BerandaKulinary
Jumat, 5 Feb 2026 09:01

Mencicipi Latopia, Oleh-oleh Khas Tegal yang Kaya Sejarah

Latopia di Toko Pia Ny Liao, Tegal. (Galaxy Running)

Bentuknya mirip bakpia khas Jogja. Tapi, latopia beda. Seperti apa ya keunikan dari oleh-oleh khas Tegal yang satu ini?

Inibaru.id - Jika berbicara soal oleh-oleh khas Tegal, nama latopia hampir selalu ikut disebut. Kue berbentuk bulat atau lonjong ini sudah lama jadi teman setia meja tamu, camilan sore, sekaligus buah tangan favorit bagi siapa pun yang singgah di Kota Bahari.

Rasanya manis, sedikit gurih, dengan tekstur kulit yang khas, yakni renyah di luar dan padat di dalam. Bentuknya sekilas mirip dengan bakpia khas Jogja. Tapi, ada yang beda dari kudapan yang satu ini.

Latopia khas Tegal berukuran lebih besar, kulitnya lebih tebal dan kering, serta isiannya terasa lebih padat. Karakter ini membuat latopia cocok disantap pelan-pelan sambil menyeruput teh panas atau kopi hitam.

Di balik tampilannya yang sederhana, latopia menyimpan cerita panjang tentang perjumpaan dua budaya yang berbeda. Nama latopia dipercaya berasal dari istilah Tionghoa lektopia, yang merujuk pada kue pia berisi kacang hijau. Seiring waktu, penyebutannya berubah dan beradaptasi dengan lidah lokal.

Sejarah kehadirannya di Tegal tak lepas dari komunitas Tionghoa yang menetap di wilayah Pantura sejak ratusan tahun yang lalu dan membawa tradisi kuliner mereka, lalu menyatukannya dengan bahan dan selera setempat.

Awalnya, isian latopia hanya kacang hijau. Namun kini pilihannya jauh lebih beragam. Ada cokelat, keju, susu, gula aren, hingga durian. Meski variannya mengikuti perkembangan zaman, pakem dasarnya tetap dijaga, yaitu kue pia kering dengan kulit berlapis dan isian yang padat.

Latopia di Pia Ny Liao sudah eksis sejak ratusan tahun yang lalu. (Aninditya Dwi Perwitasari)

Salah satu saksi hidup sejarah latopia bisa ditemukan di kawasan Paweden, tak jauh dari Klenteng Tek Hay Kiong. Di sana berdiri usaha latopia legendaris yang telah bertahan hampir satu abad, dikelola lintas generasi dalam satu keluarga Bernama Pia Ny Liao.

Dari dapur sederhana yang ada di Jalan Paweden nomor 100, Mintaragen, Tegal itulah, ribuan latopia diproduksi setiap bulan dengan resep turun-temurun yang diwariskan secara lisan, tanpa catatan tertulis.

“Ini sudah dirintis leluhur kami entah generasi kelima atau keenam, atau malah lebih lama lagi,” ucap salah seorang pengelola usaha Pia Ny Liao Bernama Haryanto (80), sebagaimana dinukil dari Suaramerdeka, Selasa (3/2/2026).

Bahan yang digunakan sebenarnya sederhana: tepung terigu, minyak, margarin, gula, susu, air, dan sedikit garam untuk kulitnya. Isiannya disesuaikan dengan varian rasa. Proses pembuatannya memakan waktu sekitar satu jam, dengan perhatian khusus saat pemanggangan agar kue mengembang sempurna tanpa kehilangan kerenyahannya.

Daya tahan latopia yang bisa mencapai hampir sebulan membuatnya ideal sebagai oleh-oleh perjalanan jauh. Tak heran jika pesanan datang bukan hanya dari Tegal dan sekitarnya, tetapi juga dari berbagai kota besar hingga luar Pulau Jawa.

“Kami nggak memakai bahan pengawet dan yang pasti kue ini halal,” tegas Haryanto yang mengelola usaha ini bersama dengan adiknya, Adi.

Latopia di Pia Ny Liao dijual Rp7 ribu – Rp9 ribu per biji. Harga yang terjangkau untuk kuliner legendaris yang sudah bertahan selama ratusan tahun. Jadi, kalau mau mencari oleh-oleh khas Tegal, sudah tahu kan harus beli apa, Gez? (Arie Widodo/E07)

Tags:

ARTIKEL TERKAIT

Dolar AS Sentuh Rp17.500, Apa Dampaknya bagi Masyarakat?

13 Mei 2026

Rahasia Sehat dari Isi Piring Warna-Warni

13 Mei 2026

Jamu, Warisan Leluhur yang Tetap Relevan di Tengah Gaya Hidup Modern

14 Mei 2026

Saat Rupiah Melemah, Apa yang Bisa Kita Lakukan?

15 Mei 2026

Rahasia Matematika di Balik Motif Batik, dari Simetri hingga Pola Fibonacci

16 Mei 2026

ARTOTEL Gajahmada Semarang Hadirkan Pameran Seni Kontemporer “Episentrum”

16 Mei 2026

Nyandhang Tradisi untuk Menjaga Ingatan Batik Kudus

18 Mei 2026

9 WNI dalam Misi Kemanusiaan ke Gaza Dicegat Israel, Ada Wartawan Media Nasional

19 Mei 2026

Margin Kian Tipis, Banyak Seller Mulai Tinggalkan Marketplace

20 Mei 2026

SMA Negeri 1 Kemalang Resmi Berdiri, Anak Lereng Merapi Tak Perlu Sekolah Jauh Lagi

20 Mei 2026

Jateng Media Summit 2026 Bahas Masa Depan Media Lokal di Era Digital

21 Mei 2026

Di Tengah Gempuran AI dan Buzzer, Media Lokal Diajak Kembali ke Jurnalisme Publik

22 Mei 2026

Jejak Panjang Pecel, Lotek, dan Gado-Gado: Saat Salad Nusantara Punya Cerita Peradaban

22 Mei 2026

BI Jateng Ingatkan Bahaya Penipuan Digital di Tengah Tren Transaksi QRIS

23 Mei 2026

Belajar dari Estonia, China, dan Singapura dalam Membangun Infrastruktur Digital

23 Mei 2026

Walkot Semarang Resmi Luncurkan LOFF 2026, Perkuat Ekosistem Perfilman Kreatif

24 Mei 2026

Peluang “Godzilla El Nino” 2026 di Indonesia Relatif Kecil, Ini Kata BRIN

25 Mei 2026

Jadi Wisudawan Terbaik UNRIYO, Pemuda Asal Semarang Ini Ingin Ciptakan Banyak Peluang Kerja

25 Mei 2026

Sebelum Nasi Mendominasi, Leluhur Kita Sudah Diversifikasi Pangan Sejak Dulu

26 Mei 2026

Lima Kasus HAM yang Pernah Terjadi di Indonesia, Ada yang Belum Selesai!

10 Des 2019

Inibaru Media adalah perusahaan digital yang fokus memopulerkan potensi kekayaan lokal dan pop culture di Indonesia, khususnya Jawa Tengah. Menyajikan warna-warni Indonesia baru untuk generasi millenial.

A Group Member of

Ikuti kamu di: