BerandaTradisinesia
Minggu, 27 Sep 2025 15:01

Melestarikan Seni Tabuh Pengiring Hajatan di Kudus: Terbang Papat

Di halaman Masjid Al-Mubarok Desa Demaan, Kecamatan Kota, Kudus, dentuman terbang papat—seni tabuh Islami khas Kudus terdengar khas. (Inibaru.id/Imam Khanafi)

Bukan sekadar pengiring hajatan di Kudus, Terbang Papat adalah kesenian tabuh bernuansa budaya islami yang pernah menjadi bagian dari perlawanan ulama pada pasa kolonialisme Hindia-Belanda.

Inibaru.id - Gemerincing suara rebana terdengar nyaring mengiringi langkah warga Desa Demaan, Kecamatan Kota, Kabupaten Kudus, yang berduyun-duyun dari berbagai sudut desa menuju Masjid Al-Mubarok pada Jumat (5/9/2025) pagi.

Di depan masjid, ribuan keranjang kecil dari anyaman bambu berisikan jajanan kemasan, nasi dan lauk, atau ketan khas Kudus, sudah rapi disusun di atas gerobak; siap dikirab. Golok mentok namanya. Tahun ini, lebih dari seribu keranjang telah dipersiapkan, yang nantinya akan diperebutkan pada puncak acara.

Persiapan Kirab Golok-Golok Mentok, tradisi warisan warga Demaan yang dulu pernah mati suri, agaknya sudah komplet. Sudah empat tahun terakhir mereka kembali mengadakan tradisi yang digelar untuk memperingati Maulid Nabi tersebut. Grup terbang papat yang selalu menjadi pengiringnya juga sudah siap.

Terbang papat adalah seni musik khas Kudus yang bernuansa islami, berupa perpaduan perkusi tabuh yang dibunyikan dengan rancak. Pada tradisi ini, terbang papat menjadi pengiring keberangkatan kirab, menandai perjalanan budaya yang nggak sekadar hiburan, tapi tradisi lama berisikan doa dan harapan.

Suasana kian hidup ketika para penabuh terbang papat melantunkan syair-syair selawat di sela ketukan jidur dan rebana. Anak-anak berlarian membawa bendera kecil, sementara para sesepuh desa berdiri khidmat menyaksikan rangkaian acara yang telah diwariskan turun-temurun.

Golok-Golok Mentok dan Terbang Papat

Di halaman Masjid Al-Mubarok Desa Demaan, Kecamatan Kota, Kudus, dentuman terbang papat—seni tabuh Islami khas Kudus terdengar khas. (Inibaru.id/ Imam Khanafi)

Di balik kemeriahan itu, tradisi Kirab Golok-Golok Mentok nggak hanya menjadi perayaan identitas Demaan, tetapi juga ruang bagi seni-seni lama seperti terbang papat untuk tetap berdegup kencang, mengingatkan bahwa warisan leluhur masih teguh berdiri di tengah arus zaman yang seolah jauh dari akar budaya lama.

Arah suara terbang papat pengiring Kirab Golok-Golok Mentok berpusat di serambi masjid, tempat grup terbang dari Desa Padurenan yang dipimpin Qomarul Adib duduk bersimpuh. Dia menatap khidmat deretan rebana yang berjajar di depannya.

Adib adalah salah seorang dari sejumlah seniman yang memilih untuk terus menabuh, bersuara, dan nguri-uri agar kesenian tersebut tetap hidup di tanah kelahirannya. Dia adalah bagian dari segelintir pemuda yang masih menjadi bagian dari "perjuangan" tersebut.

“Sekarang ini anak muda sudah jarang sekali yang minat dengan Terbang Papat, padahal ini budaya asli Kudus,” ujarnya membuka percakapan seusai merampungkan tugasnya sebagai pengiring kirab. Nada suaranya terdengar prihatin.

Warisan Para Wali

Salah seorang penabuh terbang papat di halaman Masjid Al-Mubarok Desa Demaan, Kecamatan Kota, Kudus. (Inibaru.id/ Imam Khanafi)

Menurut Adib, anggapan bahwa kesenian tradisional terbang papat sudah bukan zamannya alias kuno adalah persoalan yang harus diurai. Persoalan itu, lanjutnya, perlu dipikirkan bersama-sama. Ini penting, mengingat kesenian itu bukan sekadar sarana hiburan, tapi warisan budaya yang sarat nilai sejarah dan dakwah.

"Kesenian ini merupakan budaya asli Kudus yang lahir dari kreativitas para wali dan ulama Jawa sebagai media dakwah," sebutnya.

Dia pun bercerita, konon pada masa kolonialisme Hindia-Belanda, ketika penjajah melarang masyarakat menjalankan ritual budaya dan keagamaan, lahirlah terbang papat ini.

“Terbang papat adalah strategi para ulama untuk menarik minat masyarakat agar tetap menjaga tradisi seperti mitoni, walimahan, dan lain-lain; sesuai ajaran Islam,” terang Adib. "Terbang papat juga menjadi musik pengiring tradisi Buka Luwur Kanjeng Sunan."

Menjadi Pengiring Hajatan

Grup terbang papat di halaman Masjid Al-Mubarok Desa Demaan, Kecamatan Kota, Kudus. (Inibaru.id/ Imam Khanafi)

Menurut sejumlah literatur sejarah, kesenian Terbang Papat telah menjadi bagian dari masyarakat sejak 1936, jauh sebelum Indonesia merdeka. Kala itu, perpaduan jidur dan rebana itu telah menjadi pengiring yang mengakrabi pelbagai hajatan seperti pernikahan, khitanan, hingga puputan.

“Dulu, tiap kecamatan hampir pasti ada grup (terbang papat)-nya. Sekarang, aktivitasnya menurun, hanya didominasi generasi tua,” ungkap Adib, lalu mengembuskan napas panjang.

Oya, nama “Terbang Papat” merujuk pada instrumen utamanya, yakni satu jidur dan empat buah rebana yang terdiri atas kemplong, telon, salahan, dan lajer. Ukuran terbangnya lebih besar dibanding rebana biasa, berdiameter 37–42 sentimeter, menghasilkan dentum khas yang mengentak-entak, tapi tetap hangat.

"Pola ketukannya adalah ketukan enam dan empat. Pola ini menghasilkan irama yang memikat, apalagi saat dipadukan dengan lantunan syair dari Kitab Majmu’ah Syarifil Anam yang durasinya bisa mencapai tiga jam jika dibawakan lengkap," papar Adib.

Menabuh sekaligus Melantunkan

Penabuh terbang papat di halaman Masjid Al-Mubarok Desa Demaan, Kecamatan Kota, Kudus. (Inibaru.id/ Imam Khanafi)

Keunikan lain dari terbang papat adalah bahwa para anggota grup ini nggak hanya dituntut untuk piawai menabuh, tapi juga melantunkan lagu-lagu maulid. Jadi, Adib menuturkan, para penabuh nggak hanya bermain musik, tapi juga berdakwah dengan selawat.

"Terbang papat memang mengajarkan keseimbangan. Di Jawa, ada istilah sedulur papat limo pancer. Nah, empat terbang itu ibarat empat saudara, dan jidur sebagai pancer atau pusatnya. Ini mengingatkan kita tentang keseimbangan hidup, hubungan manusia dengan alam, dengan Tuhan, dan sesama,” jelasnya.

Unsur budaya Jawa memang kental dalam kesenian ini. Meski begitu, Adib menolak anggapan bahwa terbang papat mengandung unsur klenik atau syirik yang kadang disematkan orang lantaran sebagian grup terbang papat acap menaruh wewangian dan menyan di bawah jidur.

"Itu (tradisi menaruh wewangian atau menyan di bawah jidur) hanya cara untuk nguri-nguri budaya leluhur. Tidak ada unsur negatif atau syirik. Kalau sekarang tidak mau dilakukan pun tidak masalah,” katanya menegaskan.

Pernah Sabet Rekor Muri

Lantunan terbang papat di halaman Masjid Al-Mubarok Desa Demaan, Kecamatan Kota, Kudus. (Inibaru.id/ Imam Khanafi)

Adib mengatakan, saat ini ada sekitar 130 grup terbang papat yang tersebar di sejumlah desa di Kudus. Dia berharap akan semakin banyak publikasi yang menyuarakan keberadaan kesenian ini agar tetap hidup dan dikenal masyarakat sebagai bagian dari seni bernapas keagamaan di Kudus.

"Kami pernah menyabet Rekor Muri sebagai penabuh terbang papat terlama pada satu acara bertajuk Mahakarya Kebudayaan Internasional pada Juli 2022. Kami nabuh selama 73 jam tanpa henti. Tiga hari dua malam tanpa jeda, agar kesenian ini dikenal; menunjukkan bukti kesungguhan kami," terang Adib.

Bagi Adib, melestarikan terbang papat bukan hanya soal merengkuh tradisi, tetapi juga menjaga identitas Kudus sebagai kota yang religius. Dia berharap bisa memperkenalkan terbang papat yang asli ke anak cucu, mengajari cara menabuhnya, dan menuturkan filosofi yang menyertainya.

“Terbang Papat punya tagline 'Menebar Sholawat, Menuai Syafaat'. Kalau kami tidak serius, kesenian ini bisa hilang ditelan zaman dan tagline itu bakal kehilangan makna,” ujarnya. "Harapan kami sekarang adalah dilirik generasi muda."

Terbang Papat bukan hanya tentang irama rebana, tapi kepingan perjuangan yang membentuk Kudus, Selama masih ada yang menabuh dan melantunkan syairnya, kisah itu akan tersampaikan dan terwariskan dari generasi ke generasi. (Imam Khanafi/E10)

Tags:

ARTIKEL TERKAIT

Blok GM, Surga Anak Skena, dan Wajah Baru Kota Semarang saat Malam

9 Apr 2026

Puting Beliung Terjang Banyumanik, Pemkot Semarang Akan Perbaiki Rumah Warga Terdampak

9 Apr 2026

Kembalikan Ruh, Tiket Masuk Resmi Ditiadakan dalam Tradisi Bulusan

9 Apr 2026

Pecinan Semarang Bakal Dikelilingi Arak-arakan 50 Kelenteng Akhir Pekan Ini!

10 Apr 2026

30 Persen Jemaah Haji asal Semarang Masuk Kategori Muda, Puluhan di Antaranya Gen Z

10 Apr 2026

Kolaborasi AMSI dan Meta untuk Dukung Jurnalisme Berkualitas

10 Apr 2026

Jaga Produksi, Pengusaha Tahu Semarang Putar Otak saat Harga Kedelai dan Plastik Naik

10 Apr 2026

Ogah Cuma Jadi Formalitas, Sumanto Pengin Bedah LKPJ 2025 Hasilkan Solusi Nyata buat Jateng

11 Apr 2026

Investasi buat Anak Cucu, Sumanto Ajak Relawan Jaga Kali-Rawat Bumi

12 Apr 2026

Kecelakaan (Lagi) di Silayur Semarang, Mau sampai Kapan?

12 Apr 2026

Bernuansa Spiritual, Tradisi Kirab Kelenteng di Pecinan Semarang

13 Apr 2026

Lansia Dominasi Calhaj Asal Semarang, Kesehatan jadi Tantangan Serius

13 Apr 2026

ASN Jateng WFH Tiap Jumat, Sumanto: Jangan Sampai Pelayanan Publik Malah Libur

13 Apr 2026

Dishub Perketat Akses Masuk ke Silayur, Dua Portal Disiapkan untuk Batasi Truk Tronton

14 Apr 2026

Forbasi Matangkan Struktur Organisasi via Rakernas dan Sertifikasi Juri-Pelatih

14 Apr 2026

Ikhtiar Warga Silayur, Kembalikan Tradisi Ruwatan untuk Keselamatan Pengguna Jalan

14 Apr 2026

Grup Cowok: Batas Tipis antara Bercanda dan Pelecehan Seksual

15 Apr 2026

Menanti Surpres, Nasib RUU PPRT Kini di Tangan Presiden

15 Apr 2026

Temuan Fosil Purba di Bumiayu, Diduga Lebih Tua dari Sangiran

16 Apr 2026

Riset CISDI: Satu Dekade Berlalu, Harga Rokok Tetap Murah, Reformasi Cukai Diperlukan

17 Apr 2026

Inibaru Media adalah perusahaan digital yang fokus memopulerkan potensi kekayaan lokal dan pop culture di Indonesia, khususnya Jawa Tengah. Menyajikan warna-warni Indonesia baru untuk generasi millenial.

A Group Member of

Ikuti kamu di: