BerandaTradisinesia
Jumat, 28 Nov 2024 14:04

Siapa Sunan Bayat yang Makamnya di Klaten Selalu Ramai Peziarah?

Sunan Pandanaran atau disebut juga Sunan Bayat adalah tokoh penting penyebar agama Islam di daerah Klaten dan sekitarnya. (Detik/Achmad Hussein Syauqi)

Ada ribuan orang setiap harinya yang datang ke makam Sunan Bayat di Klaten. Para peziarah itu datang dari dalam dan luar kota. Siapakah sosok Sunan Bayat ini?

Inibaru.id - Di Kabupaten Klaten ada makam wali yang ramai didatangi rombongan masyarakat. Mereka berbondong-bondong naik bus atau mobil dari luar kota demi bisa berdoa dan mengharap karomah dari wali kekasih Allah. Siapa tokoh yang menjadi salah seorang penyebar agama Islam di Jawa itu?

Wali itu adalah Sunan Bayat atau Sunan Pandanaran. Makam sunan yang hidup di masa Kesultanan Demak sekitar abad ke-16 itu ada di perbukitan Gunung Jabalkat di Kelurahan Paseban, Kecamatan Bayat, Kabupaten Klaten, Jawa Tengah.

Menurut berbagai sumber, jumlah peziarah di Makam Sunan Pandanaran di Bayat, Klaten, bisa mencapai ribuan orang per hari, terutama pada bulan-bulan tertentu seperti Sya'ban dan menjelang Ramadan. Jika datang ke sana, kamu harus melewati 250 anak tangga untuk mencapai makam. Tapi tenang, di kanan dan kiri tangga ada banyak pedagang makanan dan suvenir yang bisa mengalihkan rasa lelah.

Begitu populer di kalangan masyarakat terutama yang suka berwisata religi, siapakah sebenarnya sosok Sunan Bayat atau Pandanaran itu?

Senggaknya ada empat versi kisah mengenai Sunan Bayat. Tapi dari seluruh versi, banyak orang sepakat bahwa Sunan Bayat merupakan putra dari Ki Ageng Pandanaran, Bupati pertama Semarang. Setelah Ki Ageng Pandanaran meninggal, putranya Pangeran Mangkubumi menggantikan sebagai bupati Semarang kedua.

Kisah Sunan Bayat

Peziarah memanjatkan do'a di bagian dalam makam Sunan Bayat. (GNFI/Sobatbayat)

Dilansir dari buku Cerita-Cerita Legenda di Kabupaten Klaten yang ditulis oleh Danang Susena & Wisnu Nugroho Aji pada tahun 2020, Pangeran Mangkubumi menjalankan pemerintahan dengan baik dan patuh dengan ajaran Islam seperti mendiang ayahnya. Namun lama-kelamaan terjadilah perubahan.

Pangeran Mangkubumi yang dulunya sangat baik kemudian memburuk. Selain itu pemerintahannya sering dilalaikan. Begitu pula dengan perawatan pondok pesantren dan tempat ibadah.

Sultan Demak Bintara mengetahui hal tersebut lalu mengutus Sunan Kalijaga dari Kadilangu untuk menyadarkannya. Semula, Ki Ageng Pandanaran adalah orang yang selalu mendewakan harta keduniawian. Berkat bimbingan dan ajaran Sunan Kalijaga, Ki Ageng Pandanaran bisa sadar dari sifat buruknya.

Akhirnya sang bupati menyadari kelalaiannya dan memutuskan mengundurkan diri dari jabatan dan menyerahkan kekuasaan Semarang kepada adiknya.

Kalijaga kemudian menyarankan Ki Ageng Pandanaran berpindah ke selatan tanpa membawa harta dan ditemani istrinya melalui daerah yang sekarang dinamakan Salatiga, Boyolali, dan Wedi.

Diam-diam, tanpa sepengetahuan sang istri, dia membawa tongkat bambu yang di dalamnya dipenuhi permata. Dalam perjalanan, mereka dihadang oleh kawanan perampok yang dipimpin oleh seorang yang namanya dikenal dengan Syekh Domba. Kemudian, terjadilah perkelahian. Untungnya pasangan suami istri tersebut berhasil mengatasinya.

Selanjutnya, Syekh Domba berubah menjadi makhluk berbadan manusia tapi berkepala domba. Dia akhirnya menyadari dan menyesal dengan segala perbuatannya.

Atas izin Allah SWT, Sunan Pandanaran mengubah Syekh Domba kembali menjadi manusia. Setelah itu, Syekh Domba diberi tugas mengisi tempat wudu pada gentong di masjid yang berada di puncak bukit Jabalkat Bayat, tempat Ki Ageng Pandanaran menetap.

Itulah sepenggal kisah tentang Sunan Bayat atau Ki Ageng Pandanaran yang kini makamnya selalu dikunjungi ribuan peziarah. Kamu sudah pernah wisata religi ke sana belum, Millens? (Siti Khatijah/E07)

Tags:

ARTIKEL TERKAIT

Dolar Tembus Rp18.000, Apa Dampaknya bagi Masyarakat dan Apa yang Perlu Dilakukan?

4 Jun 2026

Membaca Duduk Perkara Kasus MBG: Berikut Dugaan Penyimpangan yang Sedang Diusut

4 Jun 2026

Bancakan, Tradisi Makan Bersama Masyarakat Jawa yang Sarat Makna Kebersamaan

5 Jun 2026

Grebeg Besar Keraton Solo, Tradisi Iduladha yang Menyatukan Syukur, Budaya, dan Harapan

5 Jun 2026

Mirip Orient Express, KAI Siapkan Kereta Wisata Premium Nusantara Explorer dari Jakarta hingga Banyuwangi

6 Jun 2026

Bediding Kembali Datang Saat Musim Kemarau, Dari Mana Asal Istilahnya?

7 Jun 2026

Akun Instagram Bisa Diretas Lewat Chatbot AI? Ini Penjelasannya

8 Jun 2026

Puluhan Rafflesia Bermekaran di Anambas, Peneliti Temukan Habitat Baru

9 Jun 2026

Berusia 67.800 Tahun, Cap Tangan di Pulau Muna Pecahkan Rekor Dunia

10 Jun 2026

Kuliner Indonesia Masuk 10 Besar Dunia Versi TasteAtlas 2026, Nasi Padang Jadi Salah Satu yang Tertinggi

11 Jun 2026

Majelis Masyayikh: Pengakuan terhadap Pesantren Harus Diikuti Dukungan Pendanaan

12 Jun 2026

Perkuat Posisi Tawar Industri Pers, Dewan Pers Himpun Masukan soal RUU Hak Cipta

12 Jun 2026

AMSI Soroti Ancaman FIMI, Bentuk Baru Manipulasi Informasi di Era AI

14 Jun 2026

Kementerian Kehutanan Lepasliarkan Elang Jawa dan Resmikan Fasilitas Konservasi di Megamendung

15 Jun 2026

9 Tradisi Malam Satu Suro di Berbagai Daerah yang Masih Dilestarikan hingga Kini

15 Jun 2026

TikTok Jadi Media Sosial Paling Sering Diakses Warganet Indonesia pada 2026

16 Jun 2026

Sensus Ekonomi 2026 Dimulai, Warga Jateng Diminta Sambut Petugas dengan Baik

17 Jun 2026

Keraton Solo Keluarkan 14 Pusaka dan Kebo Bule dalam Kirab Malam 1 Suro

17 Jun 2026

Lima Kasus HAM yang Pernah Terjadi di Indonesia, Ada yang Belum Selesai!

10 Des 2019

Sebelum Menikah, Coba deh Hitung Wetonmu dan Pasangan, Cocok Nggak?

24 Jun 2020

Inibaru Media adalah perusahaan digital yang fokus memopulerkan potensi kekayaan lokal dan pop culture di Indonesia, khususnya Jawa Tengah. Menyajikan warna-warni Indonesia baru untuk generasi millenial.

A Group Member of

Ikuti kamu di: