mencolok di sana. Tapi secara tidak langsung, gaya berpakaian monokrom sudah menjadi semacam kesepakatan sosial di Korea Selatan. Banyak pendatang asing atau turis yang kaget, karena di tengah industri hiburan Korea yang penuh warna, kehidupan sehari-harinya justru sangat kalem.
“Aku terbiasa memakai warna-warna cerah seperti pink atau hijau pandan di Indonesia karena memang suka aja. Di sana rasanya jadi kayak pusat perhatian karena beda sendiri,” ungkap warga Semarang yang baru saja menyelesaikan studi di Ewha Women University, Intan pada Selasa (3/2/2026).
“No color rule” berangkat dari satu prinsip sederhana, yakni tidak ingin terlihat terlalu menonjol. Dalam budaya Korea, keharmonisan sosial punya nilai tinggi. Terlalu berbeda bisa memicu rasa tidak nyaman, bukan hanya bagi orang yang melihat, tapi juga bagi yang dilihat. Maka, warna-warna netral dipilih karena aman, tidak mengundang komentar berlebihan, dan terasa “pas” di mana saja.
Menariknya, preferensi ini bukan cuma soal selera, tapi juga bisa dilihat dari data. Laporan logistik di Korea pernah menunjukkan bahwa mayoritas pakaian yang dikirim dan dibeli warga lokal berwarna hitam, putih, dan abu-abu. Artinya, pilihan monokrom ini benar-benar mendominasi lemari orang Korea, bukan sekadar tren musiman.
Ada juga faktor sejarah di baliknya. Korea dulu dikenal sebagai bangsa “berpakaian putih” karena hanbok tradisional banyak menggunakan warna tersebut. Putih dianggap melambangkan kesederhanaan dan kemurnian. Seiring waktu, makna itu melebar ke warna netral lain seperti hitam dan abu-abu, yang kini diasosiasikan dengan ketenangan, kerapian, dan elegan.
Di sisi lain, alasan praktis juga kuat. Pakaian monokrom gampang dipadu-padankan. Hitam cocok dengan apa saja, putih selalu aman, abu-abu jarang gagal. Bagi masyarakat urban yang hidup serba cepat, ini solusi efisien. Tidak perlu lama di depan lemari hanya untuk berpikir kombinasi warna baju mana yang serasi. Fokusnya bergeser ke potongan, bahan, dan siluet.
Musim dingin di Korea juga memperkuat “aturan tak tertulis” ini. Jaket dan mantel tebal harganya mahal dan bisa dipakai bertahun-tahun. Warna hitam jadi favorit karena tidak cepat terlihat kotor dan tetap relevan dari tahun ke tahun. Alhasil, pemandangan jalanan Seoul di musim dingin sering terlihat seperti lautan mantel gelap.
Meski begitu, bukan berarti warna cerah sepenuhnya dihindari. Banyak orang Korea menyimpannya untuk momen tertentu seperti kencan, liburan, atau acara spesial. Warna pakaian pun akhirnya jadi semacam simbol pernyataan, bukan pilihan harian.
Pada akhirnya, “no color rule” benar-benar diterapkan di fesyen jalanan Korea Selatan bukan karena warganya takut berekspresi. Ini tentang memilih kenyamanan sosial, efisiensi, dan harmoni. (Arie Widodo/E07)
