BerandaTradisinesia
Selasa, 24 Apr 2023 08:00

Kesultanan Yogyakarta, Kesunanan Solo. Kenapa Berbeda?

Kraton Surakarta bernuansa putih-biru dengan desain arsitektur campuran Jawa-Eropa.(Kumparan/Fernando Futisia)

Sebelum menjadi Kesultanan Yogyakarta dan Kesunanan Solo, sebelumnya mereka sama-sama menjadi bagian dari Kerajaan Mataram. Lalu apa yang membuat keduanya berbeda? Yuk simak!

Inibaru.id – Pada 1584, Panembahan Senopati mendeklarasikan terbentuknya Kesultanan Mataram Islam di Alas Mentaok yang saat ini dikenal dengan sebutan kota Yogyakarta. Sayangnya, melalui Perjanjian Giyanti yang ditandatangi 13 Februari 1755 membuat kerajaan ini terbelah.

Perjanjian Giyanti merupakan peristiwa yang menandai pecahnya Mataram Islam menjadi Kesultanan Yogyakarta dan Kesunanan Solo. Isi perjanjian ini nggak hanya melibatkan pribumi saja, Perjanjian Giyanti juga melibatkan VOC.

Berebut Kekuasaan Mataram

Awal mula perpecahan Mataram Jawa adalah dari pertikaian antar-anggota keluarga istana. Mengutip Tirto (19/3/2023), ada tiga tokoh utama yang terlibat dalam perang saudara ini, yaitu Susuhunan Pakubuwana II, Pangeran Mangkubumi, dan Raden Mas Said alias Pangeran Sambernyawa.

Pakubuwana II, raja pendiri Kasunanan Surakarta dan Pangeran Mangkubumi adalah kakak-beradik, sama-sama putra dari Amangkurat IV, penguasa Mataram periode 1719-1726. Kalau Raden Mas Said merupakan salah satu cucu Amangkurat IV atau keponakan Pakubuwana II dan Pangeran Mangkubumi.

Raden Mas Said mengklaim bahwa dia berhak atas takhta Mataram yang diduduki pamannya, Pakubuwana II. Alasannya? Pangeran Arya Mangkunegara alias ayahnya merupakan putra sulung Amangkurat IV.

Saat itu, Raden Mas Said mengobarkan perlawanan terhadap VOC untuk menuntut haknya sebagai pewaris kuasa Mataram. Hal serupa juga dilakukan oleh Pangeran Mangkubumi karena dia merasa memiliki hak yang sama atas takhta kerajaan.

Akhirnya, tanggal 13 Februari 1755 lahirlah Perjanjian Giyanti bak pedang yang membelah wilayah dan kekuasaan Mataram menjadi dua.

Perbedaan Kesultanan Yogyakarta dan Kesunanan Surakarta

Kraton Yogyakarta identik dengan bangunan Jawa dan Hindu klasik dengan banyak ornamen-ornamen Jawa yang kental di sana. (Gokayu)

Setelah Perjanjian Giyanti, Kerajaan Mataram terbagi menjadi dua dan membuat budaya yang berbeda pula.

Setelah Perjanjian Giyanti, Pangeran Mangkubumi mendapat setengah wilayah Mataram dan memunculkan kerajaan baru bernama Kesultanan Ngayogyakarta Hadiningrat. Rajanya adalah Pangeran Mangkubumi dengan gelar Sri Sultan Hamengkubuwana I.

Sedangkan Kesunanan Surakarta yang kedudukannya tetap di Surakarta tetap dipimpin oleh raja bergelar Susuhunan Pakubuwana yaitu Susuhunan Pakubuwana III.

Nggak hanya gelar rajanya yang berbeda, dari segi bangunan dan cara berpakaian kedua kerajaan ini juga berbeda.

Baju dan pelengkap yang dipakai oleh abdi dalam kerajaan Yogyakarta dan Surakarta juga berbeda. (Kratonjogja)

Mengutip dari Adjar (21/3), Kraton Yogyakarta identik dengan bangunan Jawa dan Hindu Klasik dengan banyak ornamen-ornamen Jawa yang kental di sana. Sementara di Kraton Surakarta cenderung bernuansa putih-biru dengan desain arsitektur campuran Jawa-Eropa.

Cara berpakaiannya keduanya pun berbeda, lo. Kalau kamu cermat, beskap dan surjen yang dikenakan para abdi dalem di Kraton Yogyakarta lebih bermotif daripada Kraton Surakarta yang lebih polos.

Nggak hanya itu, atribut yang dikenakan juga berbeda, Millens. blangkon yang dikenakan di Kraton Yogyakarta terdapat benjolan atau mendolan di bagian belakang untuk tempat gulungan rambut. Sebaliknya, blangkon Kraton Surakarta nggak punya benjolan itu.

Keris yang digunakan keduanya pun berbeda. Keris di Kraton Yogyakarta memiliki pangkal yang cenderung lebih tumpul, sedangkan pangkal keris dari Kraton Surakarta lebih lancip.

Sekarang kamu sudah tahu perbedaan dari dua kerajaan yang sampai sekarang masih ada di Pulau Jawa ini, kan? Jangan sampai salah membedakan, ya! (Fatkha Karinda Putri/E10)

Tags:

ARTIKEL TERKAIT

Sisi Positif Mitos Genderuwo; Cara Leluhur Jaga Pohon Raksasa Biar Sumber Air Tetap Awet

20 Apr 2026

Sumanto Dorong Desa Gempolan Jadi 'Surga' Durian: Jangan Cuma Tanam, Harus Inovasi!

20 Apr 2026

Jung Jawa, Jejak Kapal Raksasa Penguasa Laut Nusantara

21 Apr 2026

Spot Favorit Bali, Wajib Masuk Daftar Itinerary Liburan Keluarga

22 Apr 2026

Pilihan Penginapan Nyaman di Bandung untuk Liburan Singkat yang Maksimal

22 Apr 2026

Pendaftaran Beasiswa OSC 2026 Dibuka, Sediakan 140 Beasiswa S1

22 Apr 2026

7 Pemikiran Kartini yang Masih Relevan Sampai Saat Ini

23 Apr 2026

Adon-Adon Coro: Minuman Hangat Khas Jepara Favorit Kartini

23 Apr 2026

Kini Jadi Ancaman, Plastik Ternyata Pernah Jadi Solusi Menyelamatkan Bumi

24 Apr 2026

Sosialisasi Mitigasi Gunung Slamet, Pemprov Jateng Tekankan Keselamatan Warga

24 Apr 2026

Kasus Daycare Jogja: Tentang Kepercayaan, Pengasuhan, dan Sistem yang Belum Utuh

27 Apr 2026

Gunung Ungaran: Jejak Tiga Generasi yang Tumbuh dari Runtuhan

28 Apr 2026

Saat Video Kekerasan Anak Viral, Apa yang Seharusnya Kita Lakukan?

28 Apr 2026

Ilmu Tebang Bambu Leluhur, Tradisi Canggih yang Terbukti oleh Sains

30 Apr 2026

Belajar dari Burung Dodo: Ketika Dunia Berubah, Bertahan Saja Tidak Cukup

1 Mei 2026

Lima Kasus HAM yang Pernah Terjadi di Indonesia, Ada yang Belum Selesai!

10 Des 2019

Sebelum Menikah, Coba deh Hitung Wetonmu dan Pasangan, Cocok Nggak?

24 Jun 2020

Terkuak, Ini Penyebab Mitos Orang Jawa dan Sunda Nggak Boleh Menikah

28 Jun 2020

Cek Daftar Kata Ini Sebelum Beli Baju di Online Shop

30 Mei 2018

Macan Akar a.k.a Kucing Hutan kok Dipiara

7 Des 2017

Inibaru Media adalah perusahaan digital yang fokus memopulerkan potensi kekayaan lokal dan pop culture di Indonesia, khususnya Jawa Tengah. Menyajikan warna-warni Indonesia baru untuk generasi millenial.

A Group Member of

Ikuti kamu di: